Diposting Jumat, 4 Maret 2011 jam 12:44 pm oleh Evy Siscawati

Citra Sang Profesor

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 4 Maret 2011 -


Tampak ada yang salah dalam pandangan awam mengenai seperti apa profesor sesungguhnya. Terlepas dari tekanan ekonomi untuk menjangkau sebanyak mungkin penonton, dan berarti banyak sekali orang yang berpikir seperti itu, televisi seharusnya membetulkan persepsi awam mengenai seperti apa profesor itu sesungguhnya.
Profesor bukanlah tanda kejeniusan.
Profesor adalah jabatan. Definisi profesor menurut Undang Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah : jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. Syarat menjadi profesor adalah memiliki kualifikasi akademis doktor. Wewenangnya membimbing doktor. Kewajibannya khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat (kurang lebih seperti kami di faktailmiah, hehe). Lihat. Itu saja yang diatur Undang Undang. Memang sih ada menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat di situ, tapi gak harus jenius habis. Ada klasifikasi profesor khusus yang berkemampuan demikian, namanya profesor paripurna. Kalau semata profesor, ya nggak mesti lah. Singkatnya gini, profesor itu guru yang sudah sangat tinggi ilmunya, bukan keahlian mengajar ya, tapi ilmunya.
Profesor itu umurnya di atas 30.
Lihat syarat di atas, profesor harus berkualifikasi doktor. Ini artinya ia harus menempuh pendidikan : SD, SMP, SMA, Sarjana, Master, Doktor baru kemudian Profesor. Kamu tamat SMA umur 17, kuliah sarjana selesai 22, kuliah master selesai 26, kuliah doktor selesai 30. Itu sudah hitungan minimal yah, jadi masa kuliah per strata hanya lima tahunan, teman gue 7 tahun belum selesai-selesai sarjananya. Kira-kira minimal umur tiga puluhan lah. Belum lagi urusan beranak, jadi wanita karir, mengajar. Ya nggak bisalah umurnya awal 20an, keren (walau gak pake kacamata), dan gaul.

Mana-mana profesornya? WoOoOw.

Kacamata bukan tanda orang yang tahu banyak hal
Ayo lah. Banyak penyebab orang pake kacamata. Sakit mata, membaca terlalu dekat, radiasi berlebih, tidak menggunakan perangkat keamanan mata waktu di lab, mengelas tanpa alat pelindung wajah, mengintip lubang paku, dsb. Memang banyak ilmuan peraih nobel yang memakai kacamata, tapi yang seperti itu umumnya karena di masa lalu perangkat keamanan masih minim untuk percobaan ilmiah. Televisi radiasinya masih kuat, kebocoran radiasi hanya ditempel dengan koyok cap labu, dsb. Tapi emang sih, cewek kalau pake kacamata kelihatan pintar. Makanya gue pakai kacamata. Hehe.
Profesor sains tidak kemana-mana memakai baju lab.
Itu namanya profesor yang hanya punya satu pakaian atau paling nggak, banyak pakaian tapi semuanya baju lab. Baju lab mah fungsinya untuk digunakan di lab, bukan di kebun teh, di tempat pemotongan kayu atau di tempat peluncuran roket. Ada alasan mengapa warnanya putih.
Profesor tidak bekerja sendiri.
Seratus atau dua ratus tahun lalu dunia akrab dengan nama-nama besar seperti Thomas Alva Edison, Michael Faraday, Albert Einstein, James Clerk Maxwell, Charles Darwin dsb. Mereka terkenal karena muncul sendirian. Tapi zaman telah berubah. Kemajuan ilmu pengetahuan lebih pesat dari kemajuan kecerdasan individu manusia. Sekarang penemuan-penemuan besar hampir semuanya ditemukan oleh kelompok. Satu profesor ilmu bahan, satu profesor kimia, satu profesor biologi, semua bekerja sama. Lihat saja referensi-referensi ilmiah di faktailmiah.com, penemuan-penemuan dalam jurnal-jurnal hampir semuanya dibuat oleh beberapa orang ilmuan. Ada yang bahkan ampe 50 orang lebih. Dan ini membawa pada miskonsepsi lain dalam pemahaman awam tentang profesor.

Coba itung. Ichi loro telu papat ....

Profesor bukan orang yang tahu segalanya.
Lihat di film, ingin tahu tentang evolusi, tanya profesor astronomi. Ingin tahu fisika, tanya profesor kimia. Walaupun sama-sama profesor, tapi bidangnya tetap beda. Bertanya astronomi pada profesor biologi kecil kemungkinan kalau dia paham. Hal ini karena spesialisasi puluhan tahun yang ada pada diri seorang profesor. Ia telah menggali sangat dalam. Bayangkan seperti ini, profesor itu ibarat penggali sumur. Semakin dalam ia menggali semakin jauh ia dari kolam lainnya. Ia tidak tahu isi kolam yang digali temannya di sebelah. Tapi seorang yang berdiri di atas, (yaitu seperti kami, penulis faktailmiah, hehe) bisa menjenguk ke dalam kolam manapun yang ia inginkan. Sang penggali dengan baik hati mau berbagi ceritanya lewat jurnal ilmiah.
Profesor sains beda dengan profesor ilmu sosial.
Bukannya merendahkan ilmu sosial, hanya saja kita ingin bikin perbandingan gitu. Profesor sains lebih pakar dari pada profesor sosial. Hal ini bukan karena profesor sains lebih pintar, tapi karena sains lebih mudah. Dalam sains, paradigma positivisme kokoh berdiri. Gini loh, batu itu selamanya batu. Saat anda bawa ke lab, dia tidak akan menangis, stress, menolak wawancara, mengisi kuesioner dengan bohong, dsb. Batu dapat dengan mudah dimanipulasi sekehendak peneliti. Objek sosial beda. Profesor ilmu sosial berhadapan dengan manusia, dan namanya manusia, itu susah sekali diatur. Dalam kondisi ini, paradigma positivisme tidak berlaku (kecuali dalam psikologi eksperimental). Biar keren diberi nama paradigma post positivisme (pasca positivisme). Padahal sepertinya lebih mirip pra positivisme deh. Post positivisme melihat segalanya berhubungan. Peneliti walaubagaimanapun akan mempengaruhi partisipan. Karenanya susah bagi profesor sosial untuk membuat prediksi. Terlalu banyak variabel, terlalu sulit bagi seorang profesor ilmu sosial untuk mengatasinya (apalagi profesor sains). Langkah yang umum diambil untuk mengatasi rasa pusing ini adalah, uh, memakai metode kuantitatif.

Bheenarkaaah?

Yah, metode kuantitatif adalah jebakan besar ilmu sosial. Saat menerapkan metode kuantitatif, ilmu sosial menyederhanakan variabel yang ratusan menjadi hanya beberapa variabel dan menyebabkan teori yang terbangun kehilangan kekuatan prediktif. Lihat saja sosiologi atau ekonomi. Berapa banyak teori tentang kecerdasan, tentang belajar, tentang politik, dsb. Sekarang lihat ilmu alam. Teori atom, hanya ada satu, dulu ada dua, sekarang satunya sudah runtuh. Teori evolusi? Gak ada saingannya. Teori ingsutan benua? Tak terkalahkan. Sains mampu menghancurkan teori lama, tapi ilmu sosial tidak. Sayang disayang, bahkan pendidikan juga memandang sains seperti ilmu sosial. Lihat saja buku paket SMA tentang alam semesta, teori keadaan tetap masih diajarkan seolah itu sebanding dengan teori big bang. Teori bintang kembar masih diajarkan seolah itu sebanding dengan teori nebula.
Terlalu banyaknya teori dalam ilmu sosial juga menambah pada kebingungan memprediksi. Profesor sains mudah saja bilang kalau gas di dalam ruangan ini kalau dibiarkan lama-lama akan meledak. Profesor sosial tidak dapat bilang kalau ekonomi negara ini dibiarkan seperti ini, maka lama-lama orang kampung hanya makan beras tumbuk. Tidak bisa. Dunia ini penuh begitu banyak variabel. Coba deh, ada gak profesor sosial yang mampu meramalkan bom bali kemarin? Tidak. Sekarang coba, ada gak profesor sains yang bisa meramalkan terjadinya gerhana matahari. Banyak. Profesor Philip E Tetlock dari Universitas California di Berkeley pernah melaporkan tahun 2005 dalam buku Expert Political Judgement tentang penelitiannya. Dalam studinya, beliau menguji 284 pakar dalam bidang ilmu politik, ekonomi, sejarah dan jurnalistik. Mereka diminta membuat prediksi masa depan berdasarkan pengetahuannya. Apa kesimpulan sang profesor? Mereka meramalkan sama hebatnya dengan simpanse yang melempar dart. Asal.

Lagi Latihan

Orang yang benar-benar tahu tidak mesti profesor
Faktor signifikan dalam keberhasilan prediksi ilmiah adalah gaya kognitif seseorang. Seperti dijelaskan dalam analogi kolam tadi, orang yang hanya berdiri di tepi kolam dan melihat para penggali kolam dan bertanya ada apa gerangan disana, kalau disini gimana, terus gimana kalau disono, mencerminkan gaya kognitif divergen. Para pakar memiliki gaya kognitif konvergen. Beda antara konvergen dan divergen itu seperti ya itu tadi, cerita bikin kolam. Konvergen kalau diistilahkan bahasa kita : berpengetahuan dalam. Kalau divergen: berpengetahuan luas. Orang divergen tahu sedikit dalam satu bidang tapi banyak tahu di berbagai bidang. Orang konvergen tahu banyak tentang satu bidang tapi sedikit tahu di bidang lainnya.
Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk pertanyaan yang sangat spesifik, seperti: apa rumus untuk menghitung jumlah bubuk kopi berdasarkan sifat termodinamika dan hidrodinamika dalam kopi susu dengan proporsi sekian-sekian (fisika)? Orang konvergen sih bisa coret-coret sebentar, tapi orang divergen bahkan gak tau mau mencoret apa (mungkin pennya digigit dengan hidung). Sebaliknya, ketika pertanyaannya multi disiplin, misalnya : bagaimana perilaku simpanse yang tinggal di Pulau Bulu Naga bila berada dalam cuaca panas dimana kadar oksigen sesuai dengan kondisi bumi rata-rata (biologi + geografi + fisika + kimia). Orang divergen mungkin langsung mendemonstrasikannya, orang konvergen kebingungan. See, ada untung dan ada ruginya.
Btw, sharing pengalaman aja. Waktu ngajar les anak-anak SMA persiapan UAN dulu, murid gue pernah heran: mbak koq tahu semua mata pelajaran? Padahal mbak kan guru? Aduh biyung. Apa implikasi pertanyaan ini coba? Ini artinya siswa di SMA menyadari kalau mereka divergen dan gurunya konvergen. Mengapa tidak. Siswa SMA belajar banyak mata pelajaran, gurunya hanya satu saja, guru bahasa Inggris, ya tahunya bahasa Inggris. Guru biologi ya tahunya hanya biologi. Anak SMA, tahu biologi, tahu bahasa Inggris. Keren kan? (mentang-mentang gue divergen, hehe)

Jadi gimana ya, ya gitu deh. Tolonglah televisi Indonesia ikut mencerdaskan anak bangsa. Jangan sampe ntar tua malah jadi egois dan pengen jadi pintar sendirian. Catetan: ngasih contekan bukan berarti tidak egois, tapi melanggar peraturan yang sudah disepakati bersama.

Referensi

  1. Ika Karlina Idris. 2007. Membuat Gampang jadi Profesor. Jurnal Nasional.
  2. Shermer, M. 2011. Financial Flimflam: Why Economic Experts’ Predictions Fail. Scientific American, March 2011, p. 77
  3. Tetlock, P.E. 2005. Expert Political Judgment.
  4. Undang Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.