Diposting Kamis, 3 Maret 2011 jam 8:29 pm oleh Evy Siscawati

Trik Penjualan lewat Harga X99

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 3 Maret 2011 -


Karena orang pemasaran paham mengenai hukum Benford. Manusia pada umumnya tidak terlalu paham dengan pembulatan. Lihat aja waktu kamu sekolah, berapa banyak yang pintar matematika. Jadi berapa pembulatan dari 499? Secara psikologis orang akan langsung mengira 499 lebih dekat ke 400, bukannya 500. Jadi murah atau mahal? Murah. Padahal bedanya hanya 1 rupiah dari 500.
Dalam salah satu percobaan paling terkenal dalam pemasaran, profesor Robert Schindler dan rekan-rekannya melakukan pengujian dengan katalog pakaian wanita. Ada tiga jenis katalog, katalog dengan harga berakhiran 88, katalog berakhiran 99 dan katalog berakhiran 00. Jadi baju misalnya, di katalog A berharga 488, di katalog B berharga 499 dan di katalog C berharga 500.
Dalam penelitian ini, terlibat 90 ribu orang. Bayangkan! Mereka dibagi tiga kelompok. Masing-masing kebagian satu katalog saja dan tidak sadar kalau ada tiga katalog.

Harganya 299 saja

Ternyata orang paling banyak membeli berdasarkan katalog yang berkahiran 99. Ada peningkatan penjualan 8 persen dibandingkan katalog berakhiran 00, padahal penurunan harga hanya tiga perseratus persen (0.03%).
Tidak peduli berapapun angka pertama, sejauh dia bukan 9 atau 0 dan bila di ikuti oleh 99, maka orang mengira bahwa angka pertama lebih dekat daripada seharusnya.
199 dibulatkan jadi 100
299 dibulatkan jadi 200
399 dibulatkan jadi 300
499 dibulatkan jadi 400
Dst
Tapi
999, umm, masak sih jadi 900, ini kalau dibulatkan 1000
Hukum Benford menyatakan bahwa 9 adalah angka paling sulit ditemukan di awal, sehingga manusia secara evolusioner tidak terlalu akrab dengannya. 9 terlalu banyak. Ambil gampangnya, angka pertama.

Cuma hanya cukup only

Eh, mbak, ada obral murah, harganya hanya 399.000. kemaren harganya 400 ribu loh. beli yuk.

Referensi Artikel

http://www.post-gazette.com/pg/06351/746545-28.stm

Referensi ilmiah
Rajneesh Suri and Rolph E. Anderson. The use of 9-ending prices:contrasting the USA with Poland. European Journal of Marketing Vol. 38 No. 1/2, 2004 pp. 56-72
Schindler, R.M. and T.M. Kibarian (1996), “Increased Consumer Sales Response Through Use of 99-Ending Prices,” Journal of Retailing, 72 (Summer), 187-199.
Thomas, Manoj and Vicki G. Morwitz (2005), “Penny Wise and Pound Foolish: The Left Digit Effect in Price Cognition,” Journal of Consumer Research, 22 (June), 54-64.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.