Diposting Rabu, 2 Maret 2011 jam 9:55 pm oleh Gun HS

Efek Pasang Surut Mengubah Konsep ‘Zona Layak Huni’ Exoplanet

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 2 Maret 2011 -


Pasang surut yang dapat menyebabkan “zona layak huni” di seputar bintang bermassa rendah ternyata tidaklah layak huni. Inilah hasil utama dari studi terbaru yang dipublikasikan sebuah tim astronom yang dipimpin oleh René Heller dari Astrophysical Institute Potsdam (AIP).

Planet-planet ekstrasolar, atau exoplanet, telah diketahui berada di luar tata surya kita sejak tahun 1995. Saat mencari kehidupan di luar angkasa, para ilmuwan berfokus pada exoplanet yang terletak di zona layak huni. Ini artinya mereka mengorbiti matahari pada jarak di mana suhu di permukaan planet memungkinkan keberadaan zat cair. Air diyakini menjadi unsur penting bagi kehidupan. Hingga saat ini, dua penggerak utama pemikiran dalam menentukan suhu planet adalah jarak ke pusat bintang dan komposisi atmosfer planet. Dengan mempelajari pasang surut yang disebabkan oleh bintang bermassa rendah pada planet-planet yang berpotensi mirip dengan Bumi, Heller beserta rekan-rekannya menyimpulkan bahwa efek pasang surut tersebut mengubah konsep tradisional tentang zona layak huni.

Heller menyimpulkan hal ini dari tiga efek yang berbeda. Pertama, pasang surut dapat menyebabkan sumbu rotasi planet menjadi tegak lurus terhadap orbitnya hanya dalam beberapa juta tahun. Sebagai perbandingan, sumbu rotasi Bumi cenderung sebesar 23,5 derajat – efek inilah yang menyebabkan adanya musim. Karena efek ini, maka tidak akan ada variasi musim pada planet mirip Bumi dalam zona layak huni bintang bermassa rendah. Planet-planet ini akan memiliki perbedaan suhu yang besar di antara kutubnya, yang akan berada di suhu yang sangat dingin secara terus-menerus, dan equator panas mereka yang dalam jangka panjang akan menguap membentuk atmosfer. Perbedaan suhu ini akan menyebabkan terjadinya angin dan badai yang ekstrim.

Pengaruh kedua pasang surut ini akan memanaskan planet, mirip dengan pemanasan pasang surut pada Io, bulan Jupiter yang menunjukkan vulcanisme global.

Pada akhirnya, pasang surut dapat menyebabkan periode rotasi (“hari” planet) untuk melakukan sinkronisasi dengan periode orbit (“tahun” planet). Situasi ini identik dengan setingan Bumi-bulan: bulan hanya menampilkan satu sisi pada Bumi, sisi lainnya dikenal sebagai “sisi gelap bulan”. Dengan demikian, separuh exoplanet menerima radiasi ekstrim dari bintang sedangkan separuh lainnya membeku dalam kegelapan kekal.

Zona layak huni di seputar bintang bermassa rendah dengan demikian sangat tidak nyaman – bahkan mungkin tidak layak huni. Dari sudut pandang seorang pengamat, bintang bermassa rendah sejauh ini telah menjadi kandidat yang paling menjanjikan untuk exoplanet layak huni. Kini, berkat temuan Heller, exoplanet mirip Bumi yang telah ditemukan di zona layak huni bintang bermassa rendah, harus dikaji ulang dengan mempertimbangkan efek pasang surutnya.

Heller beserta rekan-rekannya telah menerapkan teori mereka terhadap GI581g: kandidat exoplanet yang baru-baru ini diklaim layak huni. Mereka menemukan bahwa GI581g seharusnya tidak mengalami musim apapun dan harinya disinkronkan dengan tahunnya. Tidak mungkin akan ada air di permukaan planetnya, dan ini menunjukkan bahwa planet tersebut itu tidak layak huni.

Heller mengatakan, “Saya rasa kemungkinan untuk kehidupan yang ada pada exoplanet di zona layak huni tradisional di seputar bintang bermassa rendah cukup suram ketika mempertimbangkan efek pasang surutnya. Jika Anda ingin menemukan Bumi kedua, tampaknya Anda perlu mencari Matahari kedua.”

Sumber artikel: New Conditions for Life on Other Planets: Tidal Effects Change ‘Habitable Zone’ Concept (aip.de – PDF)
Kredit:
Astrophysikalisches Institut Potsdam
Informasi lebih lanjut (Jurnal): R. Heller, J. Leconte, R. Barnes. Tidal obliquity evolution of potentially habitable planets. Astronomy & Astrophysics, 2011; 528: A27 DOI: 10.1051/0004-6361/201015809

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.