Diposting Minggu, 27 Februari 2011 jam 4:11 am oleh Evy Siscawati

Kenapa orang cuek

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 27 Februari 2011 -


Kalau kamu penggemar realiti syow, kamu mungkin pernah nonton acara yang menunjukkan bagaimana orang miskin minta tolong atau orang yang lagi kesulitan dan membutuhkan bantuan, tapi orang-orang disekitarnya gak mau bantu. Semua pada cuek. Katanya Indonesia orangnya ramah-ramah. Mana?
Tenang, itu alami. Semua orang yang hidup di kota besar di dunia seperti itu. Termasuk kamu. Saat ada orang kesulitan, sangat kecil kemungkinan kamu menolongnya. Dalam pikiranmu, orang lain saja yang menolong. Betapa jahatnya kamu. Jadi, semua orang di kota besar jahat, kecuali segelintir saja orang yang baik hati, rajin menabung dan baik budi pekerti.
Taukah kamu sebenarnya tindakan kamu untuk tidak menolong orang tersebut sebenarnya ujud dari kebaikan hatimu. Serius nih. Bukan karena kamu jahat. Kamu takut untuk membuat orang itu tersinggung. Bener kan? Jadi, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri saat orang itu mati ketiban truk kontainer gara-gara kamu gak mau bantuin dia mencabut tutup botol.

Cuek Bebek

Dalam psikologi, itu namanya efek bystander. Itu adalah fenomena dimana orang-orang yang ada dalam kerumunan mengabaikan orang lain yang sedang dalam bahaya karena dia berpikir orang itu akan dibantu oleh orang lain. Efek ini hanya terjadi di kota besar, dimana terdapat kerumunan orang yang ramai. Di kampung, orang jarang berkerumun, dan kalau kamu ada masalah, orang yang ada didekatmu bakal membantu. Dia gak berpikir kalau kamu ntar tersinggung.
Dua psikolog, John Darley dan Bibb Latane memperkenalkan efek bystander pertama kali. Mereka mengajak partisipan untuk ikut serta dalam sebuah diskusi. Mereka mengatakan karena diskusinya akan sangat pribadi (mungkin bertanya seberapa besar ukuran anumu atau itumu), tiap partisipan akan dipisahkan dalam ruangan-ruangan berbeda dan berdiskusi lewat interkom.
Saat mereka ngobrol, salah satu partisipan diminta untuk pura-pura kena serangan ayan, yang suaranya terdengar oleh partisipan lainnya. Hasilnya?
Ketika partisipan percaya kalau dia satu-satunya orang lain yang ada dalam diskusi tersebut, 85 persen akan menjadi pahlawan yang segera lari mencari pertolongan dan membantunya. Tapi, begitu partisipan sadar kalau dia bukan satu-satunya orang yang ada dalam diskusi, hanya 31 persen yang mencari pertolongan. Sisanya, yah, biarkan orang lain saja melakukannya.

Tega nian dirimu orang kota. Hiks :(

Kenapa efek bystander bisa terjadi? Karena kita overdosis. Orang di kota besar itu mengalami urban overload. Kelebihan informasi. Di kota besar begitu banyak informasi sehingga kita harus menyaring mana yang penting dan mana yang tidak. Tampaknya, nenek-nenek dalam reality show minta tolong itu bukanlah hal yang penting. Lebih penting bagi kita untuk menunggu jemputan pacar.
Tingkat kepentingan ini bisa direkayasa loh. Ada faktor lain. Dalam sebuah percobaan, seorang ilmuan jalan membawa barang yang banyak banget. Barang ini berceceran saat ia berjalan. Efek bystander terjadi. Tapi ada faktor lain, yaitu suara. Pada lingkungan dengan suara bising, efek bystander sangat kuat. Pada suara yang sunyi, orang yang menolong lima kali lebih banyak dari lingkungan yang bising. Mungkin, orang tuli adalah orang terbaik di kota.
Eh, ingatkan tadi dikatakan motivasi di balik kenapa kamu tidak membantu orang yang sedang kesusahan. Ada hal yang lebih penting, kalau pun hal itu gak penting, kamu merasa orang lain bisa menolongnya, dan alasan lainnya, kamu takut menyinggung orang itu. Benar. Pernah kejadian saya justru dimarahi gara-gara membantu nenek-nenek naik ke bis di terminal.
Di kota besar seperti itu. Salah satu alasan kamu tidak membantu orang lain adalah karena kamu sopan. Kamu takut orang itu tersinggung karena tidak dapat hidup mandiri di kota besar. Bahkan pada saat masalahnya hanya pembicaraan, seperti di dalam lift dari tingkat 1 ke tingkat 100, kamu tidak mau menyapa orang di samping mu. Karena takut mengganggu waktunya yang berharga untuk mikir, atau apalah. Kamu bukan cuek, dan orang tadi juga gak cuek sama kamu. Kalian sudah cukup saling tahu dengan melihat sebentar. Sedikit senyum. Itu sudah cukup. Terlalu banyak ngomong, sampai minta nomer hape, itu tidak sopan bagi orang kota. Dalam psikologi, ini namanya “civil innattention”, ketidakpedulian beradab. Kamu tidak peduli secara fisik karena kamu peduli secara mental dengan orang tersebut. Lagian siapapun bakal marah kalau kamu melototin orang di samping kamu terus menerus untuk menunjukkan kepedulian.

Referensi

  1. Latane, B., & Darley, J. 1969. Bystander “Apathy”, American Scientist, 1969, 57, 244-268
  2. Loo, C.M. 1974. Crowding and Behavior. Ardent Media.’
  3. Manning, P. 1992. Erving Goffman and Modern Sociology. Stanford University Press
  4. Sanderson, C.A. 2009. Social Psychology. John Wiley and Sons
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.