Diposting Kamis, 24 Februari 2011 jam 7:46 am oleh Evy Siscawati

Kenapa Teman yang Menelpon Bikin Kesal

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 24 Februari 2011 -


Anda sedang mengerjakan tugas kuliah dengan laptop. Tiga orang teman anda duduk tidak jauh dari anda. Dua orang sedang mengobrol tentang acara ngerjain anak baru kemarin. Satu orang lagi sedang menerima telpon dari pacarnya dan suaranya tidak terlalu nyaring dibanding kedua teman lainnya. “Halo sayang”, “Oh. Kamu ngapain nelpon jam segini, kan mahal,”,”Ya ampun, udah berapa lama?”,”Coba hubungi pak Surip, dia biasanya tahu kalau masalah gini,” “ya kalau gitu ke rumahnya aja,” “Iya ,””Iya, iya, besok jam 1,” “Daah sayang”. Anda menarik napas lega ketika dia menutup hape. Tak berapa lama ada lagi telpon dari orang lain, dan bla bla bla, anda semakin kesal, tugas kuliah anda tidak selesai-selesai.
Ada masalah apa disini? Kenapa anda merasa kesal? Dan kenapa anda merasa kesal pada teman anda yang sedang menelpon, bukan pada teman anda yang sedang ngobrol, padahal teman anda yang sedang ngobrol lebih nyaring dan lebih rame. Mari kita lihat eksperimen lainnya.
Lauren Emberson, mahasiswi doktoral Universitas Cornell melakukan eksperimen dengan dua pasang teman satu kamar kos cewek yang sedang bertelepon. Ia merekam percakapan kedua temannya dalam bentuk dialog dan halfalog (seperti contoh di atas). Dalam halfalog, hanya satu orang yang direkam, sehingga kondisinya mirip dengan saat kamu mendengar temanmu menelpon tadi. Lalu ia memutar rekaman versi dialog dan halfalog pada partisipan yang sedang bekerja melakukan tugas konsentrasi tinggi seperti melacak jalannya titik di layar komputer dengan mouse. Eksperimen ini menunjukkan tepat seperti yang anda alami. Partisipan yang mendengarkan halfalog menjadi kesulitan dan kinerjanya buruk sementara yang mendengarkan dialog tetap berkinerja baik.
Percobaan lain dilakukan oleh Andrew Monks dan kawan-kawan dengan melibatkan 60 orang yang sedang menunggu bus atau berada di dalam kereta api. Saat mereka menunggu, tiga orang didekatnya melakukan tepat seperti dalam ilustrasi kita. Dua orang berbicara tatap muka, sementara satu berbicara lewat ponsel. Volume percakapan di kontrol lewat nada suara. Setelah itu orang yang sedang menunggu tersebut diminta mengisi kuesioner enam skala Likert. Analisa statistik menunjukkan bahwa percakapan lewat ponsel jauh lebih mengganggu dan mudah didengar daripada percakapan tatap muka, walaupun percakapan tersebut volumenya sama.

Sialan ni cewek, nelpon terus, padahal gue lagi mau tidur

Biarpun mata gue terpejam, tapi telinga gue mendengar.

Penjelasan dari pada ilmuan ini adalah ini tidak ada hubungannya dengan anak baru atau pacaran. Ini berhubungan dengan otak anda. Adalah fakta ilmiah bahwa otak manusia saat berhadapan dengan separuh percakapan, akan mengalami peralihan perhatian. Otak menyukai hal-hal yang terprediksi. Percakapan satu arah yang terdengar saat teman anda menelpon membuat otak berpikir keras dan menebak apa yang sedang dibicarakan oleh pacarnya di ujung telpon sana. Berbeda dengan pembicaraan teman anda yang dua orang, kita tahu si A bilang sesuatu lalu si B membalas dengan ucapan yang juga kita dengar. Otak tidak terlalu teralihkan.
Itu mengapa kalau kita melihat orang yang menelpon di sinetron melakukan percakapan yang tidak wajar. “Halo Ibu, ada apa?”,”Apa, ayah kecelakaan! Kapan?”,”dari tadi pagi? Sudah kedokter?”,”Belum kedokter! Kenapa belum kedokter?”,”Oh, tidak ada uang.” Bla bla bla. Anda tahu kenapa percakapan di atas aneh? Karena di dunia nyata kita jarang mengulang apa yang diucapkan lawan bicara kita di telpon. Percakapan yang realistis adalah “Halo Ibu, ada apa?”,”Kapan?”, “Sudah ke dokter?” dst. Tapi percakapan realistis ini mengganggu kita. Pembuat film tahu sehingga mereka menunjukkan adegan bertelepon seolah orang yang menelpon tersebut budek. Lebih baik dikira budek daripada brengsek.
Saat ini ada 4.6 miliar pengguna telpon genggam di dunia. Anda termasuk salah satunya, begitu juga teman-teman anda. Lalu bagaimana cara mengatasi gangguan yang muncul ketika teman anda menelpon? Gunakan headset dan putarlah lagu, jangan memutar rekaman suara halfalog. Setidaknya lagu Hands Held High bukanlah percakapan satu arah.
Referensi

  1. Emberson, L.L., Lupyan, G., Goldstein, M.H., Spivey, M.J. 2010. Overheard Cell-Phone Conversations When Less Speech is More Distracting. Psychological Science, September 3, 2010.
  2. Lang, S. Overhearing Cell Phone Chats Reduces Cognition Performance, Study Finds. Cornell Chronicle, May 24, 2010.
  3. Monk, A., Carroll, J., Parker, S., Blythe, M. 2004. Why Are Mobile Phones Annoying? Journal Behaviour and Information Technology. Vol. 23, Issue 1, January-February 2004.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.