Diposting Kamis, 10 Februari 2011 jam 10:15 pm oleh Dianna Firefly

Memberantas Demam Berdarah dengan Lebih Banyak Nyamuk Demam Berdarah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 10 Februari 2011 -


Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah umumnya ditandai oleh demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit di belakang mata, otot dan sendi, hilangnya napsu makan, mual-mual dan ruam. Gejala pada anak-anak dapat berupa demam ringan yang disertai ruam.

Aedes aegypti ditemukan pertama kali oleh Linnaeus di Mesir pada tahun 1762. Nyamuk ini bersifat kosmopolita yang tersebar di daerah beriklim tropis dan subtropis. Nyamuk ditemukan di daerah sampai ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Di Indonesia, Aedes aegypti pertama kali ditemukan di Makasar pada tahun 1860 dan diketahui sudah tersebar merata di seluruh Indonesia tahun 1954. Aedes aegypti termasuk serangga yang mengalami metamofosa sempurna, yaitu mulai dari telur, larva, pupa sampai dewasa. Aedes aegypti meletakkan telurnya pada air tenang dan lebih menyukai air yang bersih. Sekali bertelur nyamuk betina akan mengeluarkan 100-200 butir yang akan mengapung di atas permukaa air. Pada suhu 30 derajat Celsius, telur akan menetas setelah 1-3 hari dan pada suhu 16 derajat Celsius akan menetas dalam waktu 7 hari. Setelah menetas, akan berubah menjadi larva yang dapat dilihat jelas dengan mata karena mengantung di permukaan air. Setelah 9 – 10 hari pada fase larva, selanjutnya akan memasuki fase pupa selama 2 – 3 hari. Baru setelah itu menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk betina usianya lebih panjang dibandingkan nyamuk jantan. Nyamuk betina bisa mencapai usia 1 bulan, sedangkan yang jantan hanya berusia satu minggu. Serangga ini aktif pada siang hari karena dipengaruhi oleh alat indera yang dimiliki. Dari beberapa kajian diketahui puncak aktifnya nyamuk ini sekitar pukul 08.00 sampai 13.00 dan antara pukul 15.00 sampai 17.00. Di luar waktu tersebut, Aedes aegypti memanfaatkan untuk berisitrahat.

Pemerintah Malaysia punya cara tersendiri untuk mengatasi demam berdarah di negaranya. Cara yang tergolong unik ini memanfaatkan ilmu rekayasa genetika. Sebagaimana dilansir oleh jurnal ilmiah Science tanggal 4 Februari 2011, Institut Riset Medis Malaysia bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Oxitec dari Inggris merekayasa genetika dari sejumlah nyamuk demam berdarah lalu melepaskan nyamuk tersebut ke alam liar.

Bagaimana mungkin?

Para ilmuan memodifikasi gen dari nyamuk Aedes aegepty jantan sehingga mereka tidak dapat memberikan anak atau hanya memberikan satu keturunan namun dengan umur lebih pendek.. Ya, mereka dimandulkan. Dengan cara ini, begitu nyamuk-nyamuk transgenik tersebut kawin mungkin nyamuk-nyamuk betina akan kesal karena mereka tidak dapat bertelur. Hal ini diharapkan dapat memakan waktu hidup sang betina yang singkat dan pada gilirannya membuat pertumbuhan populasi nyamuk demam berdarah menjadi menurun atau bahkan dapat terhenti. Nyamuk yang tersisa, yang sudah tua, dapat dihabisi dengan cara konvensional atau bahkan dibiarkan saja dan mati karena tua.

Nyamuk jantan mandul ini tidak banyak dilepaskan oleh pemerintah Malaysia yaitu hanya 6 ribu ekor pada tanggal 21 desember 2010 kemarin di Bentong, Malaysia. Jika anda tidak tahu Bentong, wajar, ia adalah sebuah desa terpencil di pedalaman negara bagian Pahang. Tapi seekor pejantan Aedes aegepty dapat kawin dengan banyak betina dalam masa hidupnya. Lagipula, ini bukan yang pertama. Penelitian serupa pernah dilakukan pada tahun 2009 dan 2010 di Pulau Cayman Karibia dengan melepaskan 3 juta nyamuk demam berdarah.

Sementara itu, langkah pengendalian dengan memanfaatkan teknologi rekayasa genetika ini mengundang kecaman dari beberapa para ahli dan pengamat lingkungan asal Malaysia. Mereka khawatir eksperimen ini di masa mendatang memunculkan konsekuensi tidak terduga, misalnya populasi nyamuk hasil mutasi yang tidak terkendali. Kritik lainnya, jika spesies nyamuk tersebut hilang dari ekosistem, akan menimbulkan kekosongan pada stabilitas ekosistem, sehingga kemungkinan posisi nyamuk akan diisi oleh serangga lainnya. Jika hal ini terjadi maka akan turut muncul penyakit baru.

Referensi :

  1. Situs web Pusat Perlindungan Kesehatan: www.chp.gov.hk
  2. http://scim.ag/gm-mosquito
  3. http://strenkali.org/
Dianna Firefly
I don't wanna explain who I am. Just a woman who has big dreams. I don't get to choose how i'm going to die, or When. But i can to decide how i'm going to live now. That's why i am Luminous ! Dianna Firefly
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.