Diposting Jumat, 7 Januari 2011 jam 7:58 am oleh Gun HS

Misteri Lama tentang Panas Atmosfer Bagian Luar Matahari Terpecahkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 7 Januari 2011 -


Salah satu misteri paling bertahan dalam fisika matahari adalah: mengapa atmosfer bagian luar matahari, atau korona, lebih panas jutaan derajat dari permukaannya.

Kini para ilmuwan yakin bahwa mereka telah menemukan sumber utama gas panas yang mengisi ulang korona: yaitu jet plasma yang melesat dari atas permukaan Matahari.

Temuan ini tertuju pada pertanyaan mendasar dalam astrofisika: bagaimana energi berpindah dari bagian dalam Matahari untuk menciptakan atmosfer bagian luar menjadi panas.

“Ini selalu menjadi teka-teki untuk mencari tahu mengapa atmosfer Matahari lebih panas dari permukaannya,” kata Scott McIntosh, seorang ahli fisika matahari di High Altitude Observatory dari Pusat Nasional Penelitian Atmosfer (NCAR) di Boulder, Colorado, yang terlibat dalam studi ini.

Jet material, yang disebut spikula, melompat ke atas dari permukaan Matahari pada kecepatan tinggi. (Kredit: NASA)

“Dengan mengidentifikasi bahwa jet memasukkan plasma panas ke atmosfer bagian luar matahari, kami bisa memperoleh pemahaman yang jauh lebih mendalam pada wilayah tersebut dan mungkin meningkatkan pengetahuan kita tentang pengaruh halus Matahari pada atmosfer bagian atas Bumi.”

Penelitian ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Science, dilakukan oleh para ilmuwan dari Lockheed Martin Solar dan Astrofisika Laboratorium (LMSAL), NCAR, dan Universitas Oslo. Didukung oleh NASA dan National Science Foundation (NSF), sponsor NCAR.

Jet plasma dari atas permukaan Matahari kemungkinan mengisi ulang koronanya. (Kredit: NASA)

“Pengamatan ini merupakan langkah penting dalam memahami temperatur pada korona matahari,” kata Rich Behnke dari Divisi Ilmu Atmosfer dan Geo-Antariksa NSF, yang mendanai penelitian.

“Mereka memberikan wawasan baru tentang output energi matahari dan bintang lainnya. Hasil studi ini juga merupakan contoh yang bagus dari kekuatan kolaborasi di antara ilmuwan-ilmuwan universitas, industri swasta dan pemerintah serta organisasi.”

Tim peneliti berfokus pada jet plasma yang dikenal sebagai spikula, merupakan semburan plasma yang didorong ke atas dari permukaan Matahari menuju atmosfir bagian luar.

Selama beberapa dekade para ilmuwan meyakini bahwa spikula mampu mengirim panas ke korona. Namun, setelah penelitian observasional pada 1980-an, ditemukan bahwa plasma spikula tidak mencapai temperatur koronal, dan teori ini sebagian besar dianggap gagal.

“Pemanasan spikula hingga jutaan derajat tidak pernah secara langsung terobservasi, sehingga peran mereka dalam pemanasan koronal diberhentikan sebagai hal yang tidak mungkin,” kata Bart De Pontieu, pemimpin peneliti dan seorang ahli fisika matahari di LMSAL.

Pada tahun 2007, De Pontieu, McIntosh, beserta rekan mereka mengidentifikasi kelas baru spikula yang bergerak lebih cepat dan hidup lebih pendek daripada spikula tradisional.

Spikula “tipe II” ini tertembak ke atas dengan kecepatan tinggi, seringkali dengan kecepatan lebih dari 100 kilometer per detik, sebelum akhirnya menghilang.

Atmosfer bagian luar Matahari, atau korona, lebih panas jutaan derajat dari permukaannya. (Kredit: NASA)

Hilangnya jet ini dengan cepat menunjukkan bahwa plasma mereka membawa panas, tapi bukti pengamatan langsung proses ini terlewatkan.

Para peneliti menggunakan observasi baru dari Atmospheric Imaging Assembly pada Dynamics Solar Observatory NASA, yang baru-baru ini diluncurkan, dan Focal Plane Package for the Solar Optical Telescope (SOT) NASA pada satelit Hinode Jepang untuk menguji hipotesis mereka.

“Resolusi spasial dan temporal tinggi dari instrumen-intrumen baru ini sangat penting dalam mengungkap pasokan massa koronal yang sebelumnya tersembunyi,” kata McIntosh.

“Pengamatan kami mengungkapkan, untuk pertama kalinya, hubungan satu-ke-satu antara plasma yang dipanaskan hingga  jutaan derajat, dan spikula yang memasukkannya ke dalam plasma korona.”

Temuan ini memberikan tantangan observasional dengan teori yang ada tentang pemanasan koronal.

Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mengusulkan berbagai model teoritis, namun kurangnya pengamatan rinci secara signifikan menghambat kemajuan.

“Salah satu tantangan terbesar kami adalah memahami apa yang mendorong dan memanaskan material dalam spikula,” kata De Pontieu.

Sebuah langkah kuncinya, menurut De Pontieu, akan lebih memahami wilayah antarmuka di antara permukaan Matahari yang terlihat, atau fotosfer, dan koronanya.

Misi lain NASA, Interface Region Imaging Spectrograph (IRIS), dijadwalkan akan diluncurkan pada tahun 2012 untuk menyediakan data akurasi tinggi pada proses yang kompleks dan kekontrasan yang besar pada kepadatan, suhu dan medan magnet di antara fotosfer dan korona. Peneliti berharap ini akan mengungkap lebih lanjut tentang pemanasan spikula dan mekanisme peluncurannya.

LMSAL merupakan bagian dari Lockheed Martin Space Systems Company, yang mendesain dan mengembangkan, menguji, memproduksi serta mengoperasikan spektrum penuh sistem teknologi-canggih untuk keamanan nasional dan militer, pemerintah sipil serta konstumer komersial.

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.