Diposting Minggu, 26 Desember 2010 jam 11:09 pm oleh Gun HS

6 Tahun Pasca Tsunami Aceh, Pengaturan Teknis Sistem Peringatan Dini telah Rampung

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 26 Desember 2010 -


Enam tahun setelah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, pengaturan untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami Jerman-Indonesia untuk Samudra Hindia (GITEWS) telah rampung dikerjakan. Proyek ini akan berakhir pada tanggal 31 Maret 2011. Setelah itu, Indonesia akan menerima tanggung jawab secara keseluruhan terhadap sistem ini.

“Pendekatan teknis yang inovatif dari GITEWS didasarkan pada kombinasi sensor yang berbeda, yang mana pusat elemennya merupakan sebuah deteksi dan analisa yang cepat dan tepat terhadap gempa bumi, didukung dengan pengukuran GPS,” kata Profesor Reinhard Hüttl, Direktur Ilmiah dari Pusat Riset Jerman untuk Ilmu Bumi GFZ. “Evaluasi Seismologi yang dikembangkan GFZ melalui sistem SeisComP3 terbukti sangat cepat dan handal, yang kini telah terpasang di lebih dari 40 negara.”

Sebuah peringatan tsunami terjadi tidak lebih dari lima menit setelah gempa bawah laut, berdasarkan semua informasi yang tersedia dari 300 stasiun yang dibangun di seluruh Indonesia dalam 6 tahun terakhir. Ini termasuk seismometer, stasiun GPS, pasang air laut dan sistem pelampung. Melalui sistem simulasi tsunami, informasi tersebut dikonversi ke dalam peta situasi yang menyediakan tingkat peringatan yang sesuai untuk garis pantai yang terkena dampak.  Bagaimanapun juga, hasil utama dari proyek GITEWS adalah sistem pelampungnya yang tidak memberi kontribusi terhadap proses yang terjadi dalam beberapa menit pertama. Dengan demikian, muncul pertimbangan untuk menggeser GITEWS pada pelampung, lebih jauh ke lautan lepas dan menggunakannya untuk memverifikasi tsunami lautan lepas yang bisa mengancam negara-negara lain yang berbatasan dengan Samudera Hindia.

Gempa Mentawai pada tanggal 25 Oktober tahun ini, bagaimanapun juga, telah menunjukkan batas-batas pada setiap peringatan tsunami. Tsunami yang disebabkan gempa bumi sangat berpengaruh terhadap kepulauan Pagai hulu di Selat Sunda. Gelombang pertama tiba pada waktu yang sama dengan terpicunya peringatan tsunami, yaitu 4 menit 46 detik setelah gempa, dan memakan korban sekitar 500 jiwa. Beberapa tim ahli tsunami dari Jepang, Indonesia, Jerman dan Amerika Serikat mencatat dalam analisis tindak lanjut bahwa peringatan itu telah tiba di kepulauan, namun tidak ada waktu untuk bereaksi. Bagi pulau utama Sumatera dengan kota-kota besar Padang dan Bengkulu, waktu antara peringatan dan kedatangan gelombang pertama berjarak sekitar 40 menit, namun dalam kasus ini Kepulauan Pagai bertindak sebagai perisai yang sempurna terhadap tsunami yang mencapai pantai Sumatera.

Kesimpulan pentingnya adalah, sekalipun dengan waktu pertanda yang sangat pendek di Indonesia, sistem GITEWS telah terbukti secara teknis dan berfungsi secara organisasional. Sejak bulan September 2007, empat peristiwa tsunami terdeteksi dan peringatan dikeluarkan untuk masing-masing wilayah. Terutama penduduk di kepulauan lepas pantai, bagaimanapun juga, perlu menerima peningkatan pelatihan yang intensif tentang bagaimana bertindak ketika terancam. Ini meliputi tidak hanya respon yang tepat selama peringatan tsunami, tapi juga perilaku yang tepat sebelum, selama dan sesudah gempa bumi.

Segera setelah bencana 26 Desember 2004, Pemerintah Federal Jerman mengontrak Asosiasi Helmholtz, diwakili oleh Helmholtz Centre Potsdam – Pusat Riset Jerman untuk Ilmu Bumi GFZ, dalam rangka mengembangkan dan menerapkan sistem peringatan dini terhadap tsunami di Samudra Hindia. Dana yang mencapai jumlah 45 juta euro merupakan sumbangan Pemerintah Federal dari bantuan untuk para korban banjir.

Sebuah fenomena alam seperti tsunami 2004 tidak dapat dicegah, dan bencana seperti itu akan terus menuntut banyak korban, bahkan sekalipun dengan sistem alarm yang bekerja dengan sempurna. Namun dampak dari bencana alam seperti itu bisa diminimalkan dengan sistem peringatan dini. Inilah tujuan dari GITEWS.

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.