Diposting Kamis, 23 Desember 2010 jam 6:45 am oleh Gun HS

Gen di Otak Merubah Perempuan menjadi Laki-laki

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 23 Desember 2010 -


Para peneliti di Australia selangkah lebih dekat untuk mengungkap misteri perkembangan seksual manusia, berdasarkan studi genetik yang menunjukkan bahwa tikus jantan bisa diciptakan tanpa kromosom Y – melalui aktivasi gen otak purba.

Laki-laki normalnya memiliki satu kromosom Y dan satu kromosom X, sementara perempuan memiliki dua kromosom X. Sebuah gen tunggal pada Y, yang disebut SRY, memicu perkembangan testis pada embrio awal, dan sekali ini mulai terbentuk, semua embrio yang tersisa juga menjadi laki-laki.

Bagaimanapun juga, para peneliti Adelaide telah menemukan cara untuk menciptakan tikus jantan tanpa memerlukan kromosom Y dengan mengaktifkan gen tunggal, disebut SOX3, pada janin yang berkembang. SOX3 dikenal penting untuk perkembangan otak, tapi belum pernah terbukti mampu memicu jalur laki-laki.

Seekor tikus kecil dari laboratorium Professor Asosiasi Paul Thomas. Professor Asosiasi Thomas beserta rekan-rekannya menghasilkan tikus jantan yang memiliki dua kromosom X dengan mengaktifkan secara artifisial gen SOX3 dalam gonad yang berkembang. (Kredit: Foto oleh Piltz Sandra)

Dalam studi kolaboratif utama internasional, mereka juga telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa perubahan dalam gen yang sama pada manusia juga terdapat pada beberapa pasien yang mengalami gangguan perkembangan seksual.

Hasil kerja ini dipublikasikan secara online dalam Journal of Clinical Investigation, dan akan diterbitkan dalam versi cetak jurnal pada bulan Januari 2011.

“Kromosom Y mengandung gen yang disebut SRY yang berfungsi sebagai saklar genetik untuk mengaktifkan jalur laki-laki selama perkembangan embrio,” kata Associate Professor Paul Thomas dari Universitas Adelaide School of Molecular & Biomedis Science.

“Saklar genetik SRY adalah unik untuk mamalia dan diduga telah berevolusi dari gen SOX3 selama evolusi mamalia awal.”

Professor Asosiasi Thomas beserta rekan-rekannya telah menghasilkan tikus jantan berkromosom XX dengan mengaktifkan secara artifisial gen SOX3 di dalam gonad yang berkembang.

“Tikus ‘jenis kelamin terbalik’ jantan XX ini benar-benar jantan dalam penampilan, struktur reproduksi dan perilaku, tetapi steril karena ketidakmampuan untuk menghasilkan sperma,” katanya.

“Kami sudah menduga untuk waktu yang lama bahwa SOX3 merupakan gen prekursor evolusi untuk SRY. Dengan menunjukkan bahwa SOX3 dapat mengaktifkan jalur laki-laki dalam cara yang sama seperti SRY, kami sekarang yakin bahwa hal ini benar.”

Karya ini merupakan kolaborasi lama antara Professor Asosiasi Thomas dan Dr. Robin Lovell-Badge di Medical Research Council National Institute for Medical Research, London, yang menemukan gen SRY pada tikus lebih dari 20 tahun yang lalu.

Dr. Lovell-Badge mengatakan dia gembira karena temuan ini: “SOX3 normalnya berfungsi dalam pengembangan sistem saraf, tetapi sekarang jelas bahwa mutasi yang membuatnya aktif dalam gonad awal dapat mengubahnya menjadi saklar yang membuat testis berkembang.

“Sekarang sangat mungkin bahwa sesuatu yang mirip dengan apa yang telah terjadi pada tikus jantan dan manusia XX yang telah kami deskripsikan juga menjelaskan telah terjadi pada leluhur awal mamalia kita, dan ini menyebabkan evolusi tidak hanya pada SRY, tetapi juga pada kromosom X dan Y. Bayangkan semua masalah yang disebabkan oleh gen kecil ini!” katanya.

Penelitian kolaborasi lebih lanjut dengan Profesor Andrew Sinclair di Murdoch Children’s Research Institute di Melbourne dan Profesor Eric Vilain di UCLA (Universitas California Los Angeles) juga telah menunjukkan bahwa perubahan pada gen SOX3 manusia terdapat pula pada beberapa individu yang adalah laki-laki XX.

“Dari perspektif genetik, kasus pembalikan jenis kelamin laki-laki XX sangat menarik dan kurang dipahami,” kata Professor Asosiasi Thomas.

“Penemuan ini memberi wawasan baru tentang penyebab genetik gangguan perkembangan seksual, yang relatif umum dalam masyarakat.

“Untuk masa depan, penemuan ini akan berdampak pada diagnosis molekular terhadap gangguan dan, pada akhirnya, membantu kita mengembangkan terapi atau teknologi untuk meningkatkan hasil klinis,” katanya.

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.