Diposting Sabtu, 18 Desember 2010 jam 4:06 pm oleh Gun HS

Herschel Menatap ke Masa Lalu untuk Melihat Bintang-bintang Meledak ke dalam Hidup

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 18 Desember 2010 -


Tim internasional astronom di Inggris telah menyajikan bukti konklusif pertama untuk lonjakan dramatis kelahiran bintang dalam populasi galaksi-galaksi raksasa di alam semesta awal. Pengukuran mereka mengkonfirmasi gagasan bahwa bintang-bintang terbentuk paling cepat sekitar 11 miliar tahun yang lalu, atau sekitar tiga milyar tahun setelah Big Bang, laju pembentukan bintang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Para ilmuwan menggunakan Herschel Space Observatory milik Badan Antariksa Eropa, teleskop inframerah dengan cermin berdiameter 3,5 meter, yang diluncurkan pada tahun 2009. Mereka mempelajari  benda-benda jauh secara rinci dengan kamera Spectral and Photometric Imaging Receiver (SPIRE), memperoleh bukti kuat bahwa galaksi membentuk bintang pada tingkat yang luar biasa dan memiliki beberapa bendungan besar gas yang mendorong pembentukan bintang selama ratusan juta tahun.

Dr. Scott Chapman, dari Institut Astronomi di Cambridge, yang telah mempresentasikan hasil terbaru ini dalam makalah di edisi khusus jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, berfokus pada hasil studi dari Herschel.

Scott berkomentar, “Pengukuran Herschel-SPIRE ini telah mengungkapkan populasi galaksi baru menjadi lebih panas dari yang diharapkan, karena bintang-bintang terbentuk jauh lebih cepat dari yang kita yakini sebelumnya.”

Galaksi-galaksi sangat jauh yang cahayanya kami deteksi telah melakukan perjalanan selama lebih dari 11 miliar tahun. Artinya, kami melihat mereka saat usia mereka hanya sekitar tiga milyar tahun setelah Big Bang. Kunci hasil terbaru ini adalah penemuan baru-baru ini tentang jenis baru galaksi yang sangat terang di alam semesta awal. Galaksi ini sangat samar dalam cahaya, sebagaimana bintang-bintang baru yang terbentuk masih berupa kepompong di awan gas dan debu tempat mereka lahir. Debu kosmik ini, yang memiliki suhu sekitar -240ºC, jauh lebih cemerlang pada riak gelombang infra merah yang lebih panjang dan jauh yang terobservasi satelit Herschel.

Jenis galaksi terkait pertama kali ditemukan pada tahun 1997 (namun tidak dipahami dengan baik hingga tahun 2003) dengan menggunakan kamera “SCUBA” yang dipasang pada James Clerk Maxwell Telescope di Hawaii, mendeteksi radiasi yang dipancarkan pada riak gelombang sub-milimeter yang lebih panjang. Namun “sub-milimeter galaksi” jauh ini dianggap hanya mewakili setengah gambar pembentukan bintang di alam semesta awal. Sejak SCUBA mendeteksi objek-objek yang lebih dingin, ini menunjukkan bahwa galaksi serupa yang memiliki suhu sedikit lebih hangat bisa eksis tetapi sebagian besar belum diketahui.

Dr. Chapman dan para kolega mengukur jaraknya dengan menggunakan teleskop optik Keck di Hawaii dan observatorium sub-milimeter Plateau de Bure di Prancis, namun tidak mampu menunjukkan bahwa mereka dalam pergolakan pembentukan cepat bintang.

Herschel adalah teleskop pertama dengan kemampuan mendeteksi galaksi di puncak output mereka, sehingga Dr. Chapman bergabung dengan tim “Hermes”, yang dipimpin Profesor Seb Oliver dari Universitas Sussex dan Dr. Jamie Bock di Caltech yang melakukan survei terbesar galaksi dengan Herschel.

Dengan observasi Herschel, difokuskan pada sekitar 70 galaksi di konstelasi Ursa Major, para ilmuwan memperoleh bagian bukti yang hilang untuk mengkonfirmasi bahwa galaksi ini merupakan episode penting dalam pembangunan galaksi besar di sekitar kita saat ini, seperti galaksi kita sendiri, Bima Sakti.

Anggota tim, Profesor Rob Ivison, dari Universitas Edinburgh, menjelaskan pentingnya hasil baru ini. “Dengan data yang kami miliki sebelumnya, kami tidak tahu persis dari mana sinar inframerah galaksi ini berasal. Namun dengan menggunakan SPIRE, kami bisa melihat bahwa ini adalah tanda alam dari pembentukan bintang.”

Galaksi baru memiliki tingkat luar biasa formasi bintang, jauh lebih tinggi dari apa yang terlihat pada alam semesta saat ini. Mereka mungkin dikembangkan melalui tumbukan keras antar galaksi yang tidak pernah terganggu hingga saat ini, setelah bintang-bintang pertama dan fragmen galaksi sudah terbentuk. Tidak ada yang kurang, mempelajari benda-benda yang baru tersebut memberikan wawasan bagi para astronom tentang zaman awal pembentukan bintang setelah Big Bang.

Dr. Ishak Roseboom dari Universitas Sussex meringkas pekerjaan ini. “Sungguh menakjubkan dan mengejutkan melihat observasi Herschel-SPIRE mengungkap populasi yang sedemikian dramatis dari galaksi yang sebelumnya tak terlihat.” Profesor Seb Oliver, yang juga berasal dari Sussex, menambahkan, “Kami sangat terpesona dengan kemampuan luar biasa Herschel dalam menyelidiki alam semesta jauh. Hasil kerja Scott Chapman ini memberi kita penanganan nyata tentang bagaimana kosmos terlihat pada awal hidupnya.”

Dengan penemuan baru ini, para astronom yang berbasis di Inggris telah menyediakan sensus yang jauh lebih akurat mengenai beberapa galaksi paling ekstrem di alam semesta pada puncak aktivitas mereka. Observasi masa depan akan menyelidiki rincian sumber daya galaksi dan mencoba menetapkan bagaimana mereka akan mengembangkan semburan intens aktivitas mereka hingga akhir.

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.