Diposting Selasa, 7 Desember 2010 jam 6:52 pm oleh Gun HS

‘Peta Harimau’ Sumatera Mengungkap Populasi Harimau Lebih Tinggi dari Dugaan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 7 Desember 2010 -


Para ilmuwan telah menciptakan peta distribusi harimau Sumatera, sebuah peta beresolusi tertinggi yang pernah diproduksi, mengungkapkan bahwa pulau yang ditempati hewan itu kini menyimpan populasi harimau terbesar kedua di dunia. Penelitian ini, yang dilakukan bersama Program dan Forum HarimauKita Indonesia dari Wildlife Conservation Society, akan dipublikasikan dalam edisi khusus Integrative Zoologi, dalam konservasi harimau dan metodologi penelitian.

Hariyo T. Wibisono dan Wulan Pusparini melakukan survei berbasis kuesioner di pulau tersebut untuk mengidentifikasi status distribusi harimau Sumatera. Mereka menemukan bahwa harimau masih menempati sebagian besar habitat yang tersisa di Sumatera. Dari 144.160 kilometer persegi (55.660 sq mi) dari sisa potensi habitat, harimau berada di lebih dari 97% habitat (140.226 sq km; 55.141 sq mi). Namun, hanya 29% habitat yang ditemukan terdapat harimau yang dilindungi.

Harimau mampu hidup di berbagai habitat. Seekor harimau jantan difoto dengan kamera tersembunyi di habitat hutan pegunungan dalam Kawasan Ekosistem Leuser, Provinsi Sumatera Utara. Di wilayah ini, tanda-tanda harimau ditemukan pada 3.200m dpl oleh tim survei WCS. (Kredit: PHKA/WCS/LIF/Panthera)

“Temuan ini menunjukkan bahwa populasi harimau Sumatera mungkin jauh lebih besar dari yang kita yakini, dan bisa berpotensi menjadi populasi harimau terbesar kedua di dunia setelah India,” ujar Wibisono.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa harimau menempati keragaman ekosistem. Harimau ditemukan dari 0 meter di atas permukaan laut di hutan dataran rendah pantai, hingga 3200 meter (10.500 kaki) di atas permukaan laut di hutan pegunungan tinggi dan di setiap daerah-ekologi antara keduanya.

“Sangat perlu dilakukan penilaian ilmiah lebih lanjut terhadap populasinya,” ujar Wibisono, “namun jika populasinya memang sebesar hasil survei baru ini, maka tindakan nyata dan dukungan lebih dari para ahli harimau dan komunitas internasional harus dimobilisasi dalam konservasi sumatera harimau.”

Berdasarkan temuan ini, para ilmuwan merekomendasikan bahwa setidaknya ada lima habitat yang harus kembali menjadi Lanskap Konservasi Harimau (TCLs). TCL adalah area di mana terdapat habitat yang memadai bagi setidaknya lima harimau dan di mana harimau telah dikonfirmasi untuk tetap ada dalam 10 tahun terakhir.

Habitat ini terdiri dari:

  1. Ekosistem Leuser yang meliputi habitat dataran rendah hingga pegunungan di barat laut,
  2. Berbak-Sembilang meliputi rawa gambut dataran rendah dan habitat pesisir di tenggara,
  3. Ulu Masen meliputi habitat dataran rendah hingga pegunungan di barat laut,
  4. Batang Gadis yang meliputi habitat dataran rendah hingga pegunungan yang lebih rendah di Sumatera bagian tengah, dan
  5. Giam Siak Kecil di bagian tengah pulau.

Wibisono mengupayakan survei ini karena ia percaya, berdasarkan pengalaman luas selama bekerja di dataran Sumatera, bahwa penelitian sebelumnya meremehkan soal distribusi populasi harimau. Dia dan temuan rekannya memverifikasi firasat tersebut dan menunjukkan bahwa harimau hadir pada skala luas-pulau di Sumatera.

Perambahan manusia ke dalam habitat harimau di Sumatera Selatan. Kerusakan dan fragmentasi habitat harimau Sumatera ini didorong oleh maraknya illegal logging, pembangunan infrastruktur dan perluasan pemukiman warga. Tindakan ini menyebabkan warga setempat dan harimau menjadi dekat, sering menimbulkan konflik serta pembunuhan ilegal harimau dan spesies mangsa di mana mereka bergantung. (Kredit: PHKA/WCS)

Populasi harimau dunia telah menurun hingga 50% sejak tahun 1998, dan hanya 3.200-3.600 ekor yang diperkirakan masih bertahan di alam bebas. Kehadiran harimau di kawasan luas habitat di Sumatera merupakan salah satu dari beberapa titik terang terhadap kondisi harimau liar saat ini, tapi perlindungan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan masa depan yang baik bagi hewan yang luar biasa ini.

“Meskipun harimau jelas dalam bahaya, saya didorong oleh komitmen bersejarah yang dibuat pada KTT harimau global baru-baru ini untuk meningkatkan jumlah harimau di seluruh dunia,” kata Zhibin Zhang, kepala editor Integrative Zoology.”Pada akhir November lalu, Forum Konservasi Harimau Internasional diselenggarakan di St Petersburg, Rusia. Pemerintah dari 13 negara sepakat untuk melipatgandakan jumlah harimau hingga tahun 2022.”

“Dengan mempublikasikan edisi khusus konservasi harimau dan metodologi penelitian ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pemerintah, ilmuwan dan konservasi untuk menarik kembali harimau dari ambang tepi jurang.”

Sumber artikel: Sumatran ‘Tiger Map’ Reveals Tiger Population Higher Than Expected (as.wiley.com)
Kredit: Wiley – Blackwell
Informasi lebih lanjut:
Hariyo T. Wibisono, Wulan Pusparini. Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae): A review of conservation status. Integrative Zoology, 2010; 5 (4): 313 DOI: 10.1111/j.1749-4877.2010.00219.x

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.