Kita Memandang Dunia Secara Berbeda-beda
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Senin, 6 Desember 2010 - Bagaimana kita melihat dunia secara fisik belum tentu akurat, namun lebih banyak bergantung pada otak kita.
Untuk pertama kalinya, para ilmuwan Wellcome Trust menunjukkan secara tepat bagaimana kita melihat lingkungan di sekeliling kita tergantung pada ukuran bagian visual dari otak kita. Kita semua terbiasa dengan gagasan bahwa pikiran dan emosi kita berbeda dari satu orang ke orang lain, tapi kebanyakan orang menganggap bahwa bagaimana kita memandang dunia visual biasanya sangat mirip dari orang ke orang. Namun, korteks visual primer – area di belakang otak yang bertanggung jawab memproses apa yang kita lihat di dunia sekitar kita – diketahui berbeda dalam ukuran hingga tiga kali dari satu orang ke yang berikutnya.
Saat ini, para peneliti dari Pusat Neuroimaging Wellcome Trust di UCL (University College London) telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa ukuran area ini mempengaruhi bagaimana kita memandang lingkungan kita. Studi mereka dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature Neuroscience.
Dr. D. Samuel Schwarzkopf, Chen Song dan Profesor Geraint Rees menunjukkan serangkaian ilusi optik pada tiga puluh sukarelawan yang sehat. Ini termasuk ilusi Ebbinghaus, suatu ilusi yang sangat dikenal di mana dua lingkaran berukuran sama masing-masing dikelilingi oleh lingkaran ‘kelopak’; salah satu lingkarannya dikelilingi kelopak yang lebih besar, sedangkan yang lainnya dengan kelopak yang lebih kecil. Kebanyakan orang akan melihat lingkaran pertama sebagai yang lebih kecil dari yang kedua.
Pada ilusi optik kedua, yaitu ilusi Ponzo, para relawan ditunjuki dua ukuran lingkaran identik yang dilapiskan ke arah gambar terowongan. Dalam ilusi ini, lingkaran yang ditempatkan lebih jauh ke belakang terowongan menjadi lebih besar dari yang ditempatkan ke dekat bagian depan.
Dengan mengadaptasi ilusi ini, para peneliti mampu menunjukkan bahwa relawan melihat ilusi yang berbeda. Sebagai contoh, beberapa orang melihat perbedaan (meskipun maya) yang besar dalam ukuran di antara dua lingkaran, namun yang lain hampir tidak melihat perbedaan dalam ukuran yang jelas.
Dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), para peneliti juga dapat mengukur luas permukaan korteks visual utama dalam setiap sukarelawan. Mereka menemukan banyaknya variabilitas dalam ukuran area ini. Anehnya, ada hubungan kuat antara ukuran dan sejauh mana relawan mempersepsikan ilusi ukuran – semakin kecil areanya, ilusi visual semakin lebih jelas.
“Pekerjaan kami adalah yang pertama yang menunjukkan bahwa ukuran bagian dari otak seseorang dapat memprediksi bagaimana mereka memandang lingkungan visual mereka,” jelas Dr. Schwarzkopf.
“Ilusi optik membingungkan dan mengilhami imajinasi kita, tapi itu sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa bagaimana kita melihat dunia secara fisik belum tentu akurat, namun lebih banyak bergantung pada otak kita. Ilusi yang kita gunakan mempengaruhi sebesar apa sesuatu yang tampak; yaitu, mereka bisa menipu kita untuk percaya bahwa dua benda yang identik memiliki ukuran yang berbeda.
“Kami telah menunjukkan bahwa seberapa besar sesuatu persisnya muncul pada diri Anda tergantung pada ukuran area otak yang diperlukan untuk penglihatan. Berapa banyak otak menipu Anda tergantung pada seberapa banyak ‘real estate’ otak Anda disisihkan untuk pemrosesan visual.”
Sumber artikel: Seeing the world differently (eurekalert.org)
Kredit: Wellcome Trust
Informasi lebih lanjut:
D Samuel Schwarzkopf, Chen Song, Geraint Rees.The surface area of human V1 predicts the subjective experience of object size. Nature Neuroscience, 05 December 2010. DOI: doi:10.1038/nn.2706
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
