Diposting Minggu, 5 Desember 2010 jam 8:56 am oleh Gun HS

Bakteri dalam Tubuh Kita Berperan sebagai Mak Comblang?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 5 Desember 2010 -


Dapatkah bakteri yang bersemayam di dalam tubuh kita ini memutuskan siapa yang akan kita nikahi? Menurut sebuah studi terbaru dari Universitas Tel Aviv, jawabannya terletak pada usus seekor lalat buah kecil.

Prof. Eugene Rosenberg, Prof. Daniel Segel dan mahasiswa doktor Gil Sharon dari Fakultas Mikrobiologi dan Bioteknologi Molekuler Universitas Tel Aviv baru-baru ini menunjukkan bahwa bakteri simbiotik di dalam seekor lalat buah sangat mempengaruhi pemilihan pasangannya.

Penelitian ini bekerjasama dengan Prof. John Ringo dari Universitas Maine, dan dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Cinta, perkawinan dan lalat buah

Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Prof. Rosenberg dan Dr. Ilana Zilber-Rosenberg, para ilmuwan mengusulkan bahwa unit dasar dari seleksi alam bukanlah individu organisme hidup, tumbuhan atau hewan, melainkan lingkungan biologis yang lebih besar yang disebut holobiont. Lingkungan ini bisa mencakup kehidupan tumbuhan atau hewan serta mitra simbiotik mereka. Dalam kasus hewan, cenderung bermitra dengan mikroorganisme seperti bakteri usus.

“Hingga saat ini, diasumsikan bahwa organisme inang mengalami evolusinya sendiri, sedangkan bakteri simbiosis pun mengalami evolusinya sendiri,” kata Prof. Rosenberg. “Mekanisme yang kami temukan memungkinkan evolusi terjadi lebih cepat sebagai respons terhadap perubahan lingkungan. Karena generasi yang lebih pendek terjadi pada bakteri dibandingkan pada organisme multiseluler, maka secara genetik mereka lebih cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan holobiont,” kata Prof. Rosenberg.

Dengan melakukan percobaan pada lalat buah yang cepat bereproduksi, para ilmuwan mampu menguji teori baru ini. Percobaan pertama mengulang sebuah penelitian yang pernah dilakukan dua dekade yang lalu oleh seorang peneliti Universitas Yale, di mana populasi lalat dibagi menjadi dua dan diberi pola makan yang berbeda – gula gandum versus pati. Setahun kemudian, saat lalat-lalat kembali menyatu sebagai satu kelompok, mereka yang telah mengkonsumsi gula pati menyukai pasangan pengkonsumsi pati pula, sedangkan lalat pengkonsumsi gula menyukai pasangan berlatar belakang gizi yang sama. Percobaan ulang yang dilakukan peneliti Universitas Tel Aviv menunjukkan bahwa pengaruh pola makan ini berlaku hanya dalam satu atau dua generasi, tak lebih dari satu tahun penuh.

Dalam percobaan kedua, tim Universitas Tel Aviv mengulang percobaan yang pertama, namun dengan penambahan antibiotik, yang membunuh bakteri, dan hal ini menghilangkan preferensi pasangan tertentu. Proses kawin menjadi acak, tanpa adanya pengaruh dari pola makan.

Dalam percobaan berikutnya, para peneliti berhasil mengisolasi spesies bakteri yang bertanggung jawab terhadap isolasi reproduktif pada lalat yang memiliki preferensi kawin yang berkaitan dengan pola makan, dan menemukan bahwa bakteri Lactobacillus plantarum hadir dalam jumlah yang lebih besar pada lalat buah pengkonsumsi pati daripada lalat pengkonsumsi pati. Saat L. plantarum dikenai lagi dengan antibiotik, perilaku kawin preferensial kembali muncul – membuktikan setidaknya spesies bakteri ini sebagian bertanggung jawab atas preferensi kawin.

Menulis ulang Darwin?

Akhirnya, dalam kerjasama dengan Prof. Abraham Hefetz dari Fakultas Zoologi Universitas Tel Aviv, tim peneliti menganalisis feromon seksual yang dihasilkan oleh buah lalat. Ternyata terdapat perbedaan tingkat feromon di antara dua kelompok lalat – perbedaan yang sekali lagi menghilang setelah pemberian antibiotik.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan feromon merupakan mekanisme dengan mana kita dapat mengidentifikasi preferensi kawin. Oleh karena itu kami berhipotesis bahwa bakterilah yang memicu perubahan ini,” kata Prof. Rosenberg. Dia menambahkan bahwa penemuan ini berimplikasi bagi seluruh pemahaman kita tentang seleksi alam – sesuatu yang bahkan dapat menyebabkan perkembangan teori evolusi yang baru.

Sumber artikel: Do Our Bodies’ Bacteria Play Matchmaker? (aftau.org)
Kredit: American Friends of Tel Aviv University
Informasi lebih lanjut:
G. Sharon, D. Segal, J. M. Ringo, A. Hefetz, I. Zilber-Rosenberg, E. Rosenberg. Commensal bacteria play a role in mating preference of Drosophila melanogaster. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2010; DOI: 10.1073/pnas.1009906107

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.