Diposting Kamis, 2 Desember 2010 jam 5:24 am oleh Gun HS

Mencapai Usia 100 Tahun: Lebih pada Faktor Kepribadian daripada Kesehatan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 2 Desember 2010 -


Penelitian dari Universitas Georgia telah memberi petunjuk baru tentang hidup yang mencapai 100 tahun. Saran yang ditunjukkan adalah bagaimana kita merasakan tentang diri kita sendiri serta kemampuan kita beradaptasi dengan akumulasi pengalaman hidup yang menantang. Faktor-faktor ini mungkin sama atau justru lebih penting daripada faktor-faktor kesehatan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Gerontology and Geriatrics Research edisi saat ini, menggunakan data yang dikumpulkan sebagai bagian dari studi Centenarian (orang yang berusia 100 tahun atau lebih) Georgia, satu dari dua studi centenarian di negara bagian tersebut, untuk mengukur faktor-faktor psikologis dan sosial di samping genetika dan kesehatan pada apa yang disebut pakar sebagai survivor.

Dua ratus empat puluh empat orang berusia 100 tahun atau lebih diteliti antara tahun 2001 dan 2009. Penelitian ini menemukan bahwa peristiwa kehidupan kritis dan sejarah pribadi, bersamaan dengan bagaimana orang beradaptasi dalam situasi stres dan menghadapinya, sangat penting untuk menjelaskan kesuksesan usia lanjut.

“Memahami kesehatan dalam konteks ini berimplikasi besar bagi kualitas hidup,” kata Leonard Poon, direktur Institute of Gerontology di UGA College of Public Health dan sebagai penulis utama studi tersebut. “Apa yang terjadi pada Anda adalah nyata, tetapi yang lebih penting, persepsi tentang apa yang terjadi pada Anda adalah benar-benar penting bagi kesehatan pribadi Anda.”

Sebelumnya, sebagian besar penelitian tentang orang-orang tertua berfokus pada faktor-faktor kesehatan. Namun, para peneliti menemukan bahwa perasaan centenarian tentang kesehatan mereka sendiri, kesejahteraan dan sistem pendukungnya – bukan mengukur seperti tekanan darah dan gula darah – merupakan prediktor yang lebih kuat untuk bertahan hidup, kata Poon.

Kepribadian juga ditentukan dengan seberapa baik centenarian bereaksi terhadap tekanan dan perubahan hidup, dan juga apakah di usia tua mereka itu sama bahagianya dengan sewaktu masih berusia muda. Usia 100 tahun dalam keadaan sehat memiliki kepribadian yang digambarkan sebagai terbuka dan berperasaan. Sedangkan kepribadian neurotik cenderung kurang sehat, demikian yang ditemukan dalam penelitian ini.

Seseorang yang dihadapkan pada situasi stres bisa cepat menemukan solusi emosional atau merenungkan permasalahannya, kata Poon. “Salah satunya sangat merusak dalam hal kesejahteraan umum,” katanya, “dan yang lain sangat adaptif.”

Penelitian lain dari Studi Centenarian Georgia membandingkan fungsi fisik lansia yang hidup di masyarakat dengan lansia yang tinggal di fasilitas pensiunan. Studi ini menemukan bahwa aktivitas fisik menurun sekitar satu per tiga saat lansia berpindah ke fasilitas pensiunan.

Penurunan aktivitas fisik mempercepat penurunan kesehatan, ungkap Elaine Cress, profesor di Institute of Gerontology dan sebagai penulis utama studi terkait yang diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Gerontology.

“Dengan memahami penurunan fungsi fisik ini, perawat bisa membantu mempertahankan kualitas hidup yang tinggi bagi centenarian dengan dukungan yang tepat,” kata Cress, yang juga adalah anggota fakultas di departemen kinesiologi di UGA College of Education. “Kami mengembangkan skala untuk menilai kinerja fisik, yang belum pernah dilakukan sebelumnya terhadap centenarian. Ini bisa digunakan dalam penelitian masa depan untuk memprediksi kapan orang akan mulai memerlukan bantuan lebih lanjut. Mereka perlu tahu bagaimana merencanakannya, dan masyarakat juga perlu tahu bagaimana merencanakannya.

Meskipun masih jarang, centenarian merupakan segmen populasi yang sedang bertumbuh. Poon mencatat ada sekitar 50.454 centenarian pada tahun 2000, namun jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari 800.000 pada tahun 2050, membuat informasi yang akurat tentang meningkatnya kesejahteraan mereka.

Salah satu fenomena yang terjadi di seluruh dunia adalah usia wanita lebih lama daripada pria. Hanya di wilayah Sardinia yang memiliki rasio sebanding. “Tahap berikutnya kami akan mengunjungi empat negara yang berbeda di mana terdapat rasio hidup gender yang berbeda, dan melihat mengapa mereka bisa sama, mengapa mereka berbeda dan apa yang membuat wanita hidup lebih lama daripada pria,” kata Poon.

Sumber artikel: Reaching 100 years of age may be more about attitude and adaptation than health history, UGA study finds (uga.edu)
Kredit: University of Georgia
Informasi lebih lanjut:

  1. Jonathan Arnold, Jianliang Dai, Lusine Nahapetyan, Ankit Arte, Mary Ann Johnson, Dorothy Hausman, Willard L. Rodgers, Robert Hensley, Peter Martin, Maurice MacDonald, Adam Davey, Ilene C. Siegler, S. Michal Jazwinski, Leonard W. Poon. Predicting Successful Aging in a Population-Based Sample of Georgia Centenarians. Current Gerontology and Geriatrics Research. Volume 2010 (2010), Article ID 989315, 9 pages. doi:10.1155/2010/989315
  2. M. Elaine Cress, Yasuyuki Gondo, Adam Davey, Shayne Anderson, Seock-Ho Kim, and Leonard W. Poon. Assessing Physical Performance in Centenarians: Norms and  an Extended Scale from the Georgia Centenarian Study. Current Gerontology and Geriatrics Research. Volume 2010 (2010), Article ID 310610, 6 pages. doi:10.1155/2010/310610
Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.