Diposting Senin, 22 November 2010 jam 12:57 pm oleh Gun HS

Incest

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 22 November 2010 -


Incest adalah hubungan seksual antara kerabat dekat[1] yang ilegal secara yurisdiksi dan/atau dianggap tabu secara sosial. Kata ‘incest’ dimasukkan ke dalam bahasa Inggris Pertengahan sekitar tahun 1225 sebagai istilah yang sah untuk menggambarkan kejahatan incest keluarga seperti yang dikenal saat ini.[2] Kata ‘incest’ berasal dari bahasa Latin, yaitu incestus atau incestum, yang secara substantif diartikan sebagai ‘tidak suci’. Sedangkan kata dasar incestus sendiri adalah castus, yang artinya ‘suci’. Sebelum pengenalan istilah Latin ini, incest dikenal dalam bahasa Inggris Lama sebagai sibbleger (dari kata sibb ‘kekerabatan’ + leger ‘berbohong’).[3]

Incest dalam Hukum, Sosial dan Budaya

Karena secara lintas-budaya incest lebih bersifat emosional daripada masalah hukum, maka istilah tabu lebih dipilih daripada sekedar larangan. Namun, meskipun diakui dalam antropologi sebagai hal yang universal, ketabuan incest dipandang secara berbeda dalam masyarakat yang berbeda, dan pengetahuan tentang pelanggarannya pun menimbulkan reaksi yang sangat berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Beberapa masyarakat menganggap incest hanya meliputi mereka yang tinggal dalam satu rumah, atau yang berasal dari klan atau keturunan yang sama; masyarakat lain menganggap incest meliputi “saudara sedarah”; sedangkan yang lainnya lagi lebih jauh mengkaitkannya dengan adopsi atau perkawinan.[4]

Incest antara orang dewasa dan anak di bawah umur dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual anak[5][6]. Kasus ini terbukti menjadi salah satu bentuk pelecehan masa kanak-kanak paling ekstrim, seringkali menjadi trauma psikologis yang serius dan berkepanjangan, terutama dalam kasus incest orangtua. Orang dewasa yang masa kecilnya pernah menjadi korban incest dari orang dewasa seringkali menderita rasa rendah diri, kesulitan dalam hubungan interpersonal, dan disfungsi seksual, serta berisiko tinggi mengalami gangguan mental, termasuk depresi, kecemasan, reaksi penghindaran fobia, gangguan somatoform, penyalahgunaan zat, gangguan kepribadian garis-batas, dan gangguan stres pasca-trauma yang kompleks.[7][8][9]

Prevalensinya memang sangat sulit untuk dinilai karena bersifat rahasia dan privasi, namun penelitian memperkirakan ada sekitar 10-15% dari populasi umum memiliki paling sedikit satu kasus incest, dengan kurang dari 2% melibatkan hubungan seksual atau usaha ke arah hubungan seksual.[10] Di antara perempuan, penelitian telah menghasilkan estimasi hingga mencapai dua puluh persen.[11]

Selama bertahun-tahun, hubungan seksual ayah-anak adalah bentuk incest yang paling sering dilaporkan dan dipelajari. Namun, baru-baru ini, penelitian menunjukkan bahwa incest antar saudara kandung, terutama kakak laki-laki yang melecehkan adiknya, adalah bentuk incest yang paling umum,[12][13][14][15][16][17][18][19][20]. Bahkan beberapa studi menemukan bahwa incest antar saudara kandung berkali lipat lebih sering dibandingkan bentuk-bentuk incest lainnya.[21]

Pelecehan incest antar saudara kandung paling lazim dalam keluarga di mana salah satu atau kedua orangtuanya seringkali tidak hadir atau tidak tersedia secara emosional. Situasi demikian sering membuat saudara kandung menggunakan pelecehan incest sebagai cara untuk menegaskan kekuasaan di atas saudaranya yang lemah.[22] Tidak adanya kehadiran ayah, khususnya, diketahui telah menjadi elemen penting dari sebagian besar kasus pelecehan seksual terhadap anak perempuan oleh saudara laki-lakinya. Dampak merusak pada perkembangan anak akibat pelecehan incest ini mirip dengan efek incest ayah-anak, termasuk substansi penyalahgunaan, depresi, bunuh diri, dan gangguan makan.[23][24]

Ada keragaman dalam menanggapi incest antar sepupu. Perkawinan dan hubungan seksual antar sepupu dipandang berbeda dalam berbagai budaya, dan mungkin tidak harus dianggap sebagai incest. Di banyak negara, pernikahan antar sepupu adalah legal. Yurisdiksi lainnya, terutama di beberapa Negara Bagian Amerika Serikat, incest tergantung pada tingkat hubungan.[25]

Persatuan kekerabatan tetap istimewa di Afrika Utara, Timur Tengah dan sebagian besar Asia. Pernikahan antar sepupu pertama merupakan hal yang sangat umum di sana.[26] Misalnya, masyarakat Dhond dan Bhittani di Pakistan, mereka mengutamakan pernikahan antar sepupu karena itu bisa memastikan kemurnian garis keturunan, menyediakan pengetahuan yang mendalam tentang pasangan, dan memastikan warisan tidak jatuh ke tangan “orang luar”.[27]

Lebih jauh lagi adalah kasus apabila seseorang berhubungan seksual dengan istri dari almarhum saudaranya. Beberapa budaya melingkupi kasus ini ke dalam larangan incest, hubungan ini lebih disebut afinitas daripada pertalian darah. Sebagai contoh, pertanyaan tentang legalitas dan moralitas seorang duda yang ingin menikahi istri almarhum saudaranya, menjadi subjek perdebatan panjang dan sengit di Inggris pada abad ke-19.[28][29] Namun kebalikan dengan di beberapa masyarakat lainnya, pasangan dari almarhum saudara justru dianggap orang yang ideal untuk dinikahi. Alkitab Ibrani melarang seorang pria menikahi janda saudaranya dengan pengecualian bahwa, kalau saudaranya itu meninggal tanpa anak, pria itu malah diperlukan untuk menikahi janda saudaranya sehingga “menghasilkan anak untuk dia” (diambil dari Ulangan 25:5-6).[30]

Perkawinan Sedarah dan Dampaknya

Keturunan dari hasil perkawinan sedarah memiliki resiko ganguan genetik, mengarah pada proporsi cacat lahir yang lebih tinggi. Kelainan yang disebut gangguan resesif autosomal ini terjadi akibat peningkatan frekuensi homozigot.[31] Artinya, penderita membawa dua salinan (alel) dari gen yang sama, menghasilkan mutasi gen resesif tertentu.

Efeknya bisa berbeda – gen resesif yang menghasilkan cacat lahir bisa menjadi lebih sering, menghasilkan tingkat potensi cacat yang lebih tinggi, sedangkan gen yang tidak terkode untuk cacat lahir bisa meningkat dalam suatu populasi. Konsekuensi keseluruhan dari perbedaan ini sebagian bergantung pada ukuran populasi. Dalam populasi kecil, jika anak-anak yang lahir cacat meninggal sebelum mereka mereproduksi efek akhir dari perkawinan sedarah, maka itu akan mengurangi frekuensi gen cacat dalam populasi dengan menurunnya keseluruhan jumlah kelahiran penyebab gen cacat dari waktu ke waktu. Dalam populasi yang lebih besar, lebih mungkin jika sebagian besar pembawa gen cacat akan bertahan dan kawin, yang kemudian mengarah ke tingkat cacat lahir yang lebih konstan.[32]

Sebuah studi pada tahun 1994 menemukan bahwa jumlah kematian dari kawin sedarah pada tingkat sepupu pertama mencapai 4,4%.[33] Bagaimanapun juga, efek degeneratif dari perkawinan sedarah hanya akan fatal secara signifikan setelah kasus incest diulang dua kali atau lebih, dan bahwa variasinya tergantung pada kuantitas dan kualitas cacat bawaan di mana anggota keluarga bisa menjadi pembawa gen resesif autosomal. Sebuah studi terhadap 21 orang yang terdiri dari keturunan hasil perkawinan adik-kakak atau ayah-anak, menemukan bahwa 12 orang memiliki kelainan dengan 9 orang di antaranya diklasifikasikan sebagai cacat berat.[34]

Hasil yang berkaitan ditemukan dalam sebuah riset terbaru di Islandia oleh perusahaan genetika deCODE. Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini, para peneliti menemukan bahwa perkawinan sepupu ketiga memiliki tingkat keberhasilan genetik tertinggi, menunjukkan bahwa hubungan minimal satu sama lain merupakan hal yang menguntungkan bagi perkawinan manusia dan reproduksinya.[35] Alasan riset ini dilakukan di Islandia karena selama ratusan tahun, secara historis, perkawinan sedarah tidak bisa dihindari di negeri tersebut mengingat populasinya yang kecil dan terisolasi.[36]

Tabu Incest dalam Antropologi

Tabu incest adalah istilah yang digunakan oleh antropolog untuk merujuk pada kelas larangan, baik formal maupun informal, terhadap incest dalam masyarakat manusia. Ada berbagai teori yang berusaha menjelaskan bagaimana dan mengapa tabu incest berasal. Beberapa ahli berpendapat bahwa beberapa jenis tabu incest bersifat universal, sementara yang lain bersengketa dengan universalitasnya. Mengingat adanya keragaman persepsi mengenai incest, penelitian ini perlu menyelami perbedaan anggapan “incest” di dalam masyarakat yang berbeda, yang menurut para antropologi, bervariasi secara mencolok dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.

Salah satu teori, diusulkan oleh Havelock Ellis, berpendapat bahwa tabu mengungkapkan kejijikan psikologis yang secara alami dialami seseorang saat memikirkan incest.[37] Kebanyakan antropolog menolak penjelasan ini, sebab incest faktanya terjadi.[38][39][40]

Teori lain adalah efek Westermarck, pertama kali diusulkan oleh Edvard Westermarck, menyatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan bersama, terlepas dari hubungan biologis, membentuk lampiran sentimental yang dilakukan oleh sifat non-erotis.[41] Teori ini diperkuat dengan hasil observasi Melford Spiro, menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak berkerabat, yang dibesarkan bersama di kibbutz Israel, tetap menghindari mitra seksual di antara satu sama lain.[42]

Bagaimanapun juga, berdasarkan penelitian lain terhadap 2516 pernikahan yang didokumentasikan di Israel, 200 pasangan di antaranya telah dibesarkan bersama di kibbutz. Pernikahan tersebut terjadi setelah para pemuda yang dibesarkan di kibbutz bertugas di militer, yang kemudian bertemu dengan puluhan ribu pasangan potensial lainnya. Dalam kasus ini, jumlah 200 pernikahan adalah jauh dari sekedar kebetulan. Dari 200 perkawinan tersebut, lima pasangan di antara laki-laki dan perempuan telah dibesarkan bersama selama enam tahun pertama kehidupan mereka. Penelitian ini menggugurkan hipotesis Westermarck.[43]

Teori lain menyatakan bahwa melaksanakan tabu itu akan menghasilkan cacat lahir bawaan yang disebabkan oleh perkawinan sedarah. Teori ini pertama kali diusulkan oleh ahli hukum Henry Maine, yang tidak memiliki pengetahuan tentang genetika modern, namun memperoleh kesimpulan ini melalui pengamatannya pada hewan ternak.[44] Para antropolog menolak penjelasan ini karena dua alasan. Pertama, perkawinan sedarah tidak secara langsung menyebabkan cacat lahir, tapi mengarah pada peningkatan frekuensi homozigot.[45] Peningkatan homozigot memiliki efek penyimpangan. Suatu pengkodean homozigot cacat lahir akan menghasilkan anak yang cacat lahir, tetapi homozigot yang tidak dikodekan untuk cacat lahir akan menurunkan jumlah pembawa gen ke dalam populasi.

Kedua, antropolog telah menunjukkan bahwa sosial yang mengkonstruksi “incest” (dan tabu incest) bukanlah hal yang sama dengan fenomena biologis “kawin sedarah”. Para antropolog telah mendokumentasikan sejumlah besar masyarakat di mana perkawinan antara beberapa sepupu pertama dilarang sebagai incest, sedangkan yang lainnya justru mewajibkan pernikahan antar sepupu pertama. Dengan demikian, larangan terhadap hubungan incest pada kebanyakan masyarakat tidak didasarkan atau dimotivasi oleh keprihatinan atas kedekatan biologis.[46]

Dalam sudut pandang sosial, antropolog Claude Levi-Strauss mengembangkan argumen umum pada universalitas tabu incest dalam masyarakat manusia. Argumennya dimulai dengan pernyataan bahwa tabu incest merupakan dampak pelarangan terhadap endogami, dan efek ini adalah untuk mendorong eksogami. Melalui eksogami, rumah tangga atau garis keturunan yang tidak sekerabat akan membentuk relasi melalui perkawinan, sehingga memperkuat solidaritas sosial. Artinya, Levi-Strauss memandang pernikahan sebagai pertukaran perempuan di antara dua kelompok sosial.

Dengan menggabungkan teori dari Marcel Mauss dengan berbagai data budaya yang berbeda dari para antropolog dan sejarahwan, Levi-Strauss mengusulkan apa yang disebut sebagai teori aliansi. Dalam masyarakat “primitif”, perkawinan secara mendasar bukanlah hubungan antara pria dan wanita, melainkan adalah transaksi yang melibatkan seorang wanita untuk menjebatani relasi – sebuah aliansi – di antara dua orang.[47] Teori Struktur Dasar Kekerabatan tersebut memanfaatkan hal ini sebagai titik awal dan menggunakannya untuk menganalisis sistem kekerabatan dalam meningkatkan kompleksitas yang ditemukan di dalam masyarakat primitif, yaitu masyarakat yang tidak berbasis pada pertanian, kesenjangan kelas, dan pemerintah terpusat.

Teori ini sangat diperdebatkan oleh para antropolog pada tahun 1950. Teori ini banyak menarik perhatian karena menggunakan studi tentang tabu incest dan perkawinan untuk menjawab kepentingan penelitian antropolog yang lebih mendasar pada saat itu: bagaimana seorang antropolog bisa memetakan hubungan sosial dalam suatu masyarakat, dan bagaimana hubungan-hubungan ini mempromosikan atau membahayakan solidaritas sosial?[48][49] Namun demikian, para antropolog tidak pernah mencapai konsensus. Dengan terjadinya Perang Vietnam dan proses dekolonisasi di Afrika, Asia, dan Oseania, kepentingan antropologi bergeser jauh dari pemetaan hubungan sosial lokal.

Meskipun banyak antropolog menolak universalitas dari teori aliansi, argumen Levi-Strauss yang paling diterima adalah bahwa tabu incest terkait dengan preferensi bagi keuntungan eksogami. Kebanyakan antropolog dan sosiolog kini percaya bahwa penghindaran utama keluarga terhadap incest bisa dijelaskan dari segi manfaat ekologi, demografi, dan ekonomi dari eksogami.[50]

Incest dan Endogami

Eksogami di antara rumah tangga atau kelompok keturunan biasanya ditentukan dalam masyarakat tanpa kelas. Sedangkan masyarakat berlapis – yaitu, yang dibagi ke dalam kelas yang tidak sama – sering menentukan derajat endogami yang berbeda. Endogami adalah kebalikan dari eksogami, ia mengacu pada praktek perkawinan antar anggota kelompok sosial yang sama. Contoh klasiknya adalah sistem kasta di India.[51] Ketimpangan di antara kelompok etnis dan ras juga berkorelasi dengan endogami.[52] Endogami kelas, kasta, etnis dan ras biasanya berdampingan dengan eksogami keluarga dan pelarangan incest.

Contoh ekstrim dari prinsip ini, dan pengecualian terhadap tabu incest, ditemukan di antara anggota kelas yang berkuasa di negeri kuno tertentu, seperti Inca, Mesir, Cina, dan Hawaii, pernikahan kakak-beradik (biasanya antara setengah-saudara kandung ) adalah sarana untuk menjaga kekayaan dan kekuasaan politik dalam satu keluarga.[53] Di Mesir, pada masa pemerintahan Romawi, praktek ini juga ditemukan di antara rakyat jelata.[54]

Oedipus Complex

Salah satu teori Sigmund Freud yang paling terkenal adalah Oedipus complex. Dalam teori psikoanalitik, Oedipus complex adalah kelompok sebagian besar kesadaran (dinamis terepresi) ide-ide dan perasaan yang terkonsentrasi pada keinginan untuk memiliki orangtua yang berlawanan jenis dan menghilangkan orangtua yang berjenis kelamin sama. Menurut teori psikoanalitik klasik, jenis kompleks ini muncul selama “fase oedipal” perkembangan libidinal dan ego, yaitu antara usia tiga dan lima tahun, meskipun manifestasi oedipal bisa dideteksi lebih awal.[55][56]

Penamaan jenis kompleks ini berdasarkan pada karakter mistis Yunani bernama Oedipus, yang (meskipun tidak sadar) telah membunuh ayahnya, Laius, dan menikahi ibunya, Jocasta. Menurut Sigmund Freud, Oedipus complex adalah fenomena yang umum, terbangun dalam filogenetis, dan banyak bertanggung jawab atas rasa bersalah secara tidak sadar.[57]

Teori klasik menganggap bahwa resolusi Oedipus complex yang sukses diinginkan secara bertahap, kunci bagi perkembangan peran seksual dan identitas. Freud mengemukakan bahwa anak laki-laki dan perempuan menyelesaikan konflik secara berbeda. Sebagai hasilnya adalah kecemasan dikebiri pada anak laki-laki (yang disebabkan oleh persaingan oedipal dengan ayah) dan keirian penis pada anak perempuan. Ia juga menyatakan bahwa resolusi Oedipus complex yang tidak sukses bisa mengakibatkan neurosis, pedofilia, dan homoseksualitas.

Kecemasan dikebiri dalam psikoanalisis Freudian mengacu pada rasa takut di luar kesadaran akan kehilangan penis, berasal selama tahap perkembangan seksual dan berlangsung seumur hidup. Menurut Freud, ketika anak laki-laki sadar akan perbedaan antara alat kelamin laki-laki dan perempuan, ia mengira penis perempuan telah disingkirkan, dan hal ini membuatnya cemas bahwa penisnya akan dikebiri pula oleh saingannya, figur ayah, sebagai hukuman karena mengingini figur ibu. Di pihak anak perempuan, keirian penis dalam psikoanalisis Freudian mengacu pada reaksi seorang gadis selama perkembangan psikoseksual, ketika menyadari bahwa dia tidak memiliki penis. Freud menganggap realisasi ini sebagai momen yang menentukan dalam perkembangan gender dan identitas seksual bagi perempuan.

Meskipun Freud mengabdikan sebagian besar literatur awal pada Oedipus complex laki-laki, namun pada tahun 1931 ia berdebat bahwa perempuan juga mengalami Oedipus complex, dan bahwa dalam kasus perempuan, keinginan incest merupakan keinginan awal homoseksualnya terhadap ibu. Jelas bahwa dalam pandangan Freud, setidaknya seperti yang ditulisnya di kemudian hari, Oedipus complex merupakan prosesi yang jauh lebih kompleks pada perempuan dibandingkan laki-laki dalam perkembangannya.[58]

Referensi:

  1. ^http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=3954
  2. ^Incest and the literary imagination, Elizabeth Barnes.
  3. ^Oxford Concise Dictionary of Etymology, T.F. Hoad (ed.) (1996), p232.
  4. ^Elementary Structures Of Kinship, by Claude Lévi-Strauss. (tr.1971).
  5. ^Kathleen C. Faller (1993). Child Sexual Abuse: Intervention and Treatment Issues. DIANE Publishing. p. 64. ISBN 9780788116698.
  6. ^Diane H. Schetky; Arthur H. Green (1988). Child Sexual Abuse: A Handbook for Health Care and Legal Professionals. Psychology Press. p. 128. ISBN 9780876304952.
  7. ^Courtois, Christine A. (1988). Healing the Incest Wound: Adult Survivors in Therapy. W. W. Norton & Company. pp. 208. ISBN 0393313565.
  8. ^Trepper, Terry S.; Mary Jo Barrett (1989). Systemic Treatment of Incest: A Therapeutic Handbook. Psychology Press. ISBN 0876305605.
  9. ^Kluft, Richard P. (1990). Incest-Related Syndromes of Adult Psychopathology. American Psychiatric Pub , Inc.. pp. 83, 89. ISBN 0880481609.
  10. ^Herman, Judith (1981). Father-Daughter Incest. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. pp. 282. ISBN 0-674-29506-4.
  11. ^Goldman, R., & Goldman, J. (1988). The prevalence and nature of child sexual abuse in Australia. Australian Journal of Sex, Marriage and Family, 9(2), 94-106.
  12. ^Wiehe, Vernon. (1997). Sibling Abuse: Hidden Physical, Emotional, and Sexual Trauma. Sage Publications, ISBN 0-7619-1009-3
  13. ^Rayment-McHugh, Sue and Ian Nesbit. 2003. Sibling Incest Offenders As A Subset of Adolescent Sex Offenders. Paper presented at the Child Sexual Abuse: Justice Response or Alternative Resolution Conference convened by the Australian Institute of Criminology and held in Adelaide, 1–2 May 2003.
  14. ^Canavan, M. C., Meyer, W. J., & Higgs, D. C. (1992). The female experience of sibling incest. Journal of Marital and Family Therapy, 18(2), p. 129-142.
  15. ^Smith, H., & Israel, E. (1987). Sibling incest: A study of the dynamics of 25 cases. Child Abuse and Neglect, 11, p. 101-108.
  16. ^Cole, E. (1982). Sibling incest: The myth of benign sibling incest. Women and Therapy, 1(3), p.79-89.
  17. ^Cawson, P., Wattam, C., Brooker, S., & Kelly, G. (2000). Child maltreatment in the United Kingdom: A study of the prevalence of child abuse and neglect. London: National Society for the Prevention of Cruelty to Children.
  18. ^Sibling incest is roughly five times as common as other forms of incest according to Gebhard, P., Gagnon, J., Pomeroy, W., & Christenson, C. (1965). Sex offenders: An analysis of types. New York: Harper & Row.
  19. ^Finkelhor, David (1981). Sexually victimized children. Simon and Schuster. ISBN 0029104009.
  20. ^A large-scale study of (n = 3,000) by the UK’s National Council for the Prevention of Cruelty to Children found that fathers committed about 1% of child sex abuse, while siblings committed 14%. Lihat: BBC News Online: Health, Child Abuse Myths Shattered, November, 20, 2000
  21. ^O’Brien, M. J. (1991). Taking sibling incest seriously. In M. Patton (ed.), Family sexual abuse: Frontline research and evaluation (75-92). Newbury Park, CA: Sage Publications.
  22. ^Jane Mersky Leder. “Adult Sibling Rivalry: Sibling rivalry often lingers through adulthood”. Psychology Today (Sussex Publishers) January/February 93. http://psychologytoday.com/articles/index.php?term=19930101-000023&page=1.
  23. ^Jane M. Rudd; Sharon D. Herzberger (September 1999). “Brother-sister incest—father-daughter incest: a comparison of characteristics and consequences”. Child Abuse & Neglect 23 (9): 915–928. doi:10.1016/S0145-2134(99)00058-7
  24. ^Mireille Cyr; S John Wrighta, Pierre McDuffa and Alain Perron (September 2002). “Intrafamilial sexual abuse: brother–sister incest does not differ from father–daughter and stepfather–stepdaughter incest”. Child Abuse & Neglect 26 (9): 957–973. doi:10.1016/S0145-2134(02)00365-4. http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6V7N-46TGF9P-2&_user=10&_rdoc=1&_fmt=&_orig=search&_sort=d&view=c&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=a3ec1a197fca397ca5b3f7cb9b9fbba1.
  25. ^Joanna Grossman, Should the law be kinder to kissin’ cousins?
  26. ^8&_user=10&_rdoc=1&_fmt=&_orig=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_searchStrId=942268890&_rerunOrigin=google&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=734aab14ef77ffc5b8ec67fef208051c Abstract: Consanguinity and child health , Anand K. Saggara and Alan H. Bittles, sciencedirect.com.
  27. ^Suad Joseph; Afsaneh Najmabadi (2003). Encyclopedia of Women & Islamic Cultures: Family, body, sexuality and health. Brill. p. 261. ISBN 9789004128194. http://books.google.com/?id=bzXzWgVajnQC.
  28. ^Pollak, Ellen (2003). Incest and the English Novel, 1684-1814. Baltimore MD: Johns Hopkins University Press. pp. 38. ISBN 0801872049.
  29. ^Tann, Jennifer (May 2007). “Boulton, Matthew (1728–1809)”. Oxford Dictionary of National Biography. Oxford, England: Oxford University Press.
  30. ^http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=5&chapter=25&verse=5
  31. ^Livingstone, FB (1969). “Genetics, Ecology, and the Origins of Incest and Exogamy”. Current Anthropology 10: 45–62. doi:10.1086/201009.
  32. ^Thornhill, Nancy Wilmsen (1993). The Natural history of inbreeding and outbreeding: theoretical and empirical perspectives. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 0-226-79854-2. http://books.google.com/?id=ZFXYeHxwD10C&printsec=frontcover.
  33. ^Bittles, A.H. (2001). “A Background Background Summary of Consaguineous marriage”. consang.net. http://www.consang.net/images/d/dd/01AHBWeb3.pdf. Retrieved 2010 , citing Bittles, A.H.; Neel, J.V. (1994). “The costs of human inbreeding and their implications for variation at the DNA level”. Nature Genetics (8): 117–121.
  34. ^Baird, PA; McGillivray, B (1982). “Children of incest”. The Journal of Pediatrics (Elsevier) 101 (5): 854–7. doi:10.1016/S0022-3476(82)80347-8. PMID 7131177.
  35. ^Iceland’s ‘Kissing Cousins’ Breed More Kids
  36. ^An Association Between the Kinship and Fertility of Human Couples, Science, The Science Creative Quarterly (2008), 391: 813-816.
  37. ^Havelock Ellis 1906 Sexual Selection in Man, Philadelphia.
  38. ^Claude Lévi-Strauss, 1969 The Elementary Structures of Kinship revised edition, translated from the French by James Harle Bell and John Richard von Sturmer. Boston: Beacon Press. 17.
  39. ^Cicchetti and Carlson eds. 1989 Child Maltreatment: Theory and Research on the Causes and Consequences of Child Abuse and Neglect. New York, Cambridge University Press.
  40. ^Glaser and Frosh 1988 Child and Sexual Abuse Chicago: Dorsey Press.
  41. ^Westermarck, Edvard A. (1921). The history of human marriage, 5th edn. London: Macmillan.
  42. ^Spiro, M. (1965). Children of the Kibbutz. New York: Schocken.
  43. ^Hartung, John 1985 “Review of Incest: A Biosocial View by J. Shepher in American Journal of Physical Anthropology 67: 167-171.
  44. ^Henry Main 1886 Dissertations on Early Law and Custom New York, p. 228.
  45. ^Livingstone, Frank B. 1969 “Genetics, Ecology, and the Origins of Incest and Exogamy” in Current Anthropology 10:45-62.
  46. ^Claude Lévi-Strauss, 1969 The Elementary Structures of Kinship revised edition, translated from the French by James Harle Bell and John Richard von Sturmer. Boston: Beacon Press. 13-14.
  47. ^Claude Lévi-Strauss, 1969 The Elementary Structures of Kinship revised edition, translated from the French by James Harle Bell and John Richard von Sturmer. Boston: Beacon Press.
  48. ^H. Befu “Social Exchange” in Annual Review of Anthropology. Volume 6, Page 255-281, Oct 1977.
  49. ^M.G. Peletz “Kinship Studies in Late Twentieth-Century Anthropology” in Annual Review of Anthropology. Volume 24, Page 343-372, Oct 1995.
  50. ^Leavitt, Gregory 1989 “Disappearance of the Incest Taboo” in American Anthropologist 91: 116-131.
  51. ^Marvin Harris 1997 Culture, People and Nature: An Introduction to General Anthropology 7th edition Longman pp 250, 311.
  52. ^Marvin Harris 1997 Culture, People and Nature: An Introduction to General Anthropology 7th edition Longman pp 317-318.
  53. ^Bixler, Ray 1982 “Comment on the Incidence and Purpose of Royal Sibling Incest” in American Ethnologist 9: 580-582.
  54. ^Hopkins, Keith 1980 “Brother-Sister Marriage in Ancient Egypt” in Comparative Studies in Society and History 22: 303-354.
  55. ^Charles Rycroft: A Critical Dictionary of Psychoanalysis (London, 2nd Edn, 1995).
  56. ^Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism. Ed Joseph Childers and Gary Hentzi. New York: Columbia University Press, 1995.
  57. ^Sigmund Freud, The Interpretation of Dreams, chapter V, “The Material and Sources of Dreams”, (D) Typical Dreams, New York: Avon Books, p. 296.
  58. ^Sigmund Freud, “The Passing of the Oedipus Complex”.
Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.