Diposting Kamis, 18 November 2010 jam 1:40 am oleh Gun HS

Statistik untuk Kelangsungan Hidup Orangutan di Indonesia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 18 November 2010 -


Orangutan yang terancam punah dapat dibawa kembali dari tepi jurang dengan bantuan statistik dari Universitas Teknologi Queensland (QUT). Profesor Kerrie Mengersen, dari Sekolah Matematika, ikut bagian dalam penelitian untuk memandu upaya-upaya menyelamatkan primata Indonesia.

Profesor Mengersen mengatakan, penelitian ini telah menemukan bahwa seperempat penduduk desa yang tinggal berdampingan dengan orangutan tidak tahu jika membunuh primata adalah ilegal berdasarkan hukum Indonesia, dan lima persennya mengaku telah membunuh 1000 orangutan tahun lalu.

Profesor Mengersen berpartisipasi dalam studi yang dijalankan oleh The Nature Conservancy (TNC) dalam pencarian mereka untuk melindungi orangutan di wilayah-wilayah Kalimantan dan Sumatra Indonesia.

Beliau merancang dan memimpin analisis statistik survei penelitian, yang melibatkan hampir 7000 warga desa.

Profesor Kerrie Mengersen (Kredit: QUT Markting and Communication/Erika Fish)

Selain mempelajari lokasi dan kelimpahan orangutan yang tersisa, penelitian ini juga menyelidiki isu-isu konflik dan perburuan.

“Tingkat pembunuhan lebih dari satu persen populasi orangutan per tahun, diperkirakan menyebabkan kepunahan tertentu di wilayah setempat, tetapi hasil survei menunjukkan tingkat pembunuhan lokal mungkin jauh lebih tinggi daripada ini,” kata Profesor Mengersen.

“Hanya lebih dari setengah pembunuhan yang dilaporkan untuk makanan, diikuti oleh lebih dari 10 persen, masing-masing untuk pertahanan diri, perlindungan tanaman dan alasan yang tidak ditentukan.

“Sangat sedikit yang dilaporkan membunuh untuk obat tradisional, menjual bayi orangutan untuk perdagangan hewan peliharaan, berburu untuk bersenang-senang atau yang dibayar untuk membunuh.”

Profesor Mengersen mengatakan, dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pembunuhan itu, kampanye pendidikan dapat disesuaikan untuk bidang-bidang tertentu dan kelompok budaya.

“Tidak ada satupun program konservasi yang efektif untuk menargetkan perburuan orangutan saat ini,” katanya.

“Tampaknya ada peningkatan peran pendidikan tentang perlindungan orangutan di bawah hukum Indonesia.”

Profesor Mengersen mengatakan bahwa survei juga menemukan warga desa yang merasa perlu mendukung pelestarian hutan, mengatakan bahwa hal ini berkontribusi terhadap kesehatan dan budaya mereka, tetapi juga menghargai layanan kesejahteraan, sekolah dan kesehatan yang diberikan, di mana hutan dibuka untuk industri, seperti minyak sawit dan perkebunan eukaliptus.

“Melalui kerja TNC serta lainnya, dan melalui penggunaan pemodelan statistik yang kuat, kita bisa belajar dari kekayaan pengetahuan dalam ‘mata dan telinga’ hutan ini dan belajar bagaimana bekerja lebih efektif ke arah tujuan untuk konservasi orangutan,” katanya.

Temuan Profesor Mengersen telah dipublikasikan dalam jurnal Significance, yang diterbitkan oleh Royal Statistical Society dan American Statistical Association.

Sumber Artikel: Orangutans count on stats for survival (news.qut.edu.au)
Kredit: Queensland University of Technology
Informasi lebih lanjut:
Kerrie Mengersen. The sound of silence: listening to the villagers to learn about orangutans. Significance, Volume 7, Issue 3, pages 101–106, September 2010,DOI: 10.1111/j.1740-9713.2010.00434.x

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.