Diposting Sabtu, 13 November 2010 jam 7:15 pm oleh Gun HS

Keanekaragaman Hayati di Hutan Tropis Justru Meningkat selama Pemanasan Global di Masa Purba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 13 November 2010 -


Tempat paling beruap di planet ini semakin panas. Perkiraan konservatif menunjukkan bahwa daerah tropis dapat meningkatkan suhu 3 derajat Celcius pada akhir abad ini. Apakah pemanasan global merupakan neraka bagi hutan tropis? Mungkin tidak.

Carlos Jaramillo, staf ilmuwan di Smithsonian Tropical Research Institute, bersama rekan-rekannya melaporkan dalam jurnal Science, bahwa hampir 60 juta tahun yang lalu hutan tropis dalam kondisi makmur pada suhu 3-5 derajat lebih tinggi dan pada tingkat karbon dioksida atmosfer 2,5 kali lipat dari saat ini.

“Kami akan memperoleh skenario iklim terbaru,” kata Joe Wright, staf ilmuwan di STRI, dalam sebuah simposium Smithsonian 2009 pada Threats to Tropical Forests. “Ini akan menjadi sangat panas dan basah, dan kita tidak tahu bagaimana spesies-spesies ini akan bereaksi.” Dengan melihat ke masa lalu, Jaramillo beserta kolaborator mengidentifikasi satu contoh iklim panas dan basah: hutan tropis adalah sampel yang sangat baik.

Sejumlah taksa serbuk sari dan spora yang hidup pada masa Paleocene-Eocene Thermal Maximum (Kredit: Maria Carolina Vargas)

Peneliti memeriksa serbuk sari yang terjebak di dalam inti dan lapisan bebatuan – dari Kolombia dan Venezuela – yang terbentuk sebelum, selama dan setelah peristiwa mendadak pemanasan global yang disebut Paleocene-Eocene Thermal Maximum, terjadi 56,3 juta tahun yang lalu. Dunia panas dengan 3-5 derajat C. Tingkat karbon dioksida dua kali lipat hanya dalam waktu 10.000 tahun. Kondisi panas berlangsung selama 200.000 tahun ke depan.

Berlawanan dengan spekulasi bahwa hutan tropis bisa hancur dalam kondisi seperti ini, keanekaragaman hutan justru meningkat pesat selama peristiwa pemanasan. Jenis tanaman baru berevolusi jauh lebih cepat daripada spesies lama yang telah menjadi punah. Serbuk sari dari keluarga tanaman passionflower dan keluarga cokelat, di antara yang lainnya, ditemukan untuk pertama kalinya.

Gambar hasil pemindaian mikroskop elektron ini menunjukkan karakteristik taksa serbuk sari angiosperma dari masa Paleocene-Eocene Thermal Maximum. (Kredit: Francy Carvajal)

“Sungguh luar biasa bahwa ada kekhawatiran begitu banyak tentang efek kondisi rumah kaca terhadap hutan tropis,” kata Klaus Winter, staf ilmuwan di STRI. “Namun, skenario horor itu mungkin memiliki beberapa validitas jika temperatur yang meningkat mengakibatkan kekeringan lebih sering atau lebih parah sebagaimana yang disarankan beberapa prediksi saat ini.”

Bukti dari penelitian ini menunjukkan bahwa kadar kelembaban tidak menurun secara signifikan selama peristiwa pemanasan. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa hutan tropis bernasib sangat baik selama periode pemanasan pendek dan intens.

“Smithsonian Tropical Research Institute merayakan ’100 Tahun Sains Tropis di Panama’ mulai tahun ini,” kata Eldredge Bermingham, direktur STRI. “Saat ini, para ilmuwan kami bekerja di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Kami memiliki eksperimen pemantauan global dan jangka panjang di tempat untuk mulai mengevaluasi skenario prediksi dampak perubahan iklim dan proses skala besar lainnya di hutan tropis.”

Penelitian ini didukung oleh Fundación Banco del la República de Colombia, National Geographic Society, Lembaga Smithsonian dan Komite Perempuan SI, ICP-Ecopetrol SA, US National Science Foundation dan Organisasi Belanda untuk Riset Ilmiah.

Sumber Artikel: Plant diversity in tropical forests increased during ancient global warming event (smithsonianscience.org)
Kredit: Smithsonian Tropical Research Institute
Referensi Jurnal:
Carlos Jaramillo, Diana Ochoa, Lineth Contreras, Mark Pagani, Humberto Carvajal-Ortiz, Lisa M. Pratt, Srinath Krishnan, Agustin Cardona, Millerlandy Romero, Luis Quiroz, Guillermo Rodriguez, Milton J. Rueda, Felipe de la Parra, Sara Morón, Walton Green, German Bayona, Camilo Montes, Oscar Quintero, Rafael Ramirez, Germán Mora, Stefan Schouten, Hermann Bermudez, Rosa Navarrete, Francisco Parra, Mauricio Alvarán, Jose Osorno, James L. Crowley, Victor Valencia, and Jeff Vervoort. Effects of Rapid Global Warming at the Paleocene-Eocene Boundary on Neotropical Vegetation. Science, 2010; 330 (6006): 957-961 DOI: 10.1126/science.1193833

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.