Diposting Kamis, 11 November 2010 jam 10:15 pm oleh Gun HS

Pemanasan Global Ekstrim di Masa Purba

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 11 November 2010 -


Berdasarkan temuan baru yang diterbitkan dalam jurnal Science, variasi dalam karbon dioksida atmosfer sekitar 40 juta tahun yang lalu erat dengan perubahan suhu global. Penelitian ini dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Utrecht, bekerja sama dengan rekan-rekan di Institut NIOZ Royal Netherlands untuk Studi Laut serta Universitas Southampton.

“Memahami hubungan antara iklim bumi dan karbon dioksida atmosfer pada geologi masa lalu dapat memberikan wawasan tentang sejauh mana pemanasan global di masa depan bisa dihasil dari emisi karbon dioksida yang disebabkan oleh aktivitas manusia,” kata Dr Steven Bohaty dari Sekolah Kelautan dan Ilmu Bumi (SOES) Universitas Southampton yang berbasis di National Oceanography Centre, Southampton.

Telah lama diketahui bahwa pemanasan jangka panjang di masa Eosen (~ 56-34 juta tahun yang lalu) dikaitkan dengan kadar karbon dioksida yang relatif tinggi di atmosfer. Namun, para ilmuwan sebelumnya tidak dapat menunjukkan hubungan erat antara variasi karbon dioksida atmosfer dan perubahan jangka pendek dalam iklim global.

Untuk mengisi kesenjangan dalam pengetahuan ini, penulis studi berfokus pada salah satu episode terpanas dari sejarah iklim bumi – masa Iklim Optimum Eosen Tengah (MECO), yang terjadi sekitar 40 juta tahun yang lalu.

Ganggang menggunakan fotosintesis untuk memanen energi matahari, mengubah karbon dioksida dan air ke dalam molekul organik yang diperlukan untuk pertumbuhan. Isotop karbon yang berbeda dan yang tergabung ke dalam molekul tergantung pada kondisi lingkungan di mana ganggang bertumbuh. Iklim purba dengan demikian dapat direkonstruksi dengan menganalisis rasio isotop karbon dari molekul yang terawetkan di dalam fosil ganggang.

Para peneliti menggunakan pendekatan ini untuk merekonstruksi variasi dalam tingkat karbon dioksida pada peristiwa pemanasan MECO, menggunakan fosil ganggang yang terawetkan di dalam inti sedimen, yang kemudian diekstraksi dari dasar laut dekat Tasmania, Australia, oleh Ocean Drilling Program. Mereka menyaring perkiraan terhadap kadar karbon dioksida dengan menggunakan informasi tentang ekosistem laut terakhir yang mempelajari perubahan dalam kelimpahan berbagai fosil kelompok plankton.

Analisis mereka menunjukkan bahwa kadar karbon dioksida MECO setidaknya dua kali lipat selama kurun waktu sekitar 400.000 tahun. Dalam hubungannya dengan temuan ini, analisis menggunakan dua wakil molekul independen untuk menunjukkan suhu permukaan laut bahwa iklim memanas hingga antara 4 dan 6 derajat Celcius selama periode yang sama.

“Kami menemukan hubungan yang erat antara kadar karbon dioksida dan suhu permukaan laut selama periode keseluruhan, menunjukkan bahwa peningkatan jumlah karbon dioksida di atmosfer memainkan peran utama dalam pemanasan global selama MECO,” kata Bohaty.

Para peneliti menganggap bahwa peningkatan kadar karbon dioksida atmosfer selama MECO mengakibatkan suhu global meningkat, bukan sebaliknya, dengan alasan bahwa peningkatan karbon dioksida memainkan peran utama.

“Perubahan karbon dioksida 40 juta tahun yang lalu terlalu besar untuk hasil dari perubahan suhu dan masukan yang terkait,” kata pemimpin penulis pendamping, Peter Bijl, dari Universitas Utrecht. “Sebuah perubahan besar dalam karbon dioksida secara pasti memberikan penjelasan yang masuk akal bagi perubahan suhu bumi.”

Para peneliti menunjukkan bahwa peningkatan besar dalam karbon dioksida atmosfer yang ditunjukkan oleh analisis mereka membutuhkan kemampuan sumber karbon alami menyuntikkan sejumlah besar karbon ke atmosfer.

Kenaikan pesat tingkat karbon dioksida atmosfer sekitar 40 juta tahun yang lalu kira-kira bertepatan dengan munculnya Himalaya dan mungkin berhubungan dengan hilangnya laut di antara India dan Asia sebagai akibat dari lempeng tektonik – gerakan skala besar kerak berbatu bumi (litosfer). Namun, seperti yang dijelaskan oleh Profesor Paul Pearson dari Universitas Cardiff dalam sebuah artikel perspektif terhadap makalah Science, inilah saatnya berburu terus untuk mengetahui penyebab pastinya.

Para peneliti adalah Petrus Bijl, Alexander Houben, Appy Sluijs, Henk Brinkhuis, Gert-Jan Reichart (Universitas Utrecht), Jaap Sinninghe Damsté dan Stefan Schouten (Institut Studi Laut NIOZ Royal Netherlands) dan Steven Bohaty (SOES). Penelitian ini didanai oleh Organisasi Belanda untuk Riset Ilmiah Universitas Utrecht dan Statoil, serta menggunakan sampel dan data yang disediakan oleh Ocean Drilling Program (ODP).

Sumber Artikel: Extreme global warming in the ancient past (eurekalert.org)
Kredit: National Oceanography Centre, Southampton (UK)
Referensi Jurnal:

  1. P. K. Bijl, A. J. P. Houben, S. Schouten, S. M. Bohaty, A. Sluijs, G.-J. Reichart, J. S. Sinninghe Damste, H. Brinkhuis. Transient Middle Eocene Atmospheric CO2 and Temperature Variations. Science, 2010; 330 (6005): 819 DOI: 10.1126/science.1193654
  2. P. N. Pearson. Increased Atmospheric CO2 During the Middle Eocene. Science, 2010; 330 (6005): 763 DOI: 10.1126/science.1197894
Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.