Diposting Rabu, 10 November 2010 jam 1:50 am oleh Gun HS

Otak Manusia Modern dan Neanderthal Berkembang secara Berbeda

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 10 November 2010 -


Para peneliti di Institut Max Planck (MPI) untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman, telah mendokumentasikan perbedaan spesies dalam pola perkembangan otak setelah kelahiran yang mungkin mempengaruhi adanya perbedaan kognitif antara manusia modern dan Neanderthal.

Ada tidaknya perbedaan kognitif di antara manusia modern dan Neanderthal merupakan subyek perdebatan dalam antropologi dan arkeologi. Karena berbagai ukuran otak manusia modern dan Neanderthal saling tumpang tindih, banyak peneliti mengasumsikan bahwa kemampuan kognitif dari dua spesies ini adalah serupa. Di antara manusia, bagaimanapun juga, organisasi internal otak lebih penting bagi kemampuan kognitif daripada ukuran absolutnya. Organisasi internal otak tergantung pada tempo dan modus perkembangan otak.

Berdasarkan pengukuran rinci perubahan bentuk internal tempurung otak selama pertumbuhan individu, sebuah tim ilmuwan dari MPI telah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola perkembangan otak di antara manusia dan Neanderthal selama fase penting dalam perkembangan kognitif.

Diskusi tentang kemampuan kognitif dari fosil manusia biasanya terfokus pada budaya material (misalnya kompleksitas proses produksi alat batu) dan volume tempurung kepala. “Interpretasi dari bukti arkeologi masih kontroversial, serta rentang ukuran otak manusia Neanderthal dan manusia modern saling tumpang tindih,” kata Jean-Jacques Hublin, direktur Departemen Evolusi Manusia MPI-EVA di Leipzig. Hublin menambahkan, “temuan kami menunjukkan bagaimana perbedaan biologis antara manusia modern dan Neanderthal mungkin berhubungan dengan perbedaan perilaku yang disimpulkan dari catatan arkeologi.”

Sebagaimana otak tidak memfosil, untuk fosil tengkorak, hanya jejak dari otak dan struktur sekitarnya pada tulang (disebut “endocast”) yang dapat dipelajari. Para peneliti menggunakan metode statistik keadaan-artisitik untuk membandingkan perubahan bentuk virtual endocast, yang diekstrak dari scan komputasi-tomografi. Bentuk bulat yang berbeda tempurung otak Homo sapiens dewasa sebagian besar merupakan hasil dari fase perkembangan otak yang tidak terjadi pada Neanderthal.

Salah satu kunci potongan bukti adalah rekonstruksi tengkorak bayi Neanderthal yang baru lahir. Pada tahun 1914, sebuah tim arkeolog Perancis telah menemukan kerangka bayi Neanderthal di penampungan batu Le Moustier di Dordogne. Tulang kerangka aslinya telah hilang bagi sains selama lebih dari 90 tahun, sampai akhirnya ditemukan kembali di antara koleksi museum oleh Bruno Maureille dan staf museum. Tulang asli bayi yang telah dipulihkan itu kini pada tampilan permanen di Musee National de Prehistoire di Les Eyzies-de-Tayac-Sireuil. Direktur museum Jean-Jacques Cleyet-Merle mengijinkan pemindaian fragmen halus menggunakan scanner komputasi-tomografi (muCT) beresolusi tinggi. Dengan menggunakan komputer di laboratorium virtual reality Institut Max Planck di Leipzig, Philipp Gunz dan Simon Neubauer kemudian merekonstruksi bayi Neanderthal dari potongan-potongan digital, seperti dalam sebuah puzzle tiga dimensi.

“Ketika kami membandingkan tengkorak Neanderthal dengan bayi manusia modern yang baru lahir, wajah Neanderthal sudah lebih besar pada saat kelahiran. Namun, perbedaan bentuk sebagian besar tempurung otak internal berkembang setelah lahir,” jelas Gunz. Baik neonatus Neanderthal maupun manusia modern memiliki otak yang memanjang pada saat kelahiran, tetapi hanya endocast manusia modern yang berubah menjadi bentuk yang lebih bulat pada tahun pertama kehidupan. Manusia modern dan Neanderthal mencapai ukuran otak orang dewasa melalui jalur perkembangan yang berbeda.

Dalam sebuah studi yang terkait, tim peneliti MPI yang sama, sebelumnya menunjukkan bahwa pola perkembangan otak simpanse sangat mirip dengan manusia setelah tahun pertama kehidupan, namun berbeda secara nyata langsung setelah kelahiran. “Kami menafsirkan aspek-aspek perkembangan yang terbagi di antara manusia modern, Neanderthal, dan simpanse adalah sebagai yang dilestarikan,” jelas Simon Neubauer. “Pola perkembangan ini mungkin tidak berubah sejak nenek moyang terakhir simpanse dan manusia beberapa juta tahun yang lalu.” Pada tahun pertama kehidupan, manusia modern, tetapi tidak Neanderthal, berangkat dari pola perkembangan otak leluhur.

Menetapkan saat perbedaan spesies di antara Neanderthal dan manusia modern dewasa muncul pada masa pengembangannya sangat penting untuk memahami apakah perbedaan dalam pola perkembangan otak mungkin mendasari perbedaan kognitif potensial. Seperti perbedaan antara manusia modern dan Neanderthal yang paling menonjol pada periode langsung setelah lahir, mereka mungkin memiliki implikasi bagi organisasi neuronal dan sinapsis berkembangnya otak.

Pengembangan kemampuan kognitif selama pertumbuhan individu terkait dengan pematangan pola sambungan yang mendasari otak; sekitar masa kelahiran, sirkuit saraf sangat jarang pada manusia, dan studi klinis telah mengaitkan peristiwa perubahan halus dalam perkembangan otak awal pada perubahan dalam pola sambungan saraf yang mempengaruhi perilaku dan kognisi. Hubungan antar wilayah otak yang berbeda yang dibentuk selama periode ini pada manusia modern adalah penting bagi tatanan sosial, emosional, dan fungsi komunikasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu tidak mungkin bahwa Neanderthal melihat dunia seperti yang kita lakukan.

Studi terbaru menunjukkan bahwa manusia modern memiliki pola perkembangan otak yang unik setelah kelahiran, yang memisahkan kita dari kerabat terdekat kita, Neanderthal. Pola unik perkembangan otak manusia modern awal sangat menarik bagi terobosan baru dalam proyek genom Neanderthal. Perbandingan genom Neanderthal dan manusia modern mengungkapkan beberapa wilayah dengan bukti kuat terhadap seleksi positif dalam Homo sapiens, yaitu seleksi yang terjadi setelah pemisahan di antara manusia modern dan Neanderthal. Tiga di antaranya mungkin penting untuk perkembangan otak, karena mereka mempengaruhi perkembangan mental dan kognitif.

“Temuan kami memiliki dua implikasi penting,” kata Philipp Gunz. “Kami telah menemukan perbedaan pola perkembangan otak yang mungkin mempengaruhi adanya perbedaan kognitif di antara manusia modern dan Neanderthal. Mungkin yang lebih penting, bagaimanapun juga, penemuan ini justru akan memberitahu kita lebih banyak tentang spesies kita sendiri daripada tentang Neanderthal, kami berharap temuan kami ini akan membantu mengidentifikasi fungsi beberapa gen yang menunjukkan bukti seleksi terbaru pada manusia modern.”

Sumber Artikel: The brains of Neanderthals and modern humans developed differently (mpg.de)
Kredit: Max-Planck-Gesellschaft
Referensi Jurnal:
Philipp Gunz, Simon Neubauer, Bruno Maureille and Jean-Jacques Hublin. Brain development after birth differs between Neanderthals and modern humans. Current Biology, Volume 20, Issue 21, R921-R922, 9 November 2010 DOI: 10.1016/j.cub.2010.10.018

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.