Diposting Senin, 1 November 2010 jam 4:30 pm oleh Gun HS

Wanita Hamil yang Mengkonsumsi Kacang Bisa Meningkatkan Resiko Alergi Kacang pada Bayi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 1 November 2010 -


Para peneliti menemukan bahwa bayi mungkin menghadapi peningkatan risiko alergi kacang jika ibu mereka memakan kacang selama kehamilan. Data ini dilaporkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology edisi 1 November.

Dipimpin oleh Scott H. Sicherer, MD, Profesor Pediatrik, Institut Jaffe Food Allergy di Mount Sinai School of Medicine, para peneliti dari lima bidang studi mengevaluasi 503 bayi di AS, berusia tiga hingga 15 bulan dengan kemungkinan alergi susu dan telur, atau yang diuji memiliki eksim signifikan dan positif alergi terhadap susu dan telur, yang merupakan faktor terkait dengan peningkatan risiko alergi kacang. Studi bayi ini tidak memiliki diagnosis alergi kacang sebelumnya. Sebanyak 140 bayi memiliki sensitivitas yang kuat terhadap kacang tanah berdasarkan tes darah, dan konsumsi kacang selama kehamilan adalah prediktor yang signifikan dari hasil pengujian.

“Para peneliti pada tahun-tahun belakangan ini telah meragukan peran konsumsi kacang selama kehamilan terhadap risiko alergi kacang pada bayi,” kata Dr Sicherer. “Meskipun studi kami tidak pasti menunjukkan bahwa wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi produk kacang selama kehamilan, ini menyoroti keperluan bagi penelitian lebih lanjut untuk membuat rekomendasi tentang pembatasan pola makan.”

Pada tahun 2000, American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa wanita yang bayinya mengalami peningkatan risiko alergi berdasarkan sejarah keluarga, disarankan menghindari produk kacang selagi masa hamil dan menyusui. Namun, rekomendasi tersebut ditarik pada tahun 2008 karena bukti ilmiahnya sangat terbatas untuk mendukungnya. Konsorsium Penelitian Alergi Makanan (CoFAR), yang hanya diberikan dana $29,9 juta dari National Institutes of Health, lalu melakukan studi observasional berkelanjutan untuk membantu lebih memahami faktor-faktor risiko di balik berkembangnya alergi kacang pada anak-anak, serta alergi terhadap susu dan telur. Konsorsium juga mempelajari pengobatan baru untuk alergi makanan.

Para penulis makalah mengingatkan bahwa studi ini memiliki keterbatasan, termasuk ketergantungan pada pelaporan-diri kebiasaan pola makan ibu-ibu hamil. Penelitian sejauh ini hanya menunjukkan peningkatan risiko dari hasil tes positif alergi kacang.

Meskipun serba terbatas, penelitian ini telah mengidentifikasi faktor risiko potensial yang, jika diverifikasi, bisa memberi peluang untuk mengurangi risiko. Para penulis menyimpulkan bahwa studi intervensi yang terkendali harus dilakukan untuk mengeksplorasi temuan ini lebih lanjut.

“Alergi kacang merupakan masalah yang serius, biasanya terus-menerus, berpotensi mematikan, dan tampaknya meningkat dalam prevalensi,” kata Dr Sicherer. “Studi kami merupakan langkah penting menuju pengidentifikasian langkah-langkah pencegahan yang, jika diverifikasi, dapat membantu mengurangi dampak dari alergi kacang.”

Sumber Artikel: eurekalert.org
Kredit: The Mount Sinai Hospital/Mount Sinai School of Medicine

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.