Diposting Minggu, 31 Oktober 2010 jam 4:11 am oleh Gun HS

Domba Liar Skotlandia Bisa Membantu Menjelaskan Perbedaan Imunitas

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 31 Oktober 2010 -


Kekebalan yang kuat mungkin memainkan peran dalam menentukan umur panjang, tetapi juga berefek pada berkurangnya kesuburan, demikian hasil kesimpulan dari hasil studi  Universitas Princeton. Studi 11 tahun terhadap populasi domba liar yang mendiami pulau terpencil di lepas pantai Skotlandia. Dengan mengukur kerentanan hewan tersebut terhadap infeksi, dapat memberi wawasan baru tentang mengapa beberapa orang lebih mudah sakit daripada yang lain bila terserang penyakit yang sama.

Jawaban teka-teki medis ini mungkin terletak pada perbedaan yang mengakar pada cara hewan bertahan hidup dan berkembang biak di alam. Hasil penelitian ini, yang dipimpin oleh seorang ahli ekologi Princeton, Andrea Graham, dipublikasikan dalam Science edisi 29 Oktober, menunjukkan bahwa populasi domba dari waktu ke waktu telah mempertahankan keseimbangan di antara yang lebih lemah dan lebih kuat berdasarkan kekebalan dan kesuburan.

“Ini merupakan studi inovatif, yang menurut saya, akan mengubah seluruh pemahaman kita tentang imunoheterogenitas pada populasi hewan,” kata Peter Hudson, Profesor Biologi Willaman dan direktur ilmu hayati di Universitas Penn State. “Graham beserta para koleganya menunjukkan indahnya pengorbanan dalam sistem kekebalan tubuh sebagai keseimbangan … yang memaksimalkan output reproduksi.”

Penelitian terhadap kekebalan domba liar terhadap infeksi dapat menghasilkan wawasan baru pada mengapa beberapa orang lebih mudah sakit daripada yang lain bila terkena penyakit yang sama. (Kredit: Kruuk Loeske/Universitas Edinburgh)

Graham, seorang asisten profesor ekologi dan biologi evolusi di Princeton, yang juga dari fakultas Universitas Edinburgh, memimpin studi domba Soay liar di pulau terpencil Hirta kepulauan St Kilda, sekitar 100 kilometer sebelah barat daratan Skotlandia.

Penduduk terakhir di St Kilda telah meninggalkan tempat itu sekitar 80 tahun yang lalu karena musim dingin yang keras dan kondisi kehidupan yang sulit. Domba-domba ternak yang mereka tinggalkan pada akhirnya tak terurus dan bebas berkeliaran. Karena tak ada lagi penggembala, domba-domba tersebut kini tunduk pada seleksi alam, membentuk suatu populasi yang relatif bisa diakses oleh penelitian.

Para ilmuwan menguji hewan tersebut pada tingkat antibodi, molekul alami yang dihasilkan oleh sistem kekebalan domba untuk menangkis infeksi seperti influenza atau yang disebabkan oleh cacing parasit. Setiap bulan Agustus selama 11 tahun, Dr Graham beserta rekan-rekannya mengambil  sampel kotoran domba untuk menghitung parasit di dalamnya, dan mengambil darah domba untuk mengukur produktivitas antibodinya.

Domba yang darahnya mengandung antibodi memiliki hidup yang lebih lama, kata para peneliti. Hewan ini juga paling mungkin mampu bertahan di musim dingin yang keras. Namun, mereka gagal memproduksi lebih banyak keturunan setiap musim semi dibandingkan domba-domba lain. Domba yang tingkat antibodi tergolong rendah, cenderung lebih cepat mati, tetapi justru melahirkan domba lebih banyak setiap tahunnya.

“Dasar genetik ini menunjukkan bahwa seleksi alam memiliki kesempatan untuk membentuk sifat tersebut,” kata Graham. Jika perbedaan respon terhadap infeksi masih dihasilkan di dalam persamaannya dengan keberhasilan reproduksi jangka panjang, ini berarti “seleksi tampaknya benar-benar akan mempertahankan variasi genetik pada kekebalan.”

Keseimbangan bisa membantu menjelaskan mengapa vaksin tampaknya melindungi beberapa orang lebih baik daripada yang lainnya, atau mengapa beberapa orang lebih banyak sakit daripada yang lainnya bila terkena infeksi yang sama.

“Kami telah lama menduga bahwa respon kekebalan yang kuat bisa memperpanjang hidup dalam menghadapi infeksi, tetapi mungkin juga mengorbankan reproduksi,” kata Graham. “Dengan menemukan bukti tersebut dapat menjelaskan mengapa hewan bervariasi sedemikian banyaknya dalam kekuatan respon kekebalan tubuh mereka, dan bahkan dalam kecenderungan mereka terhadap infeksi atau otoimun.

Teknik yang digunakan untuk mempelajari imunologi di alam liar adalah penting demi kepentingan penelitian, menurut Lynn Martin, asisten profesor di departemen biologi integratif Universitas South Florida.

“Selama ini, bidang imunologi didasarkan pada studi hewan peliharaan di lingkungan laboratorium yang bersih, di mana hewan diberi semua makanan yang mereka inginkan, tempat berlindung dan tidak adanya tantangan terhadap parasit,” kata Martin. “Kondisi demikian memang bagus untuk memperoleh rincian tentang bagaimana hewan berurusan dengan parasit pada tingkat molekuler dan seluler, tapi mereka tidak mewakili kondisi alam, dan mungkin membiaskan pemahaman kita tentang fungsi kekebalan tubuh.”

Penelitian ini juga menyoroti otoimun, ketika tubuh menunjukkan respon kekebalan yang kuat di mana ia menyerang jaringannya sendiri. Studi ini menunjukkan bahwa otoimun, yang terlihat pada penyakit manusia seperti lupus dan rheumatoid arthritis, mungkin juga bisa terjadi di alam liar. Aspek penelitian ini perlu dieksplorasi lebih lanjut, kata Graham.

Penelitian ini signifikan, menurut Andrew Read, seorang profesor biologi dan entomologi, juga dari Penn State, karena menunjukkan kekebalan yang dapat meningkatkan dan menurunkan keberhasilan evolusi, tergantung pada keadaan. “Ini adalah contoh kekuatan penelitian ekologi jangka panjang yang sangat baik,” kata Read, seorang ahli genetika evolusi penyakit menular.

Selain Graham, penulis di atas makalah termasuk Adam Hayward, Kathryn Watt, Jill Pilkington, Josephine Pemberton dan Daniel Nussey, semuanya dari Universitas Edinburgh.

Penelitian ini didanai oleh National Trust for Scotland, U.K. Natural Environment Research Council, serta U.K. Biotechnology and Biological Sciences Research Council.

Sumber Artikel:
nytimes.com
princeton.edu
Referensi Jurnal:
Andrea L. Graham, Adam D. Hayward, Kathryn A. Watt, Jill G. Pilkington, Josephine M. Pemberton, Daniel H. Nussey. Fitness Correlates of Heritable Variation in Antibody Responsiveness in a Wild Mammal. Science, 29 October 2010: Vol. 330. no. 6004, pp. 662 – 665 DOI: 10.1126/science.1194878

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.