Diposting Sabtu, 30 Oktober 2010 jam 3:29 am oleh Gun HS

Melacak Bukti Peristiwa ‘The Great Dying’

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 30 Oktober 2010 -


Lebih dari 251 juta tahun yang lalu, pada akhir periode Permian, bumi nyaris menjadi sebuah planet yang tak bernyawa. Sekitar 90 persen dari seluruh spesies hidup menghilang, peristiwa itulah yang disebut para ilmuwan sebagai “The Great Dying” (“Kematian Besar-besaran”).

Thomas J. Algeo, telah menghabiskan banyak dekade terakhir demi menyelidiki bukti kimia yang terkubur di bebatuan, yang terbentuk selama kepunahan besar. Profesor geologi Universitas Cincinnati ini bekerja sama dengan tim rekan ilmiahnya untuk memahami bencana purba tersebut. Algeo akan mempresentasikan temuan terakhirnya pada pertemuan tahunan Geological Society of America, tanggal 31 Oktober-3 November, di Denver.

Dunia yang diungkap oleh penelitian Algeo terdengar begitu mengerikan dan asing – sebuah lanskap vegetasi menjadi tandus dan hancur digoret oleh erosi dari hujan asam, “zona mati” raksasa di lautan beserta gas-gas rumah kaca menyebabkan temperatur mendesis. Seperti itulah bumi ini, 251 juta tahun yang lalu.

Sebelum erosi meningkat, laut Permian mendukung ekosistem yang beragam. (Kredit: Universitas Cincinnati)

Kepunahan yang lebih terkenal, peristiwa “KT”, terjadi di antara periode Cretaceous dan Tersier – masa di mana dinosaurus punah – dipicu oleh meteorit besar yang menghantam bumi. The Great Dying, antara periode Permian dan Trias, memiliki pelakunya yang berbeda.

“Peristiwa kepunahan Permian-Trias masih belum sepenuhnya dipahami,” kata Algeo. “Butuh beberapa waktu, tetapi akhirnya masyarakat geologi sadar bahwa itu bukan disebabkan oleh bola api meteorit.”

Algeo beserta rekan-rekannya dari seluruh dunia tengah membangun pemahaman yang lebih baik terhadap peristiwa terhapusnya kehidupan di planet kita. Pekerjaan ini melibatkan lima peneliti utama di samping Algeo. National Science Foundation telah memberikan bantuan beberapa substansial untuk mendukung penelitian tersebut.

Bukti Algeo dan rekan-rekannya adalah dengan mencari di titik-titik vulkanisme besar di Siberia. Sebagian besar Siberia barat mengungkapkan endapan gunung berapi setebal lima kilometer (tiga mil), meliputi wilayah yang setara dengan luas kontinental Amerika Serikat.

Setelah erosi besar-besaran, mikroba menyapu habis oksigen laut. (Kredit: Universitas Cincinnati)

“Itu merupakan pencurahan besar lava basaltik,” kata Algeo. Dan, lava mengalir di mana ia bisa paling membahayakan hidup, melalui endapan batu bara yang besar.

Algeo mencatat bahwa bola api meteor yang membunuh dinosaurus adalah mematikan karena menguapkan sedimen yang kaya belerang, sehingga curah hujan menjadi sangat asam. Efek dari letusan lava di Siberia juga diperkuat oleh endapan batubara.

“Letusan ini melepaskan banyak metana ketika terbakar melalui batubara,” katanya. “Metana 30 kali lebih efektif sebagai gas rumah kaca daripada karbon dioksida. Kami tidak yakin berapa lama efek rumah kaca berlangsung, namun tampaknya ribuan tahun, mungkin puluhan ribu tahun.”

Banyak bukti yang akhirnya tersapu ke lautan, dan di sanalah Algeo berserta para kolega mencarinya. Saat ini, endapan di dalam lautan tersebut ditemukan di Kanada, Cina, Vietnam, Pakistan, India, Spitsbergen dan Greenland.

Di Denver, Algeo, bersama Margaret Fraiser dari Universitas Wisconsin-Milwaukee, akan memimpin sebuah sesi pada “New Developments in Permian-Triassic Paleoceanography” untuk meninjau beberapa bukti baru yang telah dianalisis. Untuk sesi ini, Algeo menyumbang dua presentasi yang menyarankan letusan lava Siberia mungkin tidak hanya sebagai agen bagi kematian global selama periode Permian akhir.

Analisis kandungan karbon sedimen laut pada 33 lokasi di seluruh dunia menunjukkan pola yang sama, kecuali bebatuan yang sekarang terawetkan di Cina selatan. Batu yang paling terendapkan selama kepunahan menunjukkan peningkatan konsentrasi total karbon organik dan tingkat akumulasi karbon organik yang lebih tinggi, sedangkan sampel di Cina menunjukkan efek sebaliknya.

“Kemungkinan kita sedang melihat bukti adanya ledakan regional letusan gunung berapi,” kata Algeo. “Sedimen yang ada hanya tersterilkan. Ini, mungkin bahwa efek gabungan dari vulkanisme lokal dan perubahan iklim global adalah mematikan.”

Algeo juga akan mempresentasikan penelitian tentang kondisi yang menyebabkan penurunan oksigen di lautan selama akhir Permian. Iklim hangat global tentu berperan sebagai bagian kondisi panas secara seragam yang menghambat pembalikan oleh arus laut. Namun, Algeo percaya bahwa pelapukan kimiawi oleh hujan asam dan proses yang serupa juga ikut berkontribusi. Ketika tingkat normal tujuh kali erosi mengirimkan arus besar nutrisi ke laut, itu menciptakan kondisi semacam fertilisasi yang kita bisa lihat saat ini di dekat gerai sungai besar. Seperti halnya saat ini, kondisi tersebut menyebabkan kegilaan pola makan mikroba dan penghilangan oksigen – serta kehidupan – dari lautan di akhir Permian.

“Jika ada pelajaran untuk semua ini,” Algeo berkata, “itu merupakan peringatan bahwa hal-hal demikian bisa saja merusak cukup cepat dan cukup serius. Kita terbiasa dengan dunia yang lebih stabil, tetapi mungkin tidak selalu begitu stabil.”

Sumber Artikel: uc.edu

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.