Diposting Kamis, 28 Oktober 2010 jam 6:57 am oleh Gun HS

Bukti Terbaru Mendukung ‘Bumi Bola Salju’ sebagai Pemicu Evolusi Makhluk Hidup Awal

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 28 Oktober 2010 -


Sebuah tim ilmuwan yang dipimpin oleh ahli biogeokimia di Universitas California, Riverside, telah menemukan bukti baru yang menghubungkan peristiwa glasial “Bumi Bola Salju” pada peningkatan hewan-hewan awal.

Kontroversial hipotesis Bumi Bola Salju berpendapat bahwa bumi tertutup dari kutub ke kutub oleh lembaran tebal es abadi, dalam beberapa kesempatan, selama jutaan tahun. Glasiasi ini, yang paling terparah dalam sejarah bumi, terjadi 750-580 juta tahun yang lalu. Para peneliti berpendapat bahwa lautan setelah peristiwa ini mengandung banyak fosfor, suatu nutrisi yang mengontrol melimpahnya kehidupan di lautan.

Tim UC Riverside beserta para kolega melacak konsentrasi fosfor melalui sejarah bumi dengan menganalisa komposisi endapan kimia yang kaya besi, yang menumpuk di dasar laut, dan memulung fosfor dari air laut. Analisis mereka mengungkapkan bahwa ada lonjakan dalam kadar fosfor laut pada pertengahan Neoproterozoic (dari ~ 750 hingga ~ 635 juta tahun yang lalu).

Gambar ini menunjukkan pandangan dekat sampel bidang pembentukan besi 2,7 miliar tahun yang lalu dari Zimbabwe, yang digunakan dalam penelitian ini. Warna merah disebabkan oleh hematit mineral oksida besi. (Kredit: Lyons lab, UC Riverside)

Untuk menjelaskan konsentrasi tinggi ini secara anomali, para peneliti berpendapat bahwa peningkatan erosi dan pelapukan kimia pada tanah menyertai peristiwa glasial Bumi Bola Salju, menyebabkan jumlah fosfor menjadi tinggi di lautan. Melimpahnya nutrisi ini, yang penting bagi kehidupan, pada gilirannya, menyebabkan lonjakan dalam produksi oksigen melalui fotosintesis dan akumulasi di atmosfer, memfasilitasi munculnya kehidupan yang kompleks di bumi.

Hasil penelitian muncul di Nature edisi 28 Oktober.

“Dalam catatan geologi, kami menemukan sebuah tanda alam pada tingginya konsentrasi fosfor laut muncul segera setelah peristiwa glasial Bumi Bola Salju,” kata Noah Planavsky, penulis pertama makalah penelitian dan seorang mahasiswa pascasarjana di Departemen Ilmu Bumi. “Fosfor akhirnya membatasi produktivitas primer pada rentang waktu geologi. Oleh karena itu, tingkat tinggi fosfor laut akan memfasilitasi pergeseran ke sistem atmosfer lautan yang lebih kaya oksigen. Pergeseran ini bisa membuka jalan bagi munculnya hewan dan penganeka-ragaman ekologi mereka. Pekerjaan kami menyediakan sebuah hubungan mekanistik antara glasianisasi Neoproterozoic luas dan evolusi hewan awal.”

Gambar ini menunjukkan sebuah contoh inti gerek dari sedimen-sendimen kimia yang disebut formasi besi, di mana tim UCR gunakan untuk melacak konsentrasi fosfor laut. Inti Formasi Hotazel berusia sekitar 2,2 miliar tahun dari Afrika Selatan. (Kredit: Lyons lab, UC Riverside)

Planavsky menjelaskan hubungan antara konsentrasi fosfor laut dan tingkat oksigen di atmosfer.

“Tingkat tinggi fosfor akan meningkatkan produktivitas biologis di laut dan terkait dengan produksi oksigen oleh fotosintesis,” katanya. “Banyak dari bahan organik ini yang dikonsumsi, pada gilirannya, sebagai akibat dari reaksi respirasi yang juga mengkonsumsi oksigen. Bagaimanapun juga, penguburan dari beberapa proporsi bahan organik menghasilkan peningkatan kadar oksigen di atmosfer.”

Hingga saat ini, para ilmuwan percaya bahwa kondisi geokimia di laut yang kaya zat besi akan menyebabkan konsentrasi fosfor menjadi rendah. Para peneliti UC Riverside tidak menemukan bukti krisis fosfor setelah peristiwa glasial Bumi Bola Salju, namun, penemuan bukan mengindikasikan melimpahnya fosfor.

Penulis utama makalah, Noah Planavsky, meneliti bebatuan sedimen (diamictite) di Utara Norwegia yang tersimpan di dalam setelah meluasnya peristiwa glasial 'Bumi Bola Salju'. (Kredit: Lyons lab, UC Riverside)

“Ada beberapa sidik jari kimia yang dikenal untuk meningkatkan oksigen di laut dan, berdasarkan kesimpulan, di atmosfer selama pertengahan bagian Neoproterozoic, serta kemunculan hewan-hewan merupakan konsekuensi yang diharapkan,” kata Timothy Lyons, seorang profesor biogeokimia dan senior peneliti dalam studi tersebut. “Tapi hasil kami mungkin yang pertama untuk menangkap pendorong gizi yang berada di balik langkah besar dalam sejarah kehidupan, dan pendorong itu pada akhirnya terkait dengan periode iklim ekstrim.”

Para peneliti menyajikan data dari sekitar 700 sampel bebatuan yang kaya besi-oksida, yang termasuk hasil baru serta diperoleh dari survei literatur yang komprehensif.

Sumber Artikel: eurekalert.org

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.