Diposting Rabu, 27 Oktober 2010 jam 5:06 pm oleh Gun HS

Penemuan Spesies Baru, Monyet Berhidung Pesek, di Myanmar Utara

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 27 Oktober 2010 -


Sebuah tim ahli primatologi internasional telah menemukan spesies baru monyet di Myanmar Utara (dahulu Burma). Penelitian ini, yang diterbitkan di American Journal of Primatology, mengungkapkan bagaimana Rhinopithecus strykeri, satu spesies monyet berhidung pesek, memiliki hidung terbalik yang menyebabkannya sering bersin di saat hujan.

Ahli biologi lapangan yang dipimpin oleh Ngwe Lwin dari Asosiasi Keanekaragaman Hayati Dan Konservasi Alam Myanmar serta didukung oleh tim internasional ahli primatologi dari Fauna & Flora International (FFI) dan Yayasan Sumber Daya Manusia dan Keanekaragaman Hayati, menemukan spesies baru ini selama berlangsungnya Hoolock Gibbon Status Review nasional di awal tahun 2010. Para pemburu melaporkan adanya spesies monyet dengan bibir menonjol dan lubang hidung terbalik yang lebar.

Sebuah gambar yang direkonstruksi dengan Photoshop, berdasarkan monyet berhidung pesek Yunnan dan bangkai spesies yang baru ditemukan. (Kredit: Dr Thomas Geissmann)

Penampakan tersebut dilaporkan dari Himalaya timur ke timur laut Kachin, membawa tim peneliti untuk melakukan survei lapangan dan mengarah pada penemuan populasi kecil spesies baru, yang menampilkan karakteristik tidak seperti spesies berhidung pesek lain yang pernah dideskripsikan sebelumnya.

Thomas Geissmann, yang memimpin pendeskripsian taksonomi, menggambarkan bahwa monyet itu memiliki bulu hitam dengan warna putih hanya pada bagian jumbai telinga, jenggot dagu dan area kerampangnya. Ia juga memiliki ekor yang relatif panjang, sekitar 140% dari ukuran tubuhnya.

Spesies ini dinamakan Rhinopithecus strykeri untuk menghormati Jon Stryker, Presiden dan Pendiri Yayasan Arcus yang mendukung proyek tersebut. Namun, dalam dialek lokal disebut mey nwoah, yang arinya ‘monyet berwajah terbalik’.

Sementara spesies ini tergolong baru bagi ilmu pengetahuan, masyarakat lokal justru sudah mengenal hewan itu dengan baik dan mengklaim sangat mudah menemukan mereka di saat hujan karena hidung terbalik mereka seringkali kemasukan air hujan, dan itu menyebabkan mereka bersin. Untuk menghindari hidungnya kemasukan air hujan, mereka menghabiskan waktu selama hujan dengan duduk sembari menyelipkan kepala di antara lutut.

Frank Momberg, Koordinator Program Pembangunan Daerah FFI, Asia Pasifik, yang mewawancarai para pemburu lokal selama survei lapangan, menunjukkan bahwa spesies ini hanya berada di kawasan Sungai Maw. Area distribusi itu diyakini seluas 270 km persegi dengan perkiraan populasi hanya berkisar 260-330 ekor. Itu artinya, hewan ini sudah masuk dalam klasifikasi IUCN sebagai yang terancam punah.

Karena spesies monyet berhidung pesek ini mendiami Negara Kachin di Myanmar timur laut, secara geografis mereka terisolasi dari spesies lain oleh dua hambatan utama, Sungai Mekong dan Salween, yang mungkin menjelaskan mengapa spesies ini belum pernah ditemukan sebelumnya.

Menurut para pemburu lokal, monyet-monyet tersebut menghabiskan bulan-bulan musim panas, antara bulan Mei dan Oktober, di ketinggian yang lebih tinggi di hutan beriklim campuran. Di musim dingin mereka turun lebih dekat ke desa karena hujan salju membuat makanan menjadi langka.

Spesies monyet berhidung pesek ditemukan di beberapa bagian Cina dan Vietnam. Saat ini semua spesies dianggap terancam. Sampai sekarang tidak ada spesies yang telah dilaporkan berada di Myanmar. Namun, tambahan terbaru bagi keluarga berhidung pesek ini sudah sangat terancam. Hal ini dikarenakan tekanan perburuan meningkat akibat pembangunan jalan logging oleh perusahaan China, mulai merambah wilayah yang sebelumnya terisolasi.

Sumber Artikel: eurekalert.org

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.