Diposting Selasa, 26 Oktober 2010 jam 3:24 am oleh Gun HS

Hasil Program Konservasi Alam di Cina Mampu Meredam Dampak Kerusakan Akibat Gempa

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 26 Oktober 2010 -


Dampak dari gempa bumi yang menerpa Cina tahun 2008, secara substansial berkurang berkat program pelestarian lingkungan bagi beberapa habitat yang paling rapuh di beberapa pedesaan, demikian menurut riset yang dipublikasikan dalam sebuah jurnal Royal Swedish Academy of Science minggu ini.

Analisis pencitraan satelit disertai data lapangan oleh para ilmuwan di Universitas Michigan State dan di Cina menunjukkan bahwa gempa – dan tanah longsor yang dihasilkannya – mempengaruhi 10 persen dari hutan yang melindungi pegunungan, yang merupakan rumah bagi spesies langka, termasuk panda raksasa. Namun ini bisa saja lebih buruk.

“Program-program konservasi dan bencana alam seperti gempa bumi tersebar di seluruh dunia, tetapi sedikit yang diketahui tentang bagaimana mereka mempengaruhi satu sama lain,” kata Jianguo “Jack” Liu, direktur Pusat MSU untuk Sistem Integrasi dan Agribisnis (CSIS) yang menjabat Kepala Rachel Carson bagian Ketahanan. “Analisis ini merupakan upaya pertama untuk menghitung seberapa banyak bencana alam mempengaruhi hasil konservasi, dan bagaimana program konservasi mengurangi kerusakan bencana alam dan mengurangi berbagai dampak dari manusia.”

Analisis pusat gempa di Kabupaten Wenchuan Provinsi Sichuan, menunjukkan bahwa program konservasi nasional yang ekspansif tampaknya telah memberikan keuntungan yang signifikan. Hal ini berkat upaya perlindungan hutan dengan membatasi praktek-praktek yang merusak, seperti penebangan hutan dan pertanian di kawasan yang meliputi Cagar Alam Wolong, yaitu kawasan yang difokuskan bagi konservasi panda raksasa. Itu memberikan hutan sedikit penahan. Meskipun ribuan hektar hutan dan lapisan tanahnya telah terpangkas longsor akibat terpicu gempa, kawasan ini masih lebih banyak terlindungi oleh hutan dibandingkan gempa sebelumnya, kata Andrés Viña, peneliti CSIS.

“Delapan tahun konservasi menjadi berbalik akibat gempa – mengakibatkan terhapusnya banyak lahan hutan,” kata Viña. “Setelah gempa, 39 persen wilayah di Kabupaten Wenchuan terlindungi oleh hutan – Namun, seandainya tidak ada konservasi, analisis kami menunjukkan, akan hanya 33 persen saja wilayah yang terlindungi.”

Kebanyakan warga yang tinggal di Cagar Alam Wolong adalah etnis minoritas. Cara hidup mereka – yang mencakup penebangan hutan untuk lahan pertanian dan untuk kayu bakar serta penjualan kayu gelondongan yang menguntungkan – telah menjadi tantangan bagi negara untuk melindungi kawasan tersebut.

Kebijakan proteksi yang paling menonjol adalah Program Konservasi Hutan Alam, yang melarang penebangan dan membayar petani lokal untuk membantu memantau lahan demi mencegah adanya kegiatan ilegal. Program Grain ke Green mendorong para petani melakukan penghijauan kembali dataran bukit yang curam dengan menyediakan uang tunai, biji-bijian serta bibit pohon. Program-program ini berhasil meredam getaran penuh akibat gempa.

Gempa lantas membuka peluang yang lebih luas bagi upaya konservasi. Warga yang mendiami kawasan cagar alam di pegunungan, terpaksa meninggalkan rumah mereka yang rusak atau roboh. Dengan demikian, mereka ditawari insentif agar bersedia tinggal di kawasan yang lebih dekat dengan jalan utama.

“Hal ini memberikan kesempatan untuk memperluas upaya konservasi,” kata Zhiyun Ouyang, direktur dan profesor dari Lab Kunci Regional dan Daerah Urban Ekologi di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, Beijing. “Warga bisa didorong untuk pindah dari gunung jika pemerintah tidak mendukung pembangunan kembali di daerah yang sensitif secara ekologis, melainkan menawarkan insentif untuk membangun pada kawasan di mana orang dapat menjadi bagian dari restorasi hutan dan ekowisata.”

Ini merupakan salah satu bagian dalam upaya mendorong dan menarik pelestarian lingkungan sebagaimana para ilmuwan dalam segala disiplin berjuang menyeimbangkan kebutuhan warga yang tinggal kawasan yang kaya keragaman hayati, dengan melestarikan habitat-habitat yang berharga tersebut.

Kelompok Liu telah mempelajari kompleksitas cagar Wolong selama lebih dari 15 tahun, membuatnya menjadi sebuah laboratorium untuk masalah-masalah yang berperan bagi seluruh dunia. Konservasi terbukti bisa menjadi alat yang penting untuk melunakkan pukulan dampak dari bencana alam maupun manusia.

Artikel ini, yang muncul di Ambio, merupakan kolaborasi antara MSU, Universitas Harvard, Akademi Ilmu Pengetahuan Cina dan Cagar Alam Wolong.

Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation, NASA dan Yayasan Ilmu Pengetahuan Alam Nasional Cina. Penelitian Liu juga didukung oleh Michigan Agricultural Experiment Station di MSU.

Sumber Artikel: news.msu.edu

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.