Diposting Kamis, 21 Oktober 2010 jam 1:31 am oleh Gun HS

Otak Manusia Dapat “Melihat” Bentuk dengan Menggunakan Suara

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 21 Oktober 2010 -


Para ilmuwan di Montreal Neurological Institute and Hospital – The Neuro, Universitas McGill, telah menemukan bahwa otak kita memiliki kemampuan untuk menentukan bentuk suatu objek hanya dengan mengolah kode khusus suara, tanpa perlu input visual atau sentuhan. Penelitian terbaru ini tidak hanya memberitahu kita tentang plastisitas otak dan bagaimana memandang dunia di sekitar kita, tapi juga menyediakan kemungkinan penting dalam membantu mereka yang mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan.

Bentuk merupakan sifat yang melekat pada objek, yang direspon dengan penglihatan dan sentuhan tapi tidak dengan suara. Para peneliti di The Neuro lantas mengajukan pertanyaan ‘dapatkah bentuk diwakili oleh suara artifisial?’

“Fakta bahwa sifat suara, seperti frekuensi, dapat digunakan untuk menyampaikan informasi bentuk, menunjukkan bahwa selama hubungan spasial dikodekan secara sistematis, bentuk dapat dipertahankan dan dapat diakses – bahkan sekalipun medium yang melalui ruang adalah kode yang tidak spasial di alam fisik,” kata Jung-Kyong Kim, mahasiswa PhD dari laboraturium Dr Robert Zatorre di The Neuro, yang juga merupakan peneliti utama dalam studi ini.

Dengan kata lain, mirip dengan sepupu kita, lumba-lumba yang tinggal di laut, yang menggunakan echolocation[1] untuk mengeksplorasi lingkungannya, otak kita dapat dilatih untuk mengenali bentuk yang diwakili oleh suara. Harapannya adalah, orang-orang yang mengalami gangguan penglihatan dapat dilatih menggunakan kemampuan ini sebagai alat bantu.

Dalam studi tersebut, para partisipan yang dapat melihat ditutup matanya. Mereka kemudian dilatih untuk mengenali informasi spasial rabaan dengan menggunakan suara yang dipetakan dari bentuk-bentuk abstrak. Setelah pelatihan, individu mampu mencocokkan input pendengaran dengan bentuk yang dapat dilihat, dan menunjukkan generalisasi pada pasangan baru pendengaran-sentuhan atau suara-rabaan.

“Kita hidup di dunia di mana kita melihat objek dengan menggunakan informasi yang tersedia dari input-input sensorik ganda,” kata Dr Zatorre, ilmuwan saraf di The Neuro dan rekan direktur Laboratorium Internasional untuk Penelitian Musik dan Suara Otak. “Di satu sisi, pengorganisasian ini mengarah pada persepsi indera spesifik yang unik, seperti warna dalam penglihatan atau kepekatan dalam pendengaran. Di sisi lain, sistem perseptual kita dapat mengintegrasikan informasi yang tersaji pada indra yang berbeda dan menghasilkan representasi kesatuan sebuah obyek. Kita bisa melihat benda multiindrawi sebagai entitas tunggal karena kita dapat mendeteksi atribut yang setara atau pola-pola di keseluruhan indera yang berbeda.” Studi pencitraan neuro telah mengidentifikasi area otak yang mengintegrasikan informasi, yang datang dari indera-indera yang berbeda – menggabungkan input dari keseluruhan indera untuk menciptakan gambaran yang lengkap dan komprehensif.

Hasil dari studi The Neuro memperkuat hipotesis bahwa persepsi kita tentang objek atau peristiwa koheren akhirnya terjadi pada tingkat abstrak di luar cara-cara input sensorik tersajikan. Penelitian ini memberikan wawasan baru yang penting tentang bagaimana otak kita memproses dunia serta kemungkinan-kemungkinan baru bagi mereka yang inderanya mengalami gangguan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Experimental Brain Research. Memperoleh dukungan dana dari Institut Penelitian Kesehatan dan Ilmu Pengetahuan Alam Kanada serta Dewan Penelitian Tehnik Kanada.

Catatan:

1. Echolocation, disebut juga biosonar, adalah sistem indra sonar lumba-lumba yang digunakan untuk berkomunikasi dan untuk menentukan lokasi di lingkungan mereka (http://www.dolphinkind.com/echolocation.html).

Sumber Artikel: eurekalert.org
Referensi Jurnal:
Jung-Kyong Kim, Robert J. Zatorre. Can you hear shapes you touch? Experimental Brain Research, 2010; 202 (4): 747 DOI: 10.1007/s00221-010-2178-6

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.