Diposting Minggu, 17 Oktober 2010 jam 5:10 am oleh The X

Bumi yang terbakar

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 17 Oktober 2010 -


Sekitar 400 juta tahun lalu, muatan oksigen di atmosfer Bumi naik ke atas 13 persen. Karena api menyala berkat adanya oksigen, maka muatan oksigen yang tinggi di atmosfer ini meningkatkan kemungkinan kebakaran. Petir, letusan gunung berapi atau percikan dari batuan longsor dapat menyebabkan api menyala dan menjalar. Lapisan arang di endapan dari masa lalu menjadi saksi saat terjadinya kebakaran hutan di masa purba. Dan sejak itu, api menjadi bagian dari siklus alami di Bumi.

Hasilnya, sebagian besar hutan dan daerah liar harus beradaptasi dengan kebakaran. Setiap lahan ekosistem memiliki “interval api”, sebuah periode kebakaran musiman. Daerah dengan interval api yang pendek seringkali berjuang menghadapi kebakaran yang sering terjadi, walaupun dalam ukuran kecil yang hanya membakar vegetasi rendah. Kebakaran ini membersihkan tanah untuk kelahiran baru tumbuhan dan memperkayanya dengan mengubah bahan tanaman kaya nutrisi menjadi abu, yang tersiram oleh hujan dan salju yang meleleh. Daerah dengan interval api yang panjang, jarang mendapatkan kebakaran, walau begitu, ketika kebakaran terjadi, intensitasnya seringkali besar. Daerah ini sering menjadi rumah bagi pohon pinus berumur panjang yang benihnya disebarkan oleh hawa panas sang api. Kebakaran menjadi fenomena alam biasa, sama halnya dengan hujan ataupun badai.

Namun ketika siklus api alami sebuah daerah berubah, ketika kebakaran terlalu sering, terlalu besar atau terlalu luas, sebuah berkah menjadi bencana. Dan seperti inilah yang terjadi dalam beberapa puluh tahun terakhir di berbagai negara di dunia. Penelitian Anthony Westerling dari Lembaga Penelitian Sierra Nevada milik Universitas California di Merced, menemukan bahwa sejak pertengahan tahun 1980an, kemunculan kebakaran di daerah Amerika Serikat bagian barat meningkat sekitar 300 persen, dengan peningkatan daerah yang dilalap api mencapai 500 persen.

Sebagian kebakaran disebabkan oleh kondisi ekstrim dan kebetulan semata. Tim peneliti dari Penyelidikan Kejadian Iklim NOAA, menganalisa suhu tinggi dan curah hujan yang rendah yang menyebabkan kebakaran besar di Rusia bulan Agustus 2010 lalu. Tim peneliti ini menyimpulkan kalau cuaca panas dan kering yang menyebabkan gelombang panas besar ini tidak disebabkan oleh perubahan iklim. Berdasarkan penelitian ini, ia disebabkan oleh fenomena yang disebut blocking. Fenomena ini terjadi saat tekanan atmosfer mengganggu pola migrasi cuaca normal dari barat ke timur.

Walau begitu, pemanasan global juga dapat menyebabkan kebakaran. Suhu yang meningkat disertai pola cuaca yang berubah dapat menyebabkan kekeringan. Pada gilirannya kekeringan bukan hanya berakibat pada mengeringnya tanaman sehingga mudah terbakar, namun juga menghapus curah hujan yang menjadi pelindung alami terhadap kebakaran hutan. Perubahan kecil sedikit saja seperti yang dimunculkan Butterfly Effect, dapat menyebabkan bertambahnya jumlah kebakaran. Westerling mengungkapkan kalau perpanjangan musim kebakaran di Pegunungan Rocky di utara Amerika dapat menyebabkan salju meleleh lebih awal, menutupi daerah yang seharusnya kering sehingga semakin memperpanjang musim kebakaran. Dan penyebab ini semua adalah perubahan iklim.

Kebakaran hutan dapat melepaskan jutaan ton karbon ke atmosfer. Sementara itu, hutan menutupi 30 persen permukaan daratan di Bumi dan menjadi penadah karbon raksasa. Hutan dunia diperkirakan menyimpan lebih dari 300 miliar ton karbon, sebagian dilepaskan saat hutan ditebang atau terbakar. Tahun lalu, para ilmuan mengungkapkan kalau kebakaran menyumbangkan separuh karbon dioksida dibandingkan pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, gas alam atau batu bara. Penelitian mereka menunjukkan kalau kebakaran hutan dapat menyumbang secara nyata pada perubahan iklim dan emisi karbon dari kebakaran hutan menyumbang 19 persen terhadap efek rumah kaca di Bumi.

Tahun lalu, para peneliti dari Kantor Meteorologi Inggris menemukan jika emisi gas rumah kaca terus tak terawasi, suhu global akan naik 4 derajat Celsius di akhir abad ini. Lonjakan suhu ini akan menyebabkan wabah kekeringan dimana-mana. Kebakaran hutan semakin meningkat dan dimulailah lingkaran setan yang semakin memanaskan bumi.

Potongan melintang pohon sequoia raksasa menunjukkan cincin api, saat dimana terjadi kebakaran di sekitarnya

Bahkan asap dan arang yang dilepaskan kebakaran hutan dapat mempengaruhi lingkungan. Para ilmuan yang melaporkan kalau CO2 dari api menyebabkan 19 persen efek rumah kaca juga menemukan kalau awan asap dan partikel arang dapat menurunkan albedo Bumi dan membuat planet ini semakin gelap. Albedo adalah kemampuan untuk memantulkan energi kembali ke luar angkasa. Bila ia rendah, berarti sebagian besar energi terserap, memanaskan tanah dan samudera.

Solusi kebakaran hutan

Tahun 2008, para peneliti dari MIT menemukan kalau ketidak seimbangan pH antara pohon dan tanah tempatnya tumbuh menyebabkan ketidak seimbangan partikel bermuatan. Hal ini membuat batang pohon menghasilkan listrik. Para peneliti kemudian merancang sensor yang dapat mengumpulkan dan mengirimkan informasi mengenai suhu dan kelembaban udara dengan memakai baterai yang dicharge oleh pohon itu sendiri. Perusahaan sponsor penelitian ini, Voltree Power, berencana menyebarkan sistem sensor iklim berbasis pohon ini di seluruh AS untuk mendeteksi dan memperingatkan pemerintah tentang bahaya kebakaran hutan.

Sebenarnya perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab terganggunya siklus api. Justru 95 persen kebakaran hutan di sebabkan oleh manusia, terutama akibat kecerobohan. Membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan api unggun tetap menyala saat berkemah. Budaya tradisional juga menyumbang. Di Kalimantan misalnya, peladang berpindah membakar hutan dan lahan untuk membersihkan tanah untuk dijadikan sawah.

Usaha kita mengendalikan kebakaran hutan justru kadang menyebabkan situasi bertambah buruk. Untuk daerah yang memiliki interval api yang pendek, kebakaran perlu terjadi. Namun karena kita memadamkannya, interval api di daerah ini menjadi memanjang. Tanpa kebakaran, spesies alami di daerah tersebut akan mati tersedak karena ditimbun terus menerus oleh dedaunan, kayu yang mati dan bahan bakar kebakaran hutan lain yang tidak terbakar. Akibatnya, sekali terbakar, kebakaran yang terjadi sangat besar, sulit dikendalikan dan tidak dapat dihadapi oleh lingkungan dan manusia.

Metode yang tepat tentunya bukan memadamkan setiap kebakaran yang muncul, tetapi mengendalikan siklus api sehingga menjadi alami kembali. Kedengarannya aneh, kadang perlu bagi penjaga hutan untuk memberi dosis api dalam kondisi yang aman, dimana tidak ada angin, misalnya.

Penting juga mendeteksi ancaman kebakaran dengan berbagai cara. Mulai dari monitoring tradisional, pengawasan dari udara, satelit atau sensor pohon. Dengan menyadari peran kebakaran hutan bagi ekosistem Bumi, kita dapat mengurangi bahaya yang dapat ditimbulkannya, baik pada hutan, lahan, manusia, kehidupan dan iklim planet ini.

Referensi

1. Bormann, B.T., Homann, P.S., Darbyshire, R.L., Morrissette, B.A. Intense forest wildfire sharply reduces mineral soil C and N: the first direct evidence. Canadian Journal of Forest Research, 38(11): 2771%u20132783 (2008)

2. Earth on Fire. Science Illustrated 12 November 2010, pp. 50-54

3. Frank, D.C., Esper, J., Raible, C.C., Büntgen, U., Trouet,  V., Stocker, B., Joos, F. Ensemble reconstruction constraints on the global carbon cycle sensitivity to climate. Nature, 2010; 463 (7280): 527

4. Lyman, J.M., Good, S.A., Gouretski, V.V., Ishii, M., Johnson,  G.C., Palmer, M.D., Smith, D.M., Willis, J.K. Robust warming of the global upper ocean. Nature, 2010; 465 (7296): 334

5. Lutz et al. Twentieth-century decline of large-diameter trees in Yosemite National Park, California, USA. Forest Ecology and Management, 2009; 257 (11): 2296

6. Owen, B., Lee, D.S., Lim, L. Flying into the Future: Aviation Emissions Scenarios to 2050. Environmental Science & Technology, 2010; 44 (7): 2255

7. Prestemon, J. P.; Butry, D. T.; Abt, K.L.; Sutphen, R. Net Benefits of Wildfire Prevention Education Efforts. Forest Science, 56(2):181-192

8. Reid, D.M.; Qaderi, M.M. Methane emissions from six crop species exposed to three components of global climate change: temperature, ultraviolet-B radiation and water stress. Physiologica Plantarum, July 14, 2009

9. Swetnam, T.W., Baisan, C.H., Caprio, A.C., Brown, P.M.,  Touchan, R., Anderson, R.C., Hallett, D.J. Multi-Millennial Fire History of the Giant Forest, Sequoia National Park, California, USA. Fire Ecology, 2009; 5 (3): 120

10. Wiedinmyer, C., Hurteau, M.D. Prescribed Fire As a Means of Reducing Forest Carbon Emissions in the Western United States. Environ. Sci. Technol., 2010; 44 (6): 1926-1932

11. Wise, M., Calvin, K., Thomson, A., Clarke, L., Bond-Lamberty, B.,  Sands, R., Smith, S.J., Janetos, A., Edmonds, J. Implications of Limiting CO2 Concentrations on Land Use and Energy. Science, 2009

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.