Diposting Jumat, 15 Oktober 2010 jam 8:03 am oleh The X

Pola di noda bekas kopi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 15 Oktober 2010 -


Kopi dari Timur tengah memiliki campuran air, gula dan kopi halus yang digabung dalam sebuah ibrik lalu dituangkan kedalam cangkir kecil bersama ampas kopi. Saat kopi mendingin pada suhu yang dapat diminum, ampasnya perlahan turun ke dasar cangkir. Orang meminum kopinya ke lapisan terbawah dan meletakkan cangkirnya. Bila campuran cairan-ampas dibiarkan menguap beberapa jam, ampas membentuk pola garis tipis terang gelap di sekitar tepian cairan. Garis ini, masing-masing panjangnya beberapa milimeter dan tegak lurus dengan tepi cangkir, memiliki jarak yang seragam, seolah hasil lukisan. Apa penyebab pola ini?

Saat genangan kopi dibiarkan menguap di permukaan padat, genangan ini cenderung mengecil saat ia kehilangan air. Walau begitu, keliling (disebut garis kontak karena merupakan tempat kontak antara udara, zat cair dan zat padat) dapat merusak kesempurnaan permukaan padat, sebuah titik yang berbeda secara kimia. Garis kontak inilah yang tertahan dan tidak mampu mundur dari titik.

Penguapan, yang dapat terjadi dengan cepat pada lapisan tipis di tepi genangan, menyisakan residu apapun yang terlarut dalam air tersebut, yang disebut solut. Karena garis kontaknya tertahan, kopi mengalir menuju tepi dari tengah genangan untuk menggantikan air yang hilang karena penguapan. Karena itu, semakin banyak solut terendapkan di tepi, membangun cincin coklat yang pada akhirnya terlihat. Sekali cincin terbentuk, garis kontak semakin kuat tertahan.

Namun, saat cairan di tetesan ini lenyap, garis kontak dapat mengatasi penyematan dan akhirnya mundur ke dalam. Lalu ia kembali tertahan, dan cincin yang lebih kecil terbentuk. Aliran yang sama dapat meninggalkan cincin garam putih mengelilingi genangan air asin yang mengering.

Aliran yang sama dapat juga terjadi di tepi kopi Timur Tengah yang menguap bila  cairan sisa dalam cangkir dengan dinding miring sehingga tepian cairannya  dangkal. Selain itu, alirannya mengembang menjadi deretan sel-sel beraturan yang memberi ampas kopi yang halus dan gelap keluar ke tepi dan membawa cairan kembali dari tepinya. Aliran keluar mengendapkan solut di tepi; aliran masuk menyapu solut yang ada. Hasilnya adalah pola garis pendek beraturan, bergiliran terang gelap, disekitar dinding. Bahkan bila kopinya diaduk sebentar, sel-sel segera membangun dirinya kembali. Bila gula tidak disertakan di kopi, sel-sel ini tidak akan muncul.

Penjelasan sederhananya adalah saat air menguap dari tepi yang dangkal, cairan pengganti mengalir ke tepi, menarik beberapa ampas keluar sepanjang dinding cangkir. Ampas tersebut membentuk satu garis gelap dalam pola yang terbangun.

Saat cairan pengganti mencapai tepi dan mulai menguap, ia menjadi lebih terkonsentrasi dan karenanya memadat, dan mulailah ia tenggelam, menggelincir dari tepi sepanjang dinding cangkir yang melengkung. Aliran masuk tersebut menarik ampas dari tepi, menyisakan garis sempit dan membentuk satu garis cerah dalam pola. Persebaran ampas ini dapat terjadi hanya bila dinding cangkir memiliki kemiringan sedang. Dinding tegak (yang tidak memiliki tepi dangkal) dan dinding datar (dengan tepi lebar) tidak dapat menunjukkan efek ini.

Referensi

Walker, J. 2007. Flying Circus of Physics.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.