Diposting Jumat, 15 Oktober 2010 jam 5:00 am oleh Gun HS

Evolusi Kemasyarakatan Sama dengan Evolusi Biologis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 15 Oktober 2010 -


Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa evolusi masyarakat manusia – dari kelompok sederhana hingga menjadi negara yang kompleks – terjadi melalui serangkaian langkah-langkah kecil, yang pola gemanya terlihat dalam evolusi biologi.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di bidang psikologi dan evolusi dari Universitas Auckland, Universitas College London dan Universitas Tokyo.

“Pola historis yang luas pada meningkatnya kompleksitas politik, dari kelompok-kelompok kecil yang terkait dengan banyak individu hingga menjadi masyarakat yang luas, telah diamati di seluruh dunia sejak akhir Zaman Es terakhir,” jelas Profesor Russell Gray dari Universitas Auckland.

“Ada perdebatan mengenai apakah hal ini terjadi melalui serangkaian langkah-langkah kecil dan bertahap, dari suku-suku hingga chiefdom (jenis masyarakat dari berbagai tingkat sentralisasi, dipimpin oleh individu yang dikenal sebagai seorang kepala – wikipedia.org) hingga menjadi negara, ataukah melalui lompatan tanpa tahapan yang lebih besar. Peran penurunan dalam kompleksitas pada pola keseluruhan juga tidak jelas.”

Penelitian ini berfokus pada Austronesia, sebuah nama umum untuk kepulauan Pasifik, ditempati orang-orang yang dulunya meninggalkan Taiwan sekitar 5.200 tahun yang lalu. Keturunan mereka menyebar dari pulau ke pulau di hampir seluruh wilayah Oceania dan Asia Tenggara, dari Pulau Easter hingga ke Madagaskar. Sebagaimana pemukim menyebarkan bahasa mereka bercabang-cabang secara berulang kali, bentuk lokalnya hadir, di mana dalam beberapa kasus masih tetap ada hingga saat ini.

Thomas Currie dan Ruth Mace, dari Universitas College, London, menggunakan metode analisis dari biologi evolusioner untuk membandingkan enam model bersaing tentang evolusi politik di 84 masyarakat berbahasa Austronesia, dari kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik, termasuk New Zealand.

Modelnya berkisar pada model-model yang berbasis teori-teori tradisional evolusi sosial hingga ke model yang benar-benar tak terbatas, di mana prosesnya mungkin melompat di antara tahap-tahap kompleksitas sosial. Pada metode ini, masyarakat dipandang sebagai cabang pohon keluarga yang besar, seperti pohon evolusi biologi, namun karakteristik-karakteristik bahasanya digunakan sebagai pengganti data genetik.

Hasil penelitian menunjukkan, meskipun banyak jalur yang berbeda dari sejarah manusia, pola-pola dalam evolusi kebudayaan dapat dideteksi dengan menggunakan metode dengan studi evolusi biologi.

Para peneliti mendefinisikan kompleksitas politik sebagai jumlah lapisan otoritas lokal dan regional dalam masyarakat, dan menemukan contoh-contohnya di berbagai organisasi politik, dari masyarakat egaliter kecil di Iban Kalimantan, chiefdom sederhana di Pulau Easter, chiefdom yang lebih kompleks di Sumatra dan Tahiti, serta wilayah-wilayah seperti Jawa.

Model yang terbaik adalah model yang kompleksitas politiknya naik dan turun dalam serangkaian langkah-langkah kecil, dengan satu lapisan otoritas ditambahkan atau diambil pada suatu waktu. Model terbaik kedua adalah model kenaikan kompleksitas secara berurutan, namun penurunan kompleksitasnya pun bisa berurutan atau bahkan bisa terjadi penurunan yang lebih besar. Hal ini bisa terjadi jika suatu masyarakat runtuh sama sekali, misalnya, atau jika sebuah kelompok memisahkan diri untuk memulai sebuah koloni sederhana di tempat lain.

Currie mengatakan, ada persamaan antara evolusi biologis dan sosial, dengan kecenderungan meningkatnya kompleksitas, dan dengan persaingan yang memainkan peran penting. Hasilnya menunjukkan bahwa model yang tanpa tahapan, di mana peningkatan kompleksitasnya melalui lompatan besar, tidak terjadi selama masa evolusi masyarakat Austronesia. Langkah-langkah peningkatannya justru kecil dan bertahap. Tim peneliti menyimpulkan, hal ini mungkin karena psikologi lebih mudah beradaptasi pada kehidupan dalam kelompok kecil, dan merasa kesulitan dalam mengelola ulang lembaga yang ada, terutama ketika mereka menjadi besar dan melibatkan sejumlah besar individu.

Fitur penelitian menjadi sampul Nature dan disertai dengan komentar dari penulis terkenal, Jared Diamond. Ini juga akan menjadi fitur dalam podcast Nature.

Sumber:
physorg.com
sciencealert.com.au
Informasi lebih lanjut:
Rise and fall of political complexity in island South-East Asia and the Pacific, Nature 467, 801-804 (14 October 2010), doi:10.1038/nature09461

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.