Diposting Kamis, 14 Oktober 2010 jam 3:20 pm oleh Gun HS

Wilayah Otak yang Mengontrol Perilaku Impulsif Berhasil Ditemukan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 14 Oktober 2010 -


Perilaku impulsif dapat ditingkatkan dengan pelatihan dan peningkatan yang ditandai dengan perubahan otak tertentu, demikian menurut penelitian dari studi terbaru Universitas Queen.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh mahasiswa PhD neuroscience, Scott Hayton, telah menunjukkan bagian otak yang mengontrol perilaku impulsif dan mekanisme yang mempengaruhi bagaimana perilaku impulsif. Temuan ini bisa memiliki dampak yang signifikan terhadap diagnosis dan pengobatan beberapa gangguan serta kecanduan, termasuk ADHD dan alkoholisme.

“Di dalam kelas, anak-anak seringkali melontarkan jawaban sebelum mereka mengangkat tangan mereka. Seiring waktu, mereka belajar untuk menahan lidah dan mengangkat tangan sampai guru memanggil mereka. Kami ingin tahu bagaimana jenis pembelajaran terjadi di otak,” kata Mr Hayton, mahasiswa PhD di Pusat Studi Neuroscience di Queen’s. “Penelitian kami pada dasarnya mengatakan kepada kita letak  memori untuk jenis penghambat di otak, dan bagaimana itu disandikan.”

Tim melatih tikus-tikus untuk mengendalikan respon-respon impulsif sampai sinyalnya dipresentasikan. Sinyal listrik antar sel di lobus frontal otak semakin kuat karena mereka belajar untuk mengendalikan dorongan mereka. Hal ini menunjukkan impulsivitas yang terwakili, di wilayah otak tertentu, oleh perubahan dalam komunikasi antara neuron.

Mahasiswa PhD, Scott Hayton, peneliti utama studi baru yang telah menunjuk bagian otak yang bertanggung jawab untuk impuls. (Kredit: Universitas Queen)

Impulsivitas sering dianggap sebagai ciri kepribadian, sesuatu yang membuat satu orang berbeda dari yang lain.

Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar mengontrol respon seringkali mengalami masalah perilaku yang terus berlanjut hingga dewasa, kata Profesor Cella Olmstead, peneliti utama pada studi tersebut. Dia mencatat impulsif yang merupakan fitur utama dari gangguan, termasuk kecanduan, ADHD, gangguan obsesif kompulsif dan perjudian. Mengidentifikasi wilayah otak dan mekanisme yang mengontrol impulsivitas merupakan langkah penting dalam diagnosis dan perawatan kondisi ini.

“Dalam kondisi di mana pembelajaran tidak terjadi dengan benar, ada kemungkinan bahwa itu adalah mekanisme yang telah terganggu,” tambah rekan peneliti neuroscience, Profesor Eric Dumont.

Temuan ini dipublikasikan dalam The Journal of Neuroscience.

Sumber: queensu.ca
Referensi Jurnal:
S. J. Hayton, M. Lovett-Barron, E. C. Dumont, M. C. Olmstead. Target-Specific Encoding of Response Inhibition: Increased Contribution of AMPA to NMDA Receptors at Excitatory Synapses in the Prefrontal Cortex. Journal of Neuroscience, 2010; 30 (34): 11493 DOI: 10.1523/JNEUROSCI.1550-10.2010

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.