Diposting Rabu, 13 Oktober 2010 jam 6:31 pm oleh Gun HS

Perubahan Populasi: Pengaruh Besar Lain terhadap Perubahan Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Oktober 2010 -


Perubahan populasi, termasuk penuaan dan urbanisasi, secara signifikan dapat mempengaruhi emisi karbon dioksida global selama 40 tahun ke depan, demikian menurut sebuah studi baru.

Penelitian ini, yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), dilakukan oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional (NCAR), Institut Internasional untuk Analisis Sistem Terapan (IIASA), serta Administrasi Oseanografi dan Atmosfer Nasional. Didanai oleh Award European Young Investigator, Yayasan Hewlett, dan Yayasan Sains Nasional AS.

Pada pertengahan abad diperkirakan bahwa populasi global dapat meningkat lebih dari tiga miliar orang, dengan sebagian besar peningkatan yang terjadi di wilayah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan penduduk dapat berkontribusi secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada tahun 2050, para peneliti menemukan bahwa jika penduduk dibarengi salah satu jalur pertumbuhan yang lebih lambat, jalur yang diprediksi sebagai yang ideal oleh para ahli demografi di PBB, bisa menyediakan 16-29 persen pengurangan emisi yang dianggap perlu untuk menjaga suhu global dari timbulnya dampak serius. Pengaruh pertumbuhan penduduk yang lebih lambat pada emisi gas rumah kaca akan lebih besar pada akhir abad ini.

“Jika pertumbuhan populasi global melambat, ini tidak akan memecahkan masalah iklim, tetapi dapat memberikan kontribusi, terutama dalam jangka panjang,” kata penulis utama penelitian dan ilmuwan NCAR, Brian O’Neill.

Penulis mitra dan ilmuwan IIASA, Shonali Pachauri, mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk yang lebih lambat akan memiliki pengaruh yang berbeda, tergantung di mana itu terjadi. “Sebuah perlambatan pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang saat ini akan memiliki dampak yang besar pada ukuran populasi global di masa depan. Namun, pertumbuhan penduduk yang lebih lambat di negara maju juga akan menjadi masalah bagi emisi karena penggunaan energinya yang lebih tinggi per kapita,” kata Dr Pachauri.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa perubahan populasi akan memiliki beberapa efek pada emisi gas rumah kaca, tetapi ada perdebatan tentang seberapa besar pengaruhnya yang mungkin.

Urbanisasi dan penuaan

Para peneliti berusaha menghitung bagaimana perubahan demografis mempengaruhi emisi dari waktu ke waktu, dan di wilayah mana saja di dunia. Mereka juga meninjau di balik perubahan dalam ukuran populasi untuk meneliti hubungan antara penuaan, urbanisasi, dan emisi.

Tim menemukan bahwa pertumbuhan populasi perkotaan dapat menyebabkan kenaikan emisi karbon dioksida sebanyak 25 persen di beberapa negara berkembang. Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terkait dengan penduduk kota berhubungan langsung dengan peningkatan emisi, sebagian besar disebabkan oleh produktivitas yang lebih tinggi dan preferensi konsumsi angkatan kerja perkotaan.

Sebaliknya, penuaan dapat mengurangi tingkat emisi hingga 20 persen di beberapa negara industri. Hal ini karena populasi yang lebih tua berhubungan dengan partisipasi angkatan kerja yang lebih rendah, dan produktivitas yang lebih rendah sehingga menyebabkan menurunnya pertumbuhan ekonomi.

“Demografi akan peduli terhadap emisi gas rumah kaca selama 40 tahun mendatang,” kata O’Neill. “Urbanisasi akan menjadi sangat penting di negara-negara berkembang, terutama Cina dan India, dan penuaan akan menjadi penting di negara-negara industri.”

Para peneliti bekerja dengan proyeksi yang menunjukkan bahwa penuaan penduduk akan terjadi di semua wilayah di dunia, akibat orang yang hidup lebih lama dan penurunan kesuburan.

Skenario masa depan perilaku manusia

Para penulis mengembangkan seperangkat pertumbuhan ekonomi, penggunaan energi, dan skenario emisi, menggunakan model komputer terbaru (model Teknologi-Lingkungan-Penduduk, atau PET). Untuk menangkap efek dari perubahan demografi masa depan, mereka membedakan antara tipe rumah tangga, melihat pada usia, ukuran, dan lokasi perkotaan vs pedesaan.

Selain itu, mereka menarik data dari survei nasional yang meliputi 34 negara dan perwakilan dari 61 persen populasi global untuk memperkirakan karakteristik ekonomi kunci tipe rumah tangga dari waktu ke waktu, termasuk pasokan tenaga kerja dan permintaan barang konsumen.

“Rumah tangga dapat mempengaruhi emisi baik secara langsung, melalui pola konsumsi mereka, maupun tidak langsung, melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelas O’Neill.

Para penulis juga menyarankan bahwa para pengembang skenario emisi masa depan memberikan pertimbangan yang lebih besar bagi implikasi dari urbanisasi dan penuaan, khususnya di Amerika Serikat, Uni Eropa, Cina, dan India.

“Analisis lebih lanjut dari tren ini akan meningkatkan pemahaman kita tentang berbagai potensi permintaan energi dan emisi di masa depan,” kata O’Neill.

Para peneliti mengingatkan, dari penemuan mereka ini tidak berarti kebijakan yang memengaruhi penuaan atau urbanisasi harus dilaksanakan sebagai respon terhadap perubahan iklim, tetapi lebih karena pemahaman yang lebih baik dari tren ini akan membantu mengantisipasi perubahan di masa depan.

Sumber: International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA)
Referensi Jurnal:
Brian C. O’Neill, Michael Dalton, Regina Fuchs, Leiwen Jiang, Shonali Pachauri, and Katarina Zigova. Global demographic trends and future carbon emissions. Proceedings of the National Academy of Sciences, October 11, 2010

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.