Diposting Rabu, 13 Oktober 2010 jam 12:15 pm oleh The X

25 gagasan yang akan mengubah biologi dan geologi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Oktober 2010 -


Membuat buku-buku paket sekolah harus di revisi, dan beberapa teori besar runtuh dan tergantikan. Sebuah gagasan yang mungkin memunculkan Einstein baru, Darwin baru, dan tokoh-tokoh ilmuan raksasa lainnya.

Sel buatan

Menurut profesor Jack Szostak, peraih nobel fisiologi atau pengobatan tahun 2009, gagasan sel buatan dapat membawa kita pada mekanisme pasti asal usul kehidupan. Selama ini, walaupun para ilmuan mampu membuat kehidupan seluler, mekanisme tersebut belum pasti merupakan mekanisme yang digunakan alam. Bila ternyata ada 1001 cara dan kita menemukan cara 1 hingga 1000 sementara alam memakai cara 1001, jawaban kita tetap saja salah. Membangun satu demi satu sel buatan mungkin merupakan solusinya, mulai dari bagian-bagian manapun dalam sel, satu demi satu, hingga saat diberikan pada seorang ilmuan, ia tidak dapat membedakan mana sel yang asli dan mana sel yang buatan. Bila kita bisa membuatnya 100% sama, kita bisa memastikan cara apa yang digunakan alam.

Peristiwa Hengenberg

Kita tidak tahu bencana apa yang menghapus kehidupan 359 juta tahun lalu. Saat itu, peristwa Hengenberg terjadi dan menjadi masa penting dalam evolusi vertebrata. Tanpanya mungkin ikan bertulang rawan lah, seperti hiu dan pari, yang menguasai bumi, dan ikan bertulang sejati serta hewan berkaki empat tidak akan ber evolusi sebanyak sekarang. Apa sebenarnya penyebab peristiwa Hengenberg? Tidak ada yang tahu

Evolusi Super

Sejak kecil kita diajarkan kalau manusia adalah mahluk individu (reduksionisme) dan mahluk sosial (holisme) sekaligus. Biologi evolusi modern ternyata menemukan sesuatu yang mengejutkan dalam peran manusia sebagai mahluk sosial. Kita ibarat sel-sel penyusun tubuh organisme raksasa, sebuah organisme super yang dapat ber evolusi pula. Sekarang para ilmuan punya kajian baru yang mengawinkan biologi dan antropologi dan perkembangannya di masa depan sangat tak terduga.

Kendali Pikiran

Kombinasi teknik pencitraan, pengukuran pengalaman subjektif secara objektif dan studi tingkat sel dan molekul telah memperdalam pemahaman kita mengenai apa itu kesadaran. Sekarang kita tahu kalau kesadaran adalah keadaan halus yang sifat dan intensitasnya beraneka ragama tergantung pada tingkat aktivitas dalam otak, iklim mikro kimia dan informasi yang diperolehnya dari dunia luar. Kesadaran adalah kombinasi dari otak, syaraf, indera dan lingkungan. Langkah selanjutnya adalah bagaimana menggunakannya untuk kesejahteraan manusia.

Observatorium Samudera

Selama ini bagian planet Bumi yang terabaikan adalah samudera, semata karena kurangnya data. Kita perlu sebuah observatorium samudera, bukan sebuah penelitian berbasis pelayaran. Ini akan menjadi seperti film-film sains fiksi dimana koloni-koloni ilmuan di dasar laut tinggal, meneliti samudera dan saling terhubungkan ke berbagai koloni lainnya di sisi lain planet Bumi.

Enzim Buatan

Andai saja alam lebih efisien, hanya memakai satu enzim untuk segala jenis reaksi kimia, tentu kita sudah sejak lama menemukan obat segala penyakit. Tapi alam tidak demikian, hampir tiap reaksi biokimia memerlukan enzim yang berbeda. Seandainya para ilmuan mampu membuat satu enzim yang mampu mempercepat reaksi apa saja, maka bioteknologi akan maju ke taraf yang tak terbayangkan.

Proyek Seribu Genom

Walau proyek genom manusia selesai tahun 2000, masih banyak yang belum bisa kita capai. Masalahnya, walaupun pasangan basa manusia hanya berbeda 1 nukleotida dalam 1000 baris DNA, itu sudah cukup membuat saya berbeda dengan anda, atau kita berbeda dengan orang kulit putih. Proyek 1000 genom adalah proyek yang memetakan 1000 genom individu yang mewakili kelompok-kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia. Perhitungan memperkirakan ada 60 juta variasi dapat ditemukan dalam proyek seribu genom. Dalam beberapa tahun ke depan, proyek ini dapat terujud. Bila selesai, proyek ini akan mampu memberikan solusi atas berbagai penyakit yang berbasis variasi seperti penyakit yang hanya dirasakan oleh etnis-etnis tertentu saja. Mungkin latah salah satunya.

Jaring-jaring Kehidupan

Sejak lama pemikiran teori evolusi membayangkan kalau evolusi mahluk hidup berbentuk sebuah pohon, dimana satu spesies bercabang menjadi beberapa spesies terus menerus hingga miliaran tahun. Saat para ilmuan berhasil menemukan pohonnya, kita tertarik untuk mencabutnya, dan melihat akarnya. Sayangnya akar kehidupan ternyata berbeda. Studi genom bakteri menunjukkan kalau gen dapat muncul dari berbagai sumber, bukan hanya leluhur bersama. Akibatnya, dasar pohon evolusi bukanlah akar, tapi sebuah jaringan, sebuah jala laba-laba yang menyesatkan. Para ilmuan di masa depan perlu memeriksa kembali pohon evolusi, jangan-jangan pohon evolusi tidak ada, jangan-jangan yang ada adalah jaring-jaring evolusi.

Peta Otak (Connectome)

Sudah lama kita tahu kalau otak adalah jaringan. Setiap pemikiran, gagasan, emosi, khayalan, semua memiliki polanya sendiri-sendiri di otak. Sayangnya, kita hanya melihat garis besarnya saja. Kita tidak tahu bagaimana ia menjalar di tingkat sel. Karenanya memahami rute yang diambil sel-sel otak untuk berbagi informasi akan menjadi langkah besar dalam memahami fungsi otak. Hal ini pekerjaan yang mencengangkan. Ada 100 miliar sel syaraf di otak dan satu sel syaraf dapat berhubungan dengan 10 ribu sel syaraf lainnya. Kita bisa melihat satu sel syaraf dan kemana ia bersambungan dengan mikroskop elektron, tapi melihat jumlah di atas, hal ini tampaknya mustahil. Namun, melihat perkembangan teknologi pencitraan otak kita sekarang yang tak terbayangkan 100 tahun lalu, bisa jadi di masa depan, kita punya sebuah alat yang mampu memotret jaringan-jaringan otak sekaligus, tanpa melewatkan satu sel pun, tanpa melewatkan satu kabel sambungan sel pun.

Peta Sel (Interactome)

Protein dan RNA, molekul yang disandikan oleh gen kita, jarang bekerja sendiri-sendiri. Mereka berinteraksi dengan protein lainnya. Pada dasarnya, proyek ini sama dengan peta otak, hanya saja ia lebih kecil, yaitu pada tingkat satu sel saja. Telah lama kita membayangkan kalau sel adalah seperti pabrik yang rumit. Kerumitan muncul karena desain yang buruk. Seorang perancang cerdas tentu membuat pabrik yang efisien dan sesederhana mungkin, bukannya rumit di sana sini penuh hal-hal yang tidak perlu. Tapi demikianlah sel. Dan akibatnya, para ilmuan begitu kesulitan memetakannya. Bila peta sel terwujud, kita akan beranjak ke yang lebih besar lagi, seluruh tubuh manusia. Bukan hanya sel syaraf otak, tapi sel di ginjal, sel di kuku kaki, ujung jari, lengkap dengan protein dan RNA nya. Peta ini disebut interactome, yang menekankan kalau yang kita pelajari adalah interaksi antara protein, RNA, DNA dan sel keseluruhan dengan sel lainnya, DNA lain, RNA lain, atau protein lain.

Kitalah pengendali Kenyataan

Di buku sekolah kita diajarkan bahwa lingkungan mengirimkan sinyal ke indera, lalu indera meneruskan ke otak, hingga kita melihat bahwa, katakanlah benda tersebut daun. Begitu juga indera lain. Karenanya, dua orang yang melihat daun yang sama, akan menganggap mereka melihat daun yang sama. Tapi orang gila menunjukkan hal yang sepenuhnya berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak ada. Gangguan mental menunjukkan proses terbalik, otaklah yang menentukan realitas kita, bukan lingkungan. Karenanya, gagasan filsafat masa lalu yang menyatakan kalau segalanya adalah ilusi, tampaknya harus dipandang serius oleh sains. Bagaimana kalau orang gila sesungguhnya yang normal, sementara yang gila adalah kita? Dan Normalitas hanyalah masalah mayoritas, seperti demokrasi? Sayang, kita belum punya cara untuk memeriksanya. Bila ini benar, jelas sains akan menjadi sangat berbeda di masa depan.

Museum virtual, langkah awal augmented reality

Perubahan Iklim

Pemanasan global sesungguhnya berdampak lebih besar di samudera. Air di beberapa tempat menjadi lebih hangat. Air hangat kurang mampu melarutkan oksigen ketimbang air dingin. Akibatnya, mahluk hidup disana dapat sesak napas dan berpindah ke air yang dingin. Kita yang hidup di darat mungkin tidak langsung terpengaruh, namun dalam jangka panjang, kita akan kekurangan ikan. Tapi sebelum kita kekurangan ikan, bahaya lain muncul. Air hangat dapat mengundang ledakan populasi bakteri penghasil nitrous oxide, sebuah gas rumah kaca. Bumi akan semakin panas, bahkan bila kita mematikan sumber-sumber pemanasan global di daratan sekarang. Jadi apa cara menghentikan pemanasan samudera? Tidak ada yang tahu. Bila kita tahu, dan melakukannya, mungkin masa depan tidak terlalu horor.

Proyek Fenom manusia (Human Phenome project)

Di SMP kelas 3 kita diajarkan kalau ada dua jenis unsur dasar keunikan individu, genotipe dan fenotipe. Genotipe adalah gen, potongan-potongan DNA yang memiliki fungsi khusus. Fenotipe adalah ujud dari gen tersebut pada diri manusia, seperti warna rambut, warna mata, penyakit tertentu, dan praktis segalanya yang terlihat pada individu yang disebabkan oleh gen di tubuhnya. Variasi wajah manusia misalnya, begitu banyaknya hingga tidak ada dua orang yang memiliki wajah yang sama. Walau begitu, wajah tersebut hanya dipengaruhi oleh beberapa perbedaan kecil di gen yang mengatur bentuk wajah. Proyek fenom manusia akibatnya sebuah proyek yang luar biasa, ia menghitung semua kombinasi fenotipe yang mungkin ada pada manusia. Bila proyek ini ada dan selesai, dengan berbekal satu sel, anda bisa tahu seorang manusia, seperti apa wajahnya, tubuhnya, sel-selnya, kecerdasannya dan sebagainya. Cukup satu sel. Katakanlah sel dari makam Alexander the Great. Tidak ada lagi keraguan seperti apa wajahnya, seperti apa gayanya, seperti apa tubuhnya. Semua dapat terlihat jelas dalam satu sel. Sebaliknya juga berlaku, potret seorang manusia dapat mengungkapkan seluruh bagian tubuh lainnya, kecerdasannya dan sifat-sifatnya. Tidak satupun teknologi kita sekarang mampu melakukan proyek fenotipe manusia, tapi bila mampu, tak terbayangkan apa pengaruhnya bagi kehidupan kita. Seolah menelanjangi semua manusia.

Peta Bumi

Kita sudah melihat kemampuan Google Earth melihat setiap jengkal di permukaan Bumi. Tapi Bumi kita tiga dimensi. Permukaannya hanyalah bagian kecil, kecil sekali. Kita hanya tahu kulit sebuah jeruk dengan ketelitian mencengangkan, tapi kita tidak tahu seperti apa isi dari jeruk tersebut dengan ketelitian yang sama. Kita hanya tahu didalamnya ada isi jeruk yang manis, tapi detil biji, butiran jeruk dan sebagainya kita tidak tahu. Begitu pula pengetahuan kita tentang Bumi. Rencananya tahun 2011, para ilmuan di kapal Chikyu milik Jepang berencana pertama kalinya dalam sejarah, menjamah mantel bumi. Mesin bor mereka akan membuat lobang yang terdalam yang pernah ada, menjulur hingga puluhan kilometer ke bawah sana. Walau terdengar begitu hebat, ini barulah langkah kecil, sangat kecil, dalam usaha mengetahui seluruh isi planet Bumi.

Peran kehidupan di Bumi

Paleobiologi adalah ilmu yang sulit. Pada dasarnya ia merangkak ke masa lalu dan berusaha untuk tidak kehilangan satupun petunjuk. Sekarang ada wacana baru yang muncul dari paleobiologi. Jangan-jangan kehidupan lah membuat Bumi seperti ini. Mungkin kah kita merupakan hal tak terelakkan bagi evolusi? Ambil contoh, diduga kalau kejadian bumi salju di masa lalu akibat dari melimpahnya bakteri fotosintesis yang memakai karbon dioksida. Mereka akhirnya kehabisan karbon dioksida dan mati, membuat bumi menghangat. Karbon mengendap di dasar laut dan hewan ber evolusi menjadi pencerna karbon (bukan lagi karbon dioksida). Jadi mungkin saja, ada interaksi yang tak terelakkan, mungkin di planet lain, ada mahluk yang benar-benar mirip kita, dan mahluk cerdas akan seperti kita, primata dan bahkan mungkin seperti wujud kita sendiri. Telah lama gagasan kalau alien pasti tidak seperti manusia karena evolusi menempuh begitu banyak cabang yang mungkin, tapi paleobiologi tampaknya setuju dengan visi Star Trek atau Star Wars, dimana alien dan manusia mirip dalam bentuk dan ujudnya satu sama lain.

Teknik Bumi

Kita punya teknik listrik, sebuah bidang fisika terapan semenjak dua ratus tahun lalu. Setengah abad lalu kita punya teknik genetik, sebuah bidang biologi terapan. Bagaimana bila di masa depan ada teknik bumi? Teknik bumi atau rekayasa Bumi adalah sebuah manipulasi skala besar lingkungan planet untuk menghadapi perubahan iklim. Teknik bumi memiliki dua pendekatan, satu adalah memantulkan balik sinar matahari ke luar angkasa, dua adalah menghilangkan karbon dioksida dari udara dan menyimpannya di bawah tanah. Bidang ini erat kaitannya dengan politik karena memakan biaya yang luar biasa. Mungkinkah tercapai sebelum kita membayar lebih mahal lagi, mungkin dengan kepunahan spesies kita sendiri?

Kecerdasan super

Percaya atau tidak, sekarang sudah ada obat yang dapat meningkatkan kemampuan otak beberapa kali lipat. Namanya Ritalin dan Adderal. Obat ini dipakai khusus untuk penderita penyakit ADHD dan Alzheimer. Penyakit ADHD merupakan penyakit gangguan belajar sementara Alzheimer adalah penyakit gampang lupa. Penelitian menunjukkan kalau kedua obat ini juga meningkatkan konsentrasi dan daya ingat pada orang sehat. Tidak ada alasan untuk tidak membagikannya kepada seluruh umat manusia, kecuali masalah politik dan ekonomi.

Neuron Cermin

May 2010 ada penemuan mengejutkan. Para ilmuan mampu pertama kalinya mengukur penembakan sel syaraf (neuron) cermin pada manusia secara langsung, lewat elektroda yang ditanam di otak pasien epilepsi yang menunggu pembedahan. Neuron cermin merupakan kunci dari bagaimana kita belajar dan berpikir. Orang yang tidak dapat belajar, mungkin saja neuron cerminnya tidak menembak. Dan jurus ninja bayangan Sikamaru adalah proses menembakkan sel syaraf cermin dari orang yang terkena jurus tersebut. Bila benar neuron cermin merupakan kunci utama peniruan individu terhadap individu lainnya, maka penguasaannya bisa sama hebatnya dengan penguasaan teknologi nuklir di perang dunia kedua. Bisa jadi senjata, bisa jadi sebuah sumber kesejahteraan manusia. Bayangkan, tidak perlu lagi berpikir untuk bisa belajar cara mengendalikan komputer, upload datanya ke neuron cermin dan seperti adegan di film Matrix, seketika Neo mampu menguasai seluruh jurus bela diri yang ada di dunia.

Neuron Cermin, yang membuat kita manusia

Jurassic Park

Sepuluh tahun lalu, kita merasa mustahil untuk tahu DNA dinosaurus seperti apa, DNA bakteri pertama di dunia seperti apa. Tapi bulan Maret kemarin, terobosan muncul saat para ilmuan berhasil memecahkan seluruh sandi genetik Neanderthal. Ini memang langkah kecil sekali. Neanderthal baru punah beberapa ribu tahun lalu, bandingkan dengan dinosaurus yang sudah ratusan juta tahun. Tapi kemajuan memang kadang dimulai dengan langkah kecil seperti ini. Cukuplah 5 % DNA dari sampel purba, dengan bantuan sampel DNA yang telah ada dari spesies yang mirip, ilmuan dapat menarik generalisasi. Ambil contoh DNA dinosaurus, kita butuh 5% saja, sisanya kita bisa lihat pada pola DNA kadal. Mungkinkah Jurrassic Park akan terwujud? Sepertinya ya, bila kita bisa memecahkan misteri ini.

Haplocheirus sollers

Rekayasa kehidupan

Ini mungkin dilakukan dan sudah berkali-kali di lakukan. Ambil seuntai DNA, lepaskan beberapa nukleotida, ganti dengan pasangan basa baru. Lihat fenotipe yang muncul. Teknik ini dipakai pada bakteri, tapi kemungkinannya tidak terbatas. Bagaimana kalau dikombinasikan dengan kloning manusia? Tidak ada yang tahu akibatnya seperti apa.

Fotosintesis Buatan

Daun itu indah. Di sisi lain, matahari adalah sumber energi terbesar yang kita tahu dan dapat ditemukan di mana-mana. Dengan fotosintesis buatan, kita bukannya membuat gula seperti yang dilakukan daun, tapi membuat bahan bakar seperti hidrogen, metanol atau beraneka jenis bahan bakar yang lebih padat sesuai dengan mesin yang memakainya. Departemen Energi AS telah membiayai proyek fotosintesis buatan dengan biaya $122 juta. Mudah-mudahan proyek ini cepat berujud sebelum kita kehabisan bahan bakar fosil yang ada sekarang.

Ekologi Finansial

Seleksi alam yang ada di alam memiliki analog di dunia ekonomi, istilahnya “tangan yang tak terlihat”. Sayangnya pengetahuan kita tentang ekonomi masih jauh dibandingkan kemampuan kita tentang ekologi. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati, seperti itu peribahasa yang bisa dimunculkan oleh sebuah sistem komputasi yang menghitung segala interaksi di pasar modal. Ganti pasar modal atau pelaku ekonomi dengan mahluk hidup, maka yang kita peroleh adalah prediksi tentang ekologi alam. Ini tidaklah mudah, karena sampai sekarang krisis ekonomi masih saja terjadi. Dengan adanya model matematika demikian, seharusnya krisis ekonomi tidak ada lagi. Para peraih kebijakan ekonomi cukup mencoba pendekatan lain, memeriksanya dengan komputer, dan jika tidak terjadi krisis ekonomi dan menghasilkan keuntungan besar, kebijakan tersebut bisa dipakai.

Sel batang endogen

Di film sains fiksi, seorang prajurit tertembak di tangannya, tapi dengan sebuah semprotan, luka tersebut menutup dan tangan sang prajurit pulih seperti sedia kala. Itulah yang dijanjikan oleh penelitian sel batang. Kita mampu menyembuhkan begitu banyak jaringan tubuh yang rusak atau digerogoti penyakit. Hal ini sudah biasa ditemukan di alam. Axolotl misalnya, mampu menumbuhkan kembali tangannya bila putus. Dalam beberapa puluh tahun ke depan, tampaknya kita dapat hidup abadi karenanya.

Kebudayaan sebagai parasit

Otak manusia tidaklah homogen. Ia menonjol di sana sini. Terbagi seperti geografi permukaan Bumi. Ada bagian otak untuk belajar, ada bagian otak untuk berkhayal. Tampaknya kebudayaan dibentuk oleh otak kita sendiri. Bila demikian, ada sebuah batas yang tidak terlampaui bagi otak manusia. Kita mungkin dekat dengan batas ini sekarang, dan akhirnya tiba pada masa dimana kemajuan dan penemuan tidak lagi ada. Otak kita telah kering oleh penemuan baru. Mungkin penerusnya adalah para robot, manusia jenis baru atau apapun yang tidak lagi memakai otak kita untuk berpikir.

Vaksin flu universal

Iklan Lifebouy terbaru sangat tepat. Di situ seorang dokter  berkata : Kuman terus ber-evolusi. Benar sekali. Kuman terus berevolusi dan karenanya kita berada dalam perang terus menerus. Kuman tahun 1900 jauh berbeda dengan kuman tahun 2000. Kuman tahun 2000 lebih hebat dan lebih kebal bila memakai obat tahun 1900. Tapi di tahun 1900, obat ini mampu menghabisi kuman di masa itu. Sebagian dari kuman tersebut telah ber evolusi dan memaksa kita mencari obat jenis baru yang lebih hebat lagi. Salah satu kuman ini adalah kuman penyebab flu. Ambil contoh kemunculan flu burung dan flu babi. Di masa depan, entah flu apa yang akan menyerang. Bagaimana kita menghentikannya? Adakah sebuah vaksin flu universal yang mampu menghabisi mutasi flu jenis apapun?

Sumber utama

Fifty Ideas that Will Change Science Forever. New Scientist, 9 oktober 2010, p.30-41

Referensi silang

1. Richard E. Green, Johannes Krause, Adrian W. Briggs, Tomislav Maricic, Udo Stenzel,Martin Kircher, Nick Patterson, Heng Li, Weiwei Zhai, Markus Hsi-Yang Fritz, Nancy F. Hansen, Eric Y. Durand, Anna-Sapfo Malaspinas, Jeffrey D. Jensen,Tomas Marques-Bonet Can Alkan, Kay Prüfer, Matthias Meyer, Hernán A. Burbano, Jeffrey M. Good, Rigo Schultz,Ayinuer Aximu-Petri, Anne Butthof, Barbara Höber, Barbara Höffner, Madlen Siegemund, Antje Weihmann, Chad Nusbaum, Eric S. Lander, Carsten Russ, Nathaniel Novod, Jason Affourtit, Michael Egholm, Christine Verna, Pavao Rudan, Dejana Brajkovic, Zeljko Kucan, Ivan Gusic, Vladimir B. Doronichev, Liubov V. Golovanova, Carles Lalueza-Fox, Marco de la Rasilla, Javier Fortea, Antonio Rosas, Ralf W. Schmitz, Philip L. F. Johnson, Evan E. Eichler, Daniel Falush, Ewan Birney, James C. Mullikin, Montgomery Slatkin, Rasmus Nielsen, Janet Kelso, Michael Lachmann, David Reich, Svante Pääbo. A Draft Sequence of the Neandertal Genome.  Science, vol. 328, p. 710

2. Roy Mukamel, Arne D. Ekstrom, Jonas Kaplan, Marco Iacoboni, Itzhak Fried. Single-Neuron Responses in Humans during Execution and Observation of Actions. Current Biology, vol. 20, p.750

3. Gary Shaffer, Steffen Malskær Olsen; Jens Olaf Pepke Pedersen. Long-term ocean oxygen depletion in response to carbon dioxide emissions from fossil fuels. Nature Geoscience, vol. 2, p.105

4. Stanislas Dehaene. Reading in the Brain, Viking, 2009

5.  Lauren Cole Sallan and Michael I. Coates. End-Devonian extinction and a bottleneck in the early evolution of modern jawed vertebrates. PNAS 2010 107 (22) 10131-10135; published ahead of print May 17, 2010, doi:10.1073/pnas.0914000107

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.