Diposting Senin, 11 Oktober 2010 jam 11:16 pm oleh Gun HS

Indeks Menunjukkan Peningkatan Kelaparan Global secara Signifikan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 11 Oktober 2010 -


Lebih dari satu milyar orang di dunia kini mengalami kekurangan gizi, demikian menurut indeks terbaru.

Indeks Kelaparan Global tahun 2010 menunjukkan bahwa gizi buruk pada anak-anak merupakan penyebab terbesar kelaparan di seluruh dunia, terhitung hampir setengah dari mereka yang terkena dampaknya.

Negara-negara di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan telah terbukti memiliki tingkat  kelaparan tertinggi.

Para penulis laporan ini menghimbau negara-negara di dunia untuk mengatasi kekurangan gizi anak-anak ini agar dapat mengurangi tingkat kelaparan global.

Indeks Kelaparan Global dikeluarkan oleh International Food Policy Research Institute (IFPRI), Welthungerhilfe and Concern Worldwide.

Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mendefinisikan kelaparan sebagai konsumsi yang lebih rendah dari 1.800 kilokalori sehari – yang minimum diperlukan untuk hidup sehat dan produktif.

Peta Indeks Kelaparan Global tahun 2010, hasil penghitungan yang dilakukan di 122 negara berkembang dan transisi.

Meskipun jumlah orang yang kekurangan gizi di dunia sempat menurun antara tahun 1990 dan 2006, para penulis laporan ini mengatakan bahwa jumlahnya telah merangkak naik dalam beberapa tahun terakhir, dengan data dari tahun 2009 menunjukkan lebih dari satu miliar orang mengalami kelaparan.

Indeks Kesehatan Global (GHI) melakukan penghitungan pada 122 negara berkembang dan transisi.

Dua puluh sembilan negara – sebagian besar di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan – memiliki tingkat kelaparan yang dideskripsikan sebagai yang “sangat mengkhawatirkan” atau “mengkhawatirkan”.

GHI menunjukkan peningkatan kelaparan di sembilan negara; Korea Utara dan delapan negara Afrika sub-Sahara. Republik Demokratik Kongo merupakan negara yang memiliki tingkat kelaparan terbesar di antara negara lainnya; GHI meningkat lebih dari 65%.

Nilai ini didasarkan pada proporsi orang-orang yang kekurangan kalori, proporsi anak balita yang memiliki berat badan lebih rendah serta tingkat kematian anak.

Harga pangan global yang tengah menghadapi krisis dan resesi di seluruh dunia telah memberi kontribusi bagi tingginya angka kelaparan baru-baru ini, kata laporan itu.

Anak-anak di bawah usia dua tahun dianggap paling beresiko. Kekurangan gizi pada tahap ini merugikan perkembangan fisik dan mental, dan sebagian besar efeknya tak dapat diperbaiki akibat kerusakan yang telah berlangsung lama.

Di beberapa negara Afrika sub-Sahara, misalnya Burundi dan Madagaskar, sekitar separuh anak-anak telah terhambat pertumbuhannya karena tidak memiliki akses pada pola makan yang tepat.

Para penulis laporan berpendapat bahwa meningkatkan gizi anak-anak akan memiliki pengaruh paling besar dalam mengurangi tingkat kelaparan global.

Mereka memperkirakan bahwa kekurangan gizi pada anak-anak bisa dipangkas hingga sekitar sepertiganya dengan menyediakan peningkatan pelayanan kesehatan dan gizi, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk ibu selama kehamilan dan menyusui.

Marie Ruel, direktur Divisi Kemiskinan, Kesehatan dan Gizi IFPRI, yang juga adalah penulis mitra dalam laporan tersebut, mengatakan banyak negara harus segera mempercepat kemajuan dalam mengurangi kekurangan gizi anak.

“Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa jendela kesempatan untuk meningkatkan rentang gizi pada masa dalam kandungan hingga usia dua tahun,” katanya.

“Setelah usia dua tahun, sebagian besar dampak negatif dari gizi buruk tersebut tidak dapat diubah.”

Laporan ini menambahkan bahwa mengurangi jumlah orang kelaparan juga akan secara signifikan meningkatkan produktivitas dan pembangunan ekonomi.

Sumber: bbc.co.uk

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.