Diposting Senin, 11 Oktober 2010 jam 1:42 am oleh Gun HS

Ilmuwan Mengkonfirmasi Bakteri Penyebab Wabah “Black Death”

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 11 Oktober 2010 -


Pengujian terbaru yang dilakukan oleh para antropolog di Universitas Mainz Johannes Gutenberg (JGU) telah membuktikan bahwa bakteri pestis Yersinia merupakan bakteri terkait sebagai agen penyebab “Black Death”, peristiwa maut di Eropa pada Abad Pertengahan.

Penyebab epidemi selalu menjadi sangat kontroversial, dan patogen sering disebut sebagai penyebab yang mungkin, khususnya untuk daerah Eropa bagian utara. Dengan menggunakan analisis DNA dan protein dari kerangka korban wabah, sebuah tim internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Mainz, kini telah secara meyakinkan menunjuk pestis Yersinia sebagai bakteri yang bertanggung jawab sebagai penyebab Black Death di abad ke-14 dan juga epidemi berikutnya yang terus berlanjut di seluruh benua Eropa selama 400 tahun ke depan. Pengujian yang dilakukan pada bahan genetik dari kuburan massal di lima negara juga mengidentifikasi setidaknya dua jenis pestis Yersinia yang sebelumnya tidak diketahui, yang berlaku sebagai patogen.

“Temuan kami menunjukkan bahwa wabah melakukan perjalanan ke Eropa setidaknya dalam dua saluran, yang kemudian pergi dengan cara individual mereka sendiri,” jelas Dr Barbara Bramanti dari Institut Antropologi Universitas Mainz. Hasil kerja ini, yang diterbitkan dalam jurnal terbuka PLoS Pathogens, kini memberikan dasar yang diperlukan untuk melakukan rekonstruksi rinci sejarah tentang bagaimana penyakit ini menyebar.

Selama beberapa tahun, Barbara Bramanti telah meneliti epidemi besar yang merajalela di seluruh Eropa, dan konsekuensi selektifnya menjadi bagian dari proyek yang didanai oleh Yayasan Riset Jerman (DFG). Untuk hasil kerja yang baru-baru ini diterbitkan, 76 kerangka manusia diperiksa dari kuburan massal, yang diduga merupakan korban wabah di Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Belanda. Sementara infeksi lain seperti kusta dapat dengan mudah diidentifikasi karena jangka waktu kematian yang relatif panjang akibat kerusakan tulang, sedangkan masalah yang dihadapi dalam pencarian korban wabah terletak pada kenyataan bahwa penyakit itu dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu beberapa hari dan tidak meninggalkan jejak yang terlihat.

Posisi geografis lima situs arkeologi yang diselidiki. Titik hijau menunjukkan situs. Juga menunjukkan dua kemungkinan rute infeksi yang independen (panah titik-titik hitam dan merah) bagi penyebaran Black Death (1347-1353) setelah Benedictow. (Kredit: Besansky dkk, Distinct Clones of Yersinia pestis Caused the Black Death. PLoS Pathogens, 2010; 6 (10): e1001134 DOI: 10.1371/journal.ppat.1001134)

Dengan keberuntungan, DNA patogen masih mungkin bertahan selama bertahun-tahun dalam pulpa gigi atau jejak protein dalam tulang. Meskipun kemudian sulit dideteksi, dan bisa saja terdistorsi melalui kontaminasi yang mungkin terjadi. Tim yang dipimpin oleh Bramanti menemukan hasil dengan menganalisa material genetik tua, yang juga dikenal sebagai DNA purba (aDNA): Sepuluh spesimen dari Perancis, Inggris, dan Belanda menunjukkan gen spesifik pestis Yersinia. Karena sampel dari Parma, Italia dan Augsburg, Jerman tidak memberikan hasil, maka mereka menjadi sasaran metode lain yang dikenal sebagai immunochromatography (mirip dengan metode yang digunakan dalam tes kehamilan di rumah, misalnya), kali ini berhasil dengan sukses.

Setelah infeksi pestis Yersinia telah secara meyakinkan terbukti, Stephanie Hänsch dan Barbara Bramanti menggunakan analisis pada sekitar 20 penanda untuk menguji apakah di situ terdapat pula jenis bakteri yang dikenal sebagai “orientalis” atau “medievalis”. Tapi tak satu pun dari kedua jenis itu yang ditemukan. Sebaliknya, dua bentuk yang tidak diketahui telah teridentifikasi, lebih tua dan berbeda dari patogen modern yang ditemukan di Afrika, Amerika, Timur Tengah, dan wilayah-wilayah bekas Uni Soviet. Salah satu dari dua jenis tersebut, yang dianggap telah memberi kontribusi signifikan terhadap peristiwa bencana wabah di abad ke-14, kemungkinan besar sudah tidak ada lagi pada masa sekarang. Yang lainnya lagi tampaknya memiliki kesamaan dengan jenis yang baru-baru ini terisolasi di Asia.

Dalam rekonstruksi mereka, Hänsch dan Bramanti menunjukkan jalur infeksi yang merambat dari transportasi awal patogen, dari Asia ke Marseille pada November 1347, melalui Prancis barat ke Prancis utara dan langsung menuju Inggris. Karena berbagai jenis pestis Yersinia ditemukan di Bergen op Zoom di Belanda, dua ilmuwan ini percaya bahwa di bagian Selatan Belanda tidak secara langsung terinfeksi dari Inggris atau Perancis, tetapi lebih cenderung dari Utara. Hal ini akan menunjukkan rute lain bagi infeksi, yang merambat dari Norwegia melalui Friesland dan tiba di Belanda. investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap rute lengkap dari epidemi tersebut.

“Sejarah pandemi ini,” kata Hänsch, “jauh lebih rumit dari yang kami duga sebelumnya.”

Catatan: Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memberikan nasihat medis, diagnosis atau perawatan.
Sumber: sciencedaily.com
Berita di atas berasal dari bahan-bahan yang disediakan oleh Universitas Mainz Johannes Gutenberg.
Referensi Jurnal:
Nora J. Besansky, Stephanie Haensch, Raffaella Bianucci, Michel Signoli, Minoarisoa Rajerison, Michael Schultz, Sacha Kacki, Marco Vermunt, Darlene A. Weston, Derek Hurst, Mark Achtman, Elisabeth Carniel, Barbara Bramanti. Distinct Clones of Yersinia pestis Caused the Black Death. PLoS Pathogens, 2010; 6 (10): e1001134 DOI: 10.1371/journal.ppat.1001134

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.