Diposting Sabtu, 9 Oktober 2010 jam 2:06 pm oleh The X

Kelelawar mencari serangga

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 9 Oktober 2010 -


Namun, beberapa tipe kelelawar dapat mendeteksi dan menangkap serangga, seperti ngengat, saat keduanya sedang terbang. Walau kelelawar terbangnya cepat, ia dapat menangkap serangga dan memakannya. Bagaimana kelelawar dapat mendeteksi keberadaan serangga sekaligus arah dan kecepatan terbangnya?

Kenapa kelelawar lebih cekatan menangkap ngengat yang terbang di dekat lampu uap raksa (biasa digunakan buat lampu jalan) daripada di lapangan? Kenapa perbedaan ini hilang ketika lampunya diganti dengan lampu uap sodium?

Saat fisikawan Jearl Walker dari Universitas Negeri Cleveland menjelajahi gua di Texas barat, ia menghabiskan waktu akhir minggunya di bawah tanah. Dua kali dalam semalam ribuan kelelawar terbang melewatinya, pertamaa saat mereka masuk ke pintu gua dan kemudian keluar dari gua untuk mencari makanan dan nanti mereka akan kembali ke kedalaman gua. Tidak pernah sekali, bahkan dalam kegelapan mutlak di jalanan gua yang berliku, seekor kelelawar menabraknya atau menabrak dinding. Bagaimana mereka mampu menghindari tabrakan demikian?

Seekor kelelawar memancarkan ledakan gelombang suara pada frekuensi yang terlalu tinggi untuk kita dengar. Dalam daerah yang disebut ultrasonik. Suara ini, yang mungkin dipancarkan lewat lubang hidung kelelawar, terpantulkan dari benda di jalur kelelawar, seperti dinding, stalagmit atau serangga terbang. Gema dari benda tersebut mengingatkan sang kelelawar kalau benda tersebut ada di sana. Namun, teknik ini bermasalah bagi kelelawar yang terbang sekaligus beramai-ramai serentak ke arah yang sama seperti keluar atau memasuki gua: Bagaimana kelelawar dapat membedakan gema suaranya sendiri dengan gema suara kelelawar lainnya? Jawabannya adalah tiap sinyal kelelawar dibedakan berdasarkan frekuensinya, perubahan frekuensinya dan perubahan amplitudonya. Masih, kemampuan membedakan sinyal diantara belasan atau ratusan sinyal lainnya, sambil terbang menuju ke dinding merupakan kemampuan yang mengagumkan.

Sang kelelawar mendapatkan tambahan informasi bukan semata dari gema karena ia sensitif dengan ingsutan gema dalam frekuensi karena gerakannya. Anggaplah sang kelelawar memancarkan suara pada frekuensi tertentu saat terbang menuju sebuah tembok. Gema tersebut kembali kepada sang kelelawar dengan frekuensi lebih tinggi dan dikatakan mengalami ingsutan Doppler. Semakin cepat sang kelelawar terbang ke dinding, semakin besar frekuesi gema yang beringsut. Sang kelelawar memakai ingsutan Doppler untuk menentukan kecepatannya.

Beberapa kelelawar memancarkan suara dengan frekuensi yang tetap dan menggunakan ingsutan Doppler bukan hanya untuk mendeteksi halangan namun juga serangga.

Kelelawar lainnya memakai suara yang menyapu lewat sebuah rentang frekuensi. Dengan menganalisa ingsutan Doppler pada berbagai frekuensi, sang kelelawar dapat menentukan tampilan permukaan target dan membedakan gema yang dikembalikan oleh seekor serangga dengan gema yang dikembalikan oleh daun, misalnya. Tugas ini lebih mudah jika sang serangga mengepakkan sayapnya dalam sinyal ultrasonik sang kelelawar, karena variasi dalam kemiringan sayap menyebabkan variasi dalam gema yang kembali ke kelelawar (pada satu kemiringan, gemanya keras, dan pada kemiringan lain gemanya lembut). Variasi ini adalah tanda pasti kalau gema itu datang dari serangga yang sedang terbang.

Sebagian kelelawar memilih berburu dengan terbang rendah di atas air (menjaring) karena permukaan datar di air menghasilkan jauh lebih sedikit pengotoran gema yang harus di pilah sang kelelawar. Sebagian besar pantulan sinyal kelelawar dari air pergi dari sang kelelawar, namun seekor serangga akan memantulkan suara langsung kembali ke sang kelelawar dan karenanya lebih kuat.

Tipe serangga tertentu sensitif terhadap suara ultra yang digunakan kelelawar. Saat salah satu serangga ini mendeteksi frekuensi demikian, khususnya jika suaranya nyaring, sang serangga segera terbang dengan acak dan pada arah yang mengurangi intensitas suara. Sebagian serangga memiliki pertahanan lain yang lebih baik: mereka mengeluarkan suara decak yang membuat macet deteksi gema serangga yang diperlukan untuk mengetahui lokasi sang serangga.

Suara decak ini dihasilkan oleh sebuah struktur kulit selaput (kutikula) yang bergerak berkibas saat ia tertekuk. Setiap kibasan mendadak menghasilkan perubahan tekanan udara mendadak, dan variasi tekanan berulang ini menjauh dari serangga dalam bentuk suara ultrasonik. Agar sang kelelawar bingung, decakan ini harus datang serentak dengan gema dari tubuh serangga tersebut atau segera sebelumnya, sehingga sang kelelawar tidak dapat membedakan gemanya.

Di waktu malam, sebuah lampu jalan uap raksa menarik ngengat dan serangga terbang lainnya; karenanya seekor kelelawar bisa memperoleh makanan yang berlimpah jika ia berada di dekat lampu ini. Menariknya, beberapa serangga akan lari saat mendeteksi suara ultrasonik atau mereka akan memberikan sinyal pemacet, namun saat di dekat lampu mereka tidak melakukan keduanya. Salah satu penjelasannya adalah karena mereka tidak takut dengan kelelawar di waktu siang (kelelawar tidur bukannya berburu), cahaya lampu putih yang terang dari lampu menipu mereka sehingga mereka merasa ada di waktu siang hari dan merasa aman. Lampu uap sodium memancarkan warna kuning, yang tidak mampu melakukan efek ini.

­ Referensi

Walker, J. Flying Circus of Physics. Wiley, 2007

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.