Diposting Rabu, 6 Oktober 2010 jam 5:13 pm oleh The X

Hormon reproduksi Vertebrata tertua di Bumi ditemukan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 6 Oktober 2010 -


Namun fungsi reproduksi vertebrata purba ini ternyata mengandung jawaban teka-teki yang dahulu pernah dilontarkan dengan tawaran sebuah medali emas.

Walau hadiahnya telah kadaluarsa tanpa seorangpun mampu menjawab, profesor biokimia Universitas New Hampshire,  Stacia Sower dan koleganya dari dua Universitas di Jepang menemukan hormon reproduksi pertama pada hagfish – sebuah gonadotropin – menunjukkan langkah besar dalam mengungkap misteri reproduksi hagfish. Penemuan mereka, “Evolutionary origin of a functional gonadotropin in the pituitary of the most primitive vertebrate, hagfish,” diterbitkan dalam jurnal  Proceedings of the National Academies of Science (PNAS) bulan September.

“Ini terobosan nyata bagi hagfish,” kata Sower, yang menjadi penulis senior kedua dalam paper ini, mitra pengarang dengan penyelidik utama  Katsuhisa Uchida dan kolabolator lama Sower,  Masumi Nozaki, keduanya dari Universitas Niigata di Jepang. Gonadatropins (GTHs) adalah protein yang disekresikan dari pituitari, merangsang gonad (ovarium dan testis) untuk menghasilkan dan melepaskan hormon steroid sex yang mendukung pertumbuhan dan kedewasaan mereka. GTHs dihasilkan sebagai respon dari hormon pelepas gonadotropin hipotalamik (GnRH), yang disebut Sower sebagai molekul raja untuk reproduksi vertebrata; penemuannya menjadi tantangan besar dalam memahami reproduksi hagfish.

Hagfish

Dengan usia 500 juta tahun, hagfish menjadi vertebrata tertua yang masih hidup, mendahului dinosaurus. “Mereka adalah kisah kesuksesan besar evolusi,” kata Sower, yang juga menghabiskan mayoritas 30 tahun karirnya untuk meneliti hagfish dan belut lamprey yang sama tidak karismatiknya. “Inilah hewan bertulang belakang yang sedikit kita ketahui.” Mereka sulit dipelajari, sebagian karena habitat mereka ada di dasar samudera 100 meter atau lebih.

Namun posisi evolusioner penting mereka membuat hagfish pantas untuk diteliti secara ilmiah. “Kami melihat pada evolusi hormon dan reseptor dan mengatakan, ‘apakah mereka mempertahankan karakteristik bentuk purbanya, ataukah mereka lebih mirip dengan vertebrata yang lebih tinggi?’” kata Sower. “Mereka adalah kunci memahami evolusi vertebrata yang berevolusi kemudian.”

Dikurung oleh pentingnya memahami reproduksi hagfish lebih baik lagi adalah manfaat perikanan di Teluk Maine. Walaupun sifat dan penampilannya yang buruk – sekresi lendir yang diinduksi stress dari sekitar 200 kelenjar lendir di sepanjang tubuhnya – hagfish dihargai, karena pasar Asia. Kulit mereka yang keras dan lembut dipasarkan sebagai kulit belut untuk dompet, sabuk dan barang lainnya (“Karena mereka tidak mau menjual sesuatu yang bernama “hagfish”, kata Sower, mereka menyebutnya belut”)

Dipancing di Teluk Maine sejak 1992, hagfish telah habis di lepas pantai Korea dan Jepang dan terancam punah di pantai barat Amerika. Mereka juga berperan penting dalam siklus nutrisi dan pembersihan lantai samudera, makan utamanya dari ikan yang mati dan sekarat. Kurangnya pengetahuan tentang fungsi reproduksinya – bagaimana, kapan dan dimana mereka berkembang biak – hagfish dapat punah, kata Sower.

Sower, yang mengepalai Pusat Endokrinologi Molekuler dan Komparatif di UNH, bekerja sama dengan Nozaki meneliti reproduksi hagfish semenjak kedua ilmuan ini masih peneliti pasca doktoral di Universitas Washington tahun 1980. Keduanya, bersama dengan Hiroshi Kawauchi dari Universitas Kitasato di Jepang, berbagi mahasiswa dan peneliti lewat kolaborasi formal yang menghasilkan lebih dari 30 paper. Mereka juga menghasilkan banyak kegagalan dalam berusaha menemukan GTH hagfish.

“Sekarang kami mengisi celah pengetahuan kita,” jelasnya.

Penelitian ini didanai oleh Yayasan Sains Nasional.

Referensi jurnal:

1.       K. Uchida, S. Moriyama, H. Chiba, T. Shimotani, K. Honda, M. Miki, A. Takahashi, S. A. Sower, M. Nozaki. Evolutionary origin of a functional gonadotropin in the pituitary of the most primitive vertebrate, hagfish. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2010; 107 (36): 15832

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.