Diposting Minggu, 3 Oktober 2010 jam 4:47 am oleh The X

Alergi Makanan yang Parah berhasil dipadamkan pada tikus

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 3 Oktober 2010 -


Penemuan ini diterbitkan online dalam jurnal  Nature Medicine, ia memberi harapan kalau tubuh dapat (dalam pengawasan medis yang ketat) dilatih untuk mentoleransi alergi makanan yang bisa berakibat pada 300 ribu kunjungan ke Rumah Sakit dan 100 hingga 200 kematian per tahun.

Tim peneliti yang dipimpin oleh  Shau-Ku Huang, Ph.D., seorang profesor farmasi dan   Yufeng Zhou, M.D., Ph.D., rekan pasca doktoral di bagian Imunologi klinis dan alergi di Sekolah farmasi Universitas Johns Hopkins, menemukan kalau sejenis sel kekebalan dalam saluran pencernaan yang disebut sel dendritik propria lamina (LPDC) – dipandang sebagai pertahanan garis depan untuk sistem kekebalan tubuh – mengekspresikan sebuah reseptor khusus, SIGNR1, yang tampaknya berada pada permukaan sel tersebut dan berikatan dengan gula tertentu.

Sel dendritik yang mengeluarkan molekul IL-12 yang mempengaruhi respon imun sel T pada benda asing (sel T berupa gumpalan kecil putih)

Dengan mentargetkan reseptor ini menggunakan protein termodifikasi gula, para peneliti mampu menjaga protein makanan yang seharusnya menyebabkan reaksi alergi parah dan kadang mematikan menjadi tidak menyakiti.

Kacang Rebus. Ada individu yang alergi terhadap jenis makanan ini

“Tidak ada obat untuk alergi makanan, dan perlakuan utamanya adalah menghindari protein penyerang,” kata Zhou. “Ini dapat mengajarkan tubuh kita menciptakan sebuah respon kekebalan baru dan kita tidak perlu lagi alergi pada protein tersebut.”

Para peneliti berharap keberhasilan dalam tikus ini juga dapat terjadi pada manusia.

Alergi makanan dipicu oleh sistem kekebalan tubuh dan, pada sebagian orang, dapat menyebabkan gejala parah atau bahkan reaksi yang mengancam keselamatan hidup yang disebut anaphylaxis. Di Amerika Serikat, diperkirakan kalau enam hingga delapan persen anak di bawah usia tiga tahun dan hampir empat persen orang dewasa memiliki alergi makanan, dan persentase ini terus meningkat. Karena kesulitan ekstrim dalam menghindari semua paparan alergen makanan dan kurangnya perawatan yang efektif, strategi pencegahan dan terapi sangat diperlukan, kata Zhou.

Di laboratorium, Zhou dan koleganya mengambil sebuah protein makanan yang menyebabkan alergi pada tikus dan memodifikasinya dengan menambahkan gula khusus. Mereka berhipotesis kalau saat dicerna oleh sang tikus, protein yang termodifikasi ini akan mampu berikatan dengan reseptor SIGNR1 di sel sistem kekebalan tubuh. Dengan berikatan seperti ini, sistem kekebalan tubuh akan belajar mentoleransi protein makanan yang dimodifikasi tersebut – dan protein itu tidak lagi merangsang reaksi alergi, bahkan saat dikonsumsi tanpa dimodifikasi terlebih dahulu.

Bila terapi ini bekerja pada manusia, maka kacang rebus tidak lagi membahayakan orang yang alergi terhadapnya

Zhou memberi makan tikusnya protein termodifikasi sekali sehari selama tiga hari. Lima hari kemudian, ia mengujinya dengan memberinya makan protein yang tidak dimodifikasi. Kelompok tikus lainnya tidak diberi protein termodifikasi sama sekali. Keparahan respon alergik pada protein yang tidak termodifikasi – yang dalam tikus kelompok kontrol cenderung berupa tremor, konvulsi dan/atau mati – secara signifikan menurun pada tikus yang telah diberi protein modifikasi sebelumnya. Beberapa masih memiliki reaksi minor seperti gatal atau bintik di sekitar mata dan sungut, namun tidak ada yang serius. Tikus-tikus ini tampaknya tidak lagi sensitif terhadap protein makanan tersebut, bahkan bila ia diberikan tanpa modifikasi sekalipun, kata Zhou. Dalam model ini, SIGNR1 memegang peran kunci dalam memadamkan beberapa respon sel kekebalan tubuh, namun apakah hal ini hanyalah fungsi satu-satunya dari reseptor ini, belum diketahui.

Peneliti lain dari Johns Hopkins yang terlibat didalam studi ini antara lain Hirokazu Kawasaki, Shih-Chang Hsu, Reiko T. Lee, Xu Yao, Beverly Plunkett, Jinrong Fu dan Yuan C. Lee.

Diterjemahkan dari sciencedaily atas bahan berita langsung dari Lembaga Medis Johns Hopkins.

Referensi silang :

Zhou, Y., Kawasaki, H., Hsu, S.C., Lee, R.T., Yao, X., Plunkett, B., Fu, J., Yang, K., Lee, Y.C., Huang, S.K. 2010. Oral tolerance to food-induced systemic anaphylaxis mediated by the C-type lectin SIGNR1. Nature Medicine, 2010.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.