Diposting Sabtu, 2 Oktober 2010 jam 1:37 am oleh The X

Misteri asteroid penyiram meteor terpecahkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 2 Oktober 2010 -


Sebagian besar hujan meteor datang dari komet, karena permukaan esnya menguap dengan mudah ketika berdekatan dengan matahari. Debu yang dibebaskan dalam proses ini terbakar di atmosfer Bumi dan menciptakan “bintang jatuh”.

Namun, aliran debu yang terjadi dalam hujan meteor Geminid yang terjadi setiap bulan Desember di Bumi, tidaklah disebabkan oleh komet. Ia disebabkan oleh sebuah benda selebar 5 kilometer bernama 3200 Phaeton, yang tempaknya adalah sebuah asteroid.

Hujan meteor geminid terjadi setiap desember

Tapi asteroid itu batu. Bagaimana batu bisa menyiramkan begitu banyak bahan tanpa adanya es untuk diuapkan? Petunjuk datang bulan Juni 2009 saat pesawat STEREO-A NASA mengamati kembaran sang asteroid dalam kegelapan saat ia pada titik terdekatnya ke Matahari, yang berada hanya 14 persen dari jarak Bumi ke Bintang tersebut.

David Jewitt dan Jing Li, keduanya dari Universitas California di Los Angeles megnatakan kalau sisi asteroid yang menghadap Matahari mencapai suhu 480 hingga 780 °C di titik tersebut. Suhu ini cukup panas sehingga membuat batuannya mengembang dan retak, membangkitkan debu yang memantulkan sinar matahari dan menyebabkan asteroid ini cemerlang.

Efek kedua juga menyumbang pada pengguguran debu Phaeton. Walaupun asteroid ini tampaknya tidak memiliki es, beberapa molekul air dapat terikat secara kimiawi dalam sela-sela bebatuannya. Bila ada mineral bernama serpentinite di sana, misalnya, ia akan pecah pada suhu 630 °C dan melepaskan air yang diikatnya secara kimia dalam bentuk uap.

Proses ini dapat menjadi dahsyat, menurut percobaan tahun 2009 oleh Jay Melosh dari Universitas Purdue di West Lafayette, Indiana, dan rekan-rekannya. “Pecahan serpentinite terlontar dengan kecepatan tinggi, mungkin dikendalikan oleh uap yang meledak dari mineral yang mengalami dehidrasi tersebut,” kata Melosh.

Pecahnya mineral seperti serpentine dapat menyebabkan asteroid tersebut menyemburkan debu, kata beliau.

“Melihat sendiri massa yang hilang dari Phaeton merupakan kemajuan besar,” kata Yan Fernández dari Universitas Florida Tengah di Orlando, yang mempelajari Phaeton. “Akan lebih menggembirakan lagi kalau ada yang bisa menemukan lebih banyak pengetahuan atas peristiwa letupan ini.”

Pasangan pesawat STEREO milik NASA

Referensi

1. New Scientist. 24 September 2010. Solved: mystery of the meteor-shedding asteroid

2. David Shiga. 2006. Peak of Geminid meteor shower set to dazzle

3. NASA. 2010. STEREO Science Visualizations

4. Drew Hamilton, WSMR, N.M. Apr 14, 2010. Solar furnace could save Earth

5. Meteor Shower Online. 2010. Observing the Geminids

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.