Diposting Rabu, 29 September 2010 jam 7:17 pm oleh The X

Ketindihan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 29 September 2010 -


Ketindihan adalah salah satu bentuk umum dari akibat REM (Rapid Eye Movement). Saat seseorang ketindihan, orang yang melihatnya akan menyaksikan bola mata orang yang tidur tersebut bergerak-gerak di balik kelopaknya yang tertutup. Saat ketindihan, terjadi kondisi lumpuh sementara disertai halusinasi visual dan pendengaran (auditori). Ia terjadi segera setelah kamu akan bangun atau akan tidur. Dulunya pernah dianggap kalau ketindihan itu langka, tapi ternyata sekitar 25 persen orang pernah mengalami ketindihan paling tidak sekali dalam hidupnya.

Penyebab ketindihan adalah diskoneksi yang tidak tepat waktu antara otak dan tubuh. Secara normal, saat orang tidur, tubuh memang lumpuh. Hal ini agar mencegah tubuh kita bertindak dan berbuat seperti apa yang kita rasakan saat kita mimpi. Jadi dalam mimpi, kita berlari, tapi di dunia nyata, tubuh kita tidak bergerak. Namun, karena tubuh kita dirancang dengan tidak cerdas, maka ada kesalahan dimana saat seharusnya koneksi otak dan otot tersambung kembali (terjaga), waktunya tidak tepat. Hasilnya ya ketindihan itu.

The Nightmare karya Henry Fuseli tahun 1781, menggambarkan ketindihan

Saat dalam krisis medis, lumpuh otot yang dikombinasikan dengan pengalaman keluar dari tubuh dapat menampilkan fenomena mati suri. Mati suri ini sendiri merupakan respon dari krisis yang mengancam hidup. Ia dicirikan dengan kombinasi disosiasi tubuh fisik, euforia dan unsur mistik.

Para ilmuan menemukan kalau pengalaman keluar dari tubuh merupakan sebuah ekspresi yang menunjukkan orang tersebut mendekati ajal atau sedang mengalami ketindihan. Hampir semua orang yang mati suri mengalami kondisi ketindihan (96 persen) juga mengalami pengalaman keluar tubuh pada saat transisi tidur atau menjelang ajal.

Ketindihan paling sering dialami oleh penderita narkolepsi. Narkolepsi adalah gangguan tidur yang menyebabkan orang tertidur tanpa terkendali. Istilahnya orang yang tidak jelas kapan waktu tidurnya. Bisa siang hari, bisa tengah malam, bisa pagi. 1 dari 2000 orang menderita narkolepsi. Saat ketindihan, penderita narkolepsi mengalami halusinasi hipnagogik. Halusinasi ini bisa berupa perasaan diinjak atau dicampakkan, disetrum, digoyang, mendengar suara, melihat jin, hantu, setan, malaikat, tuhan, dan kadang disertai emosi yang kuat: ketakutan atau eforia atau bahkan orgasme.

Ketindihan juga semakin mudah ditemukan pada penderita narkolepsi disertai katapleksi. Katapleksi adalah kelemahan otot mendadak. Berbeda dengan ketindihan yang terjadi saat akan atau bangun tidur, katapleksi terjadi saat sadar. Ia dipicu oleh emosi yang kuat seperti kegembiraan, marah, takut, terkejut, orgasme, kagum, malu, dan tertawa.

Ketindihan  hanyalah satu dari beberapa jenis gangguan tidur parasomnia. Parasomnia adalah gangguan tidur yang melibatkan gerakan, perilaku, emosi, persepsi, dan mimpi. Parasomnia dapat terjadi saat tertidur, tidur, antara dua waktu tidur atau saat bangun dari tidur. Jenis parasomnia selain ketindihan adalah halusinasi dalam kondisi antara sadar dan tidur, bergerak seperti yang ada dalam mimpi, tidur sambil berjalan dan makan sambil tidur, bahkan ada kemungkinan mengemudi sambil tidur. Ketindihan sendiri merupakan jenis parasomnia yang paling umum dibandingkan jenis lainnya.

Halusinasi Keluar dari Tubuh terkait dengan Ketindihan

Referensi

1. Nelson KR, Mattingly M, Schmitt FA. Out-of-body experience and arousal.Neurology. 2007 Mar 6;68(10):794-5.

2. Mona Skard Heier, Tatiana Evsiukova, Steinar Vilming, Michaela D. Gjerstad, Harald Schrader, and Kaare Gautvik. CSF Hypocretin-1 Levels and Clinical Profiles in Narcolepsy and Idiopathic CNS Hypersomnia in Norway. Sleep. 2007 August 1; 30(8): 969–973.

3. Sleep Clinic Jakarta. 2006. Klinik Gangguan Tidur

4. Blackmore, Susan J. Parker, Jennifer J. (2002). ‘Comparing the Content of Sleep Paralysis and Dream Reports’. Dreaming 12:1, pp. 45-59.

5. Cheyne, J.A. (2003). ‘Sleep Paralysis and the Structure of Waking-Nightmare Hallucinations’. Dreaming 13:3, pp. 163-79.

6. Loyola University Health System (2009, June 11). Sleep Apnea Linked To Sleepwalking, Hallucinations And Other ‘Parasomnias’. ScienceDaily. Retrieved September 29, 2010, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2009/06/090609072705.htm

7. Wikipedia. 2010. Cataplexy

8.      Yves Dauvilliers, Sylvie Rompré, Jean-Françis Gagnon, Mélanie Vendette, Dominique Petit, and Jacques Montplaisir. REM Sleep Characteristics in Narcolepsy and REM Sleep Behavior Disorder. Sleep. 2007 July 1; 30(7): 844–849.

9.       American Academy Of Neurology (2002, April 22). Adult Sleepwalking May Be Genetic Disorder. ScienceDaily. Retrieved September 29, 2010, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2002/04/020422073829.htm

10. Wikipedia. 2010. Parasomnia

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.