Diposting Selasa, 28 September 2010 jam 6:28 am oleh The X

Misteri lenyapnya es karbon dioksida di Mars terpecahkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 28 September 2010 -


Dr. Bernard Schmitt dan Thomas Appéré melaporkan hasil mereka mengenai mobilitas es air pada tahun Mars 28, di Kongres Ilmu Keplanetan Eropa di Roma.

Endapan es musiman adalah salah satu proses meteorologis Mars terpenting, aberperan utama dalam siklus air planet ini. setiap tahun Mars, bolak balik pada musim dingin utara dan selatan, sebagian atmosfer membeku ke permukaan dalam bentuk salju dan es. Endapan es musiman ini, yang dapat satu meter tebalnya, terutama tersusun dari karbon dioksida dengan sejumlah kecil air dan debu. Pada musim semi, endapan ini menyublim (menguap); menjadi sumber uap air yang penting, terutama di belahan utara planet ini.

Dr. Schmitt dan koleganya Thomas Appéré dan Dr. Sylvain Douté dari Laboratoire de Planétologie de Grenoble, Perancis, menganalisa data yang diambil oleh instrumen OMEGA di Mars Express, untuk dua daerah utara Mars. Sebelum misi Mars Express (ESA), evolusi endapan musiman ini telah dimonitor oleh perubahan albedo (reflektivitas) dan suhu permukaan, saat endapan es menjadi lebih terang dan lebih dingin daripada tanah sekitarnya. “Namun kami tidak dapat menentukan komposisi pastinya dan bagaimana mereka tersebar di planet. Pengamatan dekat Infra merah, seperti data OMEGA, lebih baik dalam mendeteksi tanda kuat es karbon dioksida dan air,” kata Appéré.

Kemunculan mendadak tanda es karbon dioksida antara lintang solar 59.2° dan 60.2° (yang berhubungan dengan rentang waktu sekitar dua hari Mars) dalam struktur lintas spiral di tudung kutub Utara (Credit: Image courtesy of Europlanet Media Centre)

Daerah Mars pertama yang diamati ilmuan berada di Gemina Lingula, sebuah plato di Utara, dimana evolusi endapan es karbon dioksida yang aneh teramati. “Pada musim semi, tanda es lenyap dari data kami, namun suhu permukaan masih cukup dingin untuk menahan es karbon dioksida. Kami menyimpulkan kalau ada lapisan tebal yang menindih, entah air cair atau debu. Bila debu maka ia juga bisa menyembunyikan air cair dan permukaan planet menjadi lebih gelap. Tidak satupun yang terjadi jadi kami menyimpulkan kalau selapis air cair menyembunyikan es karbon dioksida. Kami harus menunggu sampai cuaca cukup hangat di Mars agar air tersebut menguap dan tanda karbon dioksida muncul kembali dalam data kami,” jelas Dr Schmitt.

Tapi darimana lapisan air ini datang? Segera setelah matahari musim semi terbit, radiasi surya menghantam permukaan Mars dan cukup hangat bagi es karbon dioksida yang berbaring di lapisan atas untuk menguap. Namun es air memerlukan suhu lebih tinggi untuk menyublim, sehingga lapisan es air secara gradual terbentuk menyembunyikan es karbon dioksida masih berbaring di bawahnya. “Sebuah lapisan yang tebalnya hanya 0.2 milimeter cukup untuk menyembunyikan es karbon dioksida seluruhnya. Juga sedikit air yang menguap pada lintang Mars yang lebih hangat mengembun saat ia bergerak ke utara dan mungkin terjebak di atas lapisan es karbon dioksida,” kata Appéré.

Analisa daerah kedua oleh tim peneliti berada di struktur tembusan spiral di tudung permanen utara. Situasi yang sama diamati namun es karbon dioksida muncul kembali sangat cepat disini setelah kelenyapan awal. “Permainan tapok pipit ini tidak masuk akal bagi kami. Suhu tidaklah cukup dingin bagi es karbon dioksida untuk mengembun kembali, tidak pula cukup hangat agar air menyublim,” jelas Dr. Schmitt. “Kami menyimpulkan entah bagaimana lapisan es air terlepas. Topografi tudung Mars permanen Utara cukup sesuai untuk terbentuknya angin gunung katabatik kuat. Asymeric Spiga menggunakan model dari Laboratoire de Météorologie Dynamique du CNRS untuk mensimulasikan angin tersebut dan benarlah, ia menemukan kalau kemunculan mendadak es karbon dioksida akibat tiupan angin katabatik yang kuat,” kata Appéré.

Kutub Planet Mars

Dr. Schmitt menyimpulkan: “Memecahkan siklus air masa kini dan masa lalu di Mars dan memperbaiki model cuaca kita di planet ini memerlukan pemahaman yang baik tentang dinamika endapan es musiman, bagaimana ia berubah dalam ruang dan waktu. Kami yakin kalau hasil kami akan menyumbang secara signifikan pada arah ini.”

Diterjemahkan dari sciencedaily


The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.