Diposting Minggu, 26 September 2010 jam 11:30 am oleh Gun HS

Kenapa Tak Ada Hyena di Eropa?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 26 September 2010 -


Sebuah tim dari National Museum of Natural Sciences (CSIC) telah menganalisis dampak perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup hyena tutul di Eropa lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Perubahan ini memainkan peran penting, tetapi para ilmuwan mengatakan masih diperlukan penelitian untuk melihat pengaruh ekspansi manusia dan perubahan dalam fauna herbivora pada akhir kepunahan spesies ini di seluruh benua.

“Perubahan iklim di masa lalu tidak secara langsung bertanggung jawab atas kepunahan hyena tutul di Eropa selatan, melainkan faktor kehilangannya,” ujar Sara Varela, penulis utama studi ini dan seorang peneliti di National Museum of Natural Sciences (CSIC).

Menurut penelitian ini, yang telah dipublikasikan dalam jurnal Quaternary Science Reviews, populasi hyena di Afrika dan Eurasia menjadi terpisah selama maksimum glasial. Dan “kondisi iklim di Eropa selatan 21.000 tahun yang lalu adalah ekstrim bagi spesies ini,” kata Varela.

Hyena tutul (Crocuta crocuta). (Credit: iStockphoto)

Pada masa itu, iklim Eropa berada di bawah perubahan yang “drastis”, sebagaimana juga fauna herbivora dan populasi manusia. Menurut para ahli, “hyena yang bertahan hidup bisa saja dipengaruhi oleh kombinasi dari ketiga faktor yang bertindak sinergi, tapi tidak hanya oleh aksi iklim saja.”

Timnya mempelajari perubahan iklim di masa lalu dan mengidentifikasi daerah yang paling kondusif bagi hyena di Eropa, menggunakan model untuk melihat berbagai skenario iklim Pleistosen. Model kedua memperkirakan tingkat keparahan kondisi iklim bagi kelangsungan hidup hewan tersebut. “Kondisi iklim di selatan Eropa setiap saat berada dalam batas toleransi spesies ini,” kata Varela.

Segalanya terjadi di akhir Pleistosen

Hyena tutul (Crocuta crocuta) menjadi punah pada akhir Pleistosen (sekitar 10.000 tahun yang lalu), bertepatan dengan maksimum glasial terakhir dan ekspansi Homo sapiens. Spesies besar menghilang selamanya, tetapi hyena tutul bertahan selama beberapa saat dan memodifikasi jarak geografis dalam rangka bertahan hidup.

Distribusi dari hyena tutul, seekor karnivora yang umum di bagian-Sahara Afrika, telah mengubah “secara substansial” dari Pleistosen sampai sekarang. Saat ini hanya ditemukan di Afrika, tetapi selama masa Pleistosen (hampir satu juta tahun yang lalu), hyena tutul menghuni di Eurasia (superbenua gabungan dari dua benua,yaitu Eropa dan Asia – id.wikipedia.org).

Sumber: sciencedaily.com

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.