Diposting Rabu, 22 September 2010 jam 2:47 am oleh The X

Manusia Bertanduk

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 22 September 2010 -


Sebuah tanduk mencuat di kepalanya, seperti yang anda bisa lihat dalam potret disamping. Jadi apa kata fakta ilmiah mengenai hal ini? Ataukah ia mengandung suatu misteri mistik yang belum atau bahkan tidak dapat dijelaskan sains modern?

Beberapa teman skeptik menganggapnya omong kosong. Tapi bisa saja yang mengatakan omong kosong tersebut hanyalah pertanda kalau ia ignorance. Kita dapat mengakomodasi hal ini. Bagaimana kalau pertanyaannya diganti: Mungkinkah manusia menumbuhkan tanduk? Dengan cara ini, kita bisa menjelaskan, kalau seandainya berita tersebut benar.

Sebenarnya, kita bahkan tidak perlu jauh ke China. Seorang nelayan Indonesia, Dede, sang manusia pohon. Bahkan, Dede memiliki tanduk sedemikian banyak melebihi sang nenek hingga menutupi tubuhnya. Itu juga mengapa ia disebut manusia pohon atau lebih tepatnya, manusia akar. Zat yang menutupi tubuh Dede maupun muncul di jidat sang nenek tampaknya merupakan zat yang sama.

Seorang nenek dari China yang memiliki cornu cutaneum di dahi

Dalam dunia medis, ia disebut tanduk kutin (cutaneous horn). Dan ia sama sekali tidak misterius. Dunia sains bahkan punya jurnal ilmiahnya sendiri yang membahas masalah ini, Journal of Cutaneous Pathology. Yu RCH, Price DW, Macfarlane AW,dan  Stewart TW tahun 1991 bahkan telah melakukan penelitian pada 643 pasien tanduk kutin. Kasus Dede hanyalah kasus yang ekstrim, sementara kasus sang nenek adalah kasus yang unik. Tentunya tidak terlalu keren kalau sang tanduk tumbuh di jari atau di ketiak. Namanya bahkan tidak lagi tanduk bagi orang awam.

cornu cutaneum di tangan

Perbedaan antara tanduk kutin dan tanduk hewan adalah tidak adanya inti tulang. Istilah latinnya cornu cutaneum. Kurang lebih seperti kuku, ia merupakan penonjolan kulit yang mengeras karena bahan keratin yang menumpuk secara berlebihan. Bila dilihat jaringannya (histologis), ia tersusun dari lapisan-lapisan sel epitel yang kaku dan konsentrik. Sebagian besar memiliki warna putih kekuningan, dan bentuknya bisa lurus, melengkung atau bahkan berpuntir, ukurannya juga bisa hanya beberapa milimeter saja, dan bisa mencapai ukuran sentimeter. Tanduk kutin dapat muncul di mana saja di tubuh, dan hanya 30% kasus, tanduk kutin muncul di wajah dan kulit kepala.

Pria penderita cornu cutaneum yang menjalar ke seluruh tubuh

Tanduknya sendiri terdiri dari bahan keratin padat, sama dengan di kuku kita. Sejumlah lesi kulit dapat ditemukan di pangkal tanduk. Tanduk kutin paling sering muncul di lokasi yang terpaparkan pada radiasi atau terbakar, dan karenanya sering ditemukan di bagian atas wajah. Lokasi lain antara lain hidung, kelopak mata, telinga, bibir, dada, leher dan bahu. Lengan depan, tulang rawan telinga, kaki dan punggung tangan lebih jarang. Lebih dari 60% lesi bersifat jinak, namun lesi ganas bisa saja menyebabkan hal yang sama, seperti kanker. Asosiasi dengan penyakit lain juga ditemukan, antara lain pada keratosis, sebaceous molluscum, verruca, trichilemma, penyakit Bowen, karsinoma epidermoid, melanoma ganas dan karsinoma sel basal.

Fotomikrograf jaringan cornu cutaneum

Ia dapat muncul dari bekas luka bakar seperti yang ditemukan dalam kasus seorang wanita dari Afrika. Waktu kecil ia mengalami luka bakar di kulit kepala dan lama kelamaan dari bekas luka tumbuh tanduk. Ia terpaksa memakai wig tebal untuk menutupi tanduk tersebut. Kasus tanduk kutin telah lama dikenali di dunia barat tapi jarang ditemukan di Asia dan Afrika. Di masa lalu, penderita biasanya dipamerkan dalam sirkus. Lebih dulu lagi, penderita bahkan bisa dikira penyihir dan terkutuk.

Cornu cutaneum di telinga kiri pasien

40 persen kasus tanduk kutin merupakan pertanda datangnya kanker. Ini berarti sangat penting kiranya bila anda merasa adanya jaringan mirip kuku tumbuh di tempat yang tidak wajar. Dokter dapat melakukan pembedahan untuk membuang tanduk tersebut. Ada beberapa cara, seperti memotong tanduk di pangkalnya, mengorek dan membakarnya, membekukannya dengan nitrogen cair atau menghancurkannya dengan laser. Kemoterapi atau terapi radiasi dapat menyingkirkan seandainya tanduk kutin tersebut bersifat kanker. Kemudian seringkali memoles daerah tanduk ini dengan obat perawatan kanker kulit seperti Aldara, Efudex atau Carac.

cornu cutaneum di kulit kepala

Sekarang kita tahu kalau masalah sang nenek adalah sejenis tumor kulit keratin. Memang tumor tanduk kutin masih belum diketahui penyebab utamanya. Tapi dari studi yang telah ada, tampak kalau ia dipicu oleh panas berlebih, baik bekas luka terbakar api, radiasi matahari atau bahkan nuklir.

Referensi berita

1. Dream Indonesia. 2010. Peristiwa Langka: Wanita Cina Tumbuh Tanduk Setan Sepanjang 6 cm

2. Daily Contributor. 2010. Chinese Woman Grows Mystery Horn on Forehead Photos

3. Adam Lusher, Marianne Kearney and Aji Ramyakim. 2008. Tree man ‘who grew roots’ hopes to marry after 4lb of warts removed

Referensi umum

1. eHow. 2010. How to Treat a Cutaneous Horn

2. MedicineNet. 2010. Image Collection: Skin Problems

3. Wikipedia. 2010. Cutaneous horn

4. Wikipedia. 2010. Horn

Referensi ilmiah

1.      Bondeson J: Everard Home, John Hunter, and cutaneous horns. Am J Dermatopathol 2001, 23:362-369.

2.      Brauninger GE, Hood CI, Worthen DM. Sebaceous carcinoma of lid margin masquerading as cutaneous horn. Arch Ophthalmol. Nov 1973, 90(5):380-381.

3.      Findlay RF, Lapins NA. Pyogenic granuloma simulating a cutaneous horn. Cutis. Jun 1983, 31(6):610-612.

4.      Gould JW, Brodell RT. Giant cutaeous horn associated with verruca vulgaris. Cutis. 1999, 64:111–112.

5.      Mencia-Gutierrez E, Gutierrez-Diaz E, Redondo-Marcos I, Ricoy JR, Garcia-Torre JP. Cutaneous horns of the eyelid: a clinicopathological study of 48 cases. J Cutan Pathol. Sep 2004, 31(8):539-43.

6.      Peter M Nthumba. Giant cutaneous horn in an African woman: a case report. Journal of Medical Case Reports 2007, 1:170

7.      Rekha A, Ravi A: Cornu cutaneum-cutaneous horn on the penis. Indian J Surg 2004, 66:296-297.

8.      Tauro LF, Martis JJS, John SK, Kumar KP: Cornu cutaneum at an unusual site. Indian J Plast Surg 2006, 39:76-78.

9.      Uchiyama N, Shindo Y, Saida T. Perforating pilomatricoma. J Cutan Pathol. Aug 1986, 13(4):312-8.

10.  Yu RCH, Pryce DW, Macfarlane AW, Stewart TW: A histopathological study of 643 cutaneous horns. Br J Dermatol 1991, 124:449-452.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.