Diposting Senin, 20 September 2010 jam 11:50 pm oleh The X

Vortex2 : Para Pemburu Badai

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 20 September 2010 -


Pemburuan tornado terbesar di dunia sedang tersendat. 35 orang ilmuan tampak berdiskusi mengenai dimana mereka seharusnya memarkir truk. Ini bukan masalah parkir biasa. Ada 50 truk besar dengan segala perlengkapan ilmiah. Ini adalah usaha ambisius untuk menangkap tornado, demikian ungkap Lou Wicker, ketua tim peneliti dari Laboratorium Badai Besar Nasional Amerika.

Di film Twister, kita melihat beberapa truk melaju di tanah lapang mengejar badai monster. Namun sekarang para ilmuan mencoba pendekatan baru, menggiring badai itu sendiri ke mereka dan menjebaknya. Inilah proyek VORTEX2 (second Verification of the Origin of Rotation in Tornadoes Experiment – Verifikasi Asal Usul Pusaran Badai dalam Percobaan Tornado kedua). Proyek ini didanai pemerintah Amerika sebesar 12 juta dollar. Ia bukan semata mendekati badai, namun juga mengelilinginya, mengambil data sebanyak-banyaknya dan mereka ulang badai tersebut di komputer. Armada truk dan van yang ikut serta dilengkapi dengan beberapa ton peralatan, mulai dari menara radio setinggi 12 meter, hingga balon cuaca, sampai ke pesawat tanpa awak. Ilmuan Josh Wurman, ketua tim peneliti dari Pusat Penelitian Cuaca Buruk sedikit pesimis. “Penelitian ini berat, bahkan untuk badai yang bergerak lamban sekalipun.”

Dalam setahun, Amerika Serikat diterjang sekitar 1000 tornado. Memang banyak, tapi melihat luasnya negara tersebut, hal ini masih tergolong langka. Terlebih sentuhan kaki badai masih belum dapat diprediksi kapan. Tim ini seperti mengejar siluman yang muncul, merusak dan lenyap. Jika mengejarnya sudah sulit, belum lagi memperkirakannya. Dari 100 peringatan dini adanya tornado, hanya 30 saja yang memang memprediksi terjadinya tornado dengan tepat. Nilai pengetahuan yang tampaknya memalukan. Akibatnya, rakyat terbiasa mengira peringatan dini sebagai sesuatu yang salah dan tidak mau mengungsi. Don Burgess, meteorolog dari Universitas Oklahoma mengatan “Kami mendeteksi adanya rotasi udara, dan dari situ kami mengeluarkan peringatan bahaya tornado. Lebih baik daripada terlambat.”

Dalam proyek tahun lalu, tim VORTEX2 hanya mampu mengelilingi satu tornado saja. Walaupun tornado tersebut cukup besar, itu masih belum cukup. Kesulitan muncul dari banyaknya peralatan yang dibawa. Karena badai sulit diprediksi, maka begitu ada tanda yang positif, semua anggota tim harus bergerak cepat. Selain itu, badai juga tidak diam di tempat. Sebagian besar tornado bergerak dengan kecepatan rata-rata 24 kilometer per jam. Akibatnya, kendaraan-kendaraan ilmuan harus menyesuaikan dengan pergerakan ini.

Rombongan minivan vortex2 dengan sensor di punggungnya

Daerah yang mampu dijangkau seluruh perlengkapan bila tersetel baik adalah 2600 km persegi. Sungguhpun demikian, usaha perburuan ini ibarat mengejar waktu dengan sebuah van yang penuh dengan anak kecil yang ingin pipis, makan, dan beristirahat. Dan analogi ini tampak lebih mengena saat kita melihat kendaraan-kendaraan yang digunakan para ilmuan. Sebagian kendaraan tersebut adalah kendaraan tua yang telah banyak memiliki kerusakan akibat pemburuan badai sendiri-sendiri sebelumnya.

Tahun 1994-1995, proyek VORTEX pertama sudah dilakukan. Saat itu Wicker, Wurman, Harold Brooks dan Don Burgess menjadi ilmuan-ilmuan pertama yang memutari tornado dengan truk. Hasilnya cukup memuaskan, untuk pertama kalinya para ilmuan tahu bagaimana siklus hidup dari Tornado. Kita sudah tahu evolusinya, sekarang yang tersisa adalah bagaimana ia muncul. Hal ini selalu lebih sulit dalam sains, lihat saja kasus abiogenesis dan big bang. Jadi, VORTEX2 ditujukan untuk mengetahui asal usul dari tornado, apa saja faktor-faktor penyebabnya dan pemberi kekuatannya.

Lima belas tahun berlalu tentu saja membawa banyak perlengkapan baru dan teknologi cuaca terdepan. Hasil penangkapan tornado tahun 2009 oleh VORTEX2 juga memberikan banyak masukan data bagi ilmuan. Hasilnya, mereka mendapatkan tornado paling detil yang pernah di dokumentasikan. Sungguhpun begitu, baru setahun kemudian data tersebut bisa dikumpulkan dengan rapi, dikemas, dan siap dibagi-bagikan untuk di analisa. Dari sini mereka akan membangun puluhan simulasi komputer dan mencoba berbagai faktor: curah hujan, kecepatan angin, kelembaban udara, dan lain sebagainya, untuk memprediksikan bagaimana badai selanjutnya terjadi.

Pekerjaan para ilmuan ini sungguh berbahaya. Di saat orang biasa berlarian mengungsi, mereka harus berusaha sedekat mungkin dengan badai, dan merekamnya dari segala arah yang mungkin. Pesawat tanpa awak yang dikendalikan radio menerobos masuk ke dalam badai untuk mengumpulkan data arus udara. Sementara itu, tim perekam suhu dan kelembaban harus nekad berada tepat di bawah badai dengan kendaraan mereka. Di puncak mobil-mobil ini, sebuah menara yang berujung kamera memotret terowongan badai yang terbentuk. Jika mereka salah perhitungan, kaki badai dapat menyentuh kendaraan mereka dan menelannya.

Bahaya semacam ini memang harus ditempuh. Dengan satelit semata, dan bahkan radar sekalipun, data yang diperoleh masih belum cukup. Padahal, bencana badai terus melanda dan menelan korban jiwa dan material. Dengan mampunya para ilmuan memprediksi badai, tinggal menunggu saatnya saja untuk mendapat kemampuan mengendalikannya dan memusnahkannya.

Tapi yang lebih mendesak lagi adalah kesejahteraan. Kemampuan memprediksi badai akan memperbaiki pola penerbangan di lapangan udara, pola mitigasi bencana kebakaran hutan dan perencanaan kota. Tagihan listrik juga akan menurun karena setiap sebuah peringatan bencana badai ternyata salah, perusahaan listrik mengalami kerugian karena harus mematikan beberapa perlengkapannya.

Tim Vorteks menerobos badai

Tahun ini juga, Lembaga Atmosfer dan Samudera Nasional Amerika (NOAA) juga telah merencanakan memasang radar jenis baru yang lebih modern. Radar polarisasi ganda ini sudah lebih dahulu digunakan oleh VORTEX2. Radar jenis baru ini bukan saja mampu mengirimkan sinyal horizontal dan vertikal, namun juga membedakan antara salju, es dan tetesan hujan.

Walaupun terlihat buruk dan dekil, kendaraan pemburu badai bukanlah kendaraan biasa. Kendaraan yang paling dekat dengan badai dilindungi kerangka baja dan dilapisi dengan lapisan khusus mirip cat setebal 0.6 cm. Lapisan ini adalah campuran dari Kevlar (bahan anti peluru) dan poliuretan bernama Rhino Lining. Silakan hantam mobil ini dengan palu godam, palu tersebut justru akan memantul balik tanpa menyebabkan kerusakan sama sekali. Jendela juga dilapisi dengan lapisan khusus setebal 1.2 cm. Lapisan ini anti peluru dan terbuat dari polikarbonat. Ia mampu menahan lemparan batu sebesar semangka dan batu-batu kecil yang melesat ke arahnya dengan kecepatan 250 km per jam. Beberapa perangkat lainnya untuk menahan mobil di tanah membuat mobil ini seolah seperti robot transformer saat ia berusaha menahan dirinya agar tidak terseret badai.

Susunan Kendaraan Vortex2 (Credit: Popular Science)

Tim ilmuan dengan kendaraan super mereka menerobos badai, mengelilinginya sambil dihujani petir dan hujan air, batu es dan salju. Ketika mobil-mobil VORTEX2 melewati reruntuhan rumah dan keluarga yang menangisi tiga korban jiwa dalam salah satu badai, tampak usaha mereka yang tak kenal lelah dan mempertaruhkan nyawanya masih belum seberapa.

Secara total, VORTEX2 berhasil menerobos dan mengumpulkan data dari 20 tornado dalam dua tahun. Data yang mereka miliki sebesar 50 terabyte, cukup untuk membangun anatomi tornado paling detil dalam sejarah manusia. Saat ini para ilmuan masih menganalisa data-data dari proyek VORTEX2 yang berakhir bulan Juni 2010. Masih perlu setahun untuk menyelesaikan simulasi mereka, tapi saat selesai, dunia pengetahuan akan mendapatkan banyak manfaat darinya.

Referensi

  1. Corey Binns. Twisted. Popular Science, October 2010, p.38
  2. Situs Resmi Vortex 2 : Vortex2.org
  3. Galeri gambar dan Video Vortex 2 : NSSL.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.