Diposting Minggu, 19 September 2010 jam 4:59 pm oleh The X

KRITIS: Belajar Menilai Klaim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 19 September 2010 - Berpikir kritis itu sangat penting – setiap hari kita berhadapan dengan setumpuk klaim yang perlu dinilai.


Kita perlu mempertimbangkan klaim ekonomi, klaim politik, klaim agama, klaim komersial, dan sebagainya. Idealnya orang mestinya mendapatkan dasar-dasar berpikir kritis yang kokoh saat masih di bangku sekolah, tapi hal tersebut jarang sekali kita temukan. Karenanya, kita harus belajar bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang telah ada.

Dalam edisi Skeptical Inquirer bulan Mei/Juni 2005,  Brad Matthies menawarkan metode mengingat langkah-langkah menilai klaim berdasarkan apa yang telah dikembangkan oleh Wayne R. Bartz. Fakta Ilmiah mengadaptasinya ke dalam bahasa Indonesia menjadi KRITIS, yaitu:

1.      Klaim

2.      Reputasi

3.      Informasi

4.      Test

5.      Independen

6.      Simpulkan

Matthies menjelaskan setiap langkahnya sebagai berikut:

Klaim

Apa yang dikatakan sumber? Apakah klaim tersebut relevan dengan pertanyaan atau pernyataan anda? Apakah klaim tersebut jelas dan konsisten? Apakah klaim tersebut kabur sehingga bermakna ganda?

Reputasi

Apakah pengklaim tersebut jelas? Jika ya, bagaimana kredibilitasnya? Apakah mungkin terdapat bias dari sisi pengklaim sendiri?

Informasi

Bagaimana informasi pendukung klaim ini? Apakah informasi ini dapat diperiksa, atau hanya bertopang pada kesaksian atau kata orang (anekdotal)? Bila sumber tersebut adalah laporan hasil penelitian asli, bagaimana metode pengumpulan datanya? Bila sumber tersebut adalah artikel, apa referensinya dan apakah referensi itu handal? Bila sumber tersebut adalah jurnal, apakah jurnal tersebut terawasi (peer-review)?

Tes

Bagaimana cara menguji (melakukan tes) terhadap klaim? Bagaimana anda sendiri dapat melakukan penelitian kualitatif atau kuantitatif sendiri (misalnya survey, wawancara, studi pustaka, eksperimen, analisa statistik, studi kasus, dan sebagainya)?

Independen

Apakah ada sumber informasi handal yang telah menilai klaim tersebut? Apakah sumber ini mendukung atau menyanggah klaim tersebut? Setelah melakukan tinjauan literatur, apa pendapat para ahli mengenai klaim ini? Apakah para ahli tersebut mendasarkan pendapat mereka berdasarkan analisa dan pengujian detil, ataukah mereka hanya menyatakan pendapat berdasarkan sedikit atau tanpa bukti sama sekali? Apakah para ahli ini benar-benar ahli dalam masalah yang bersangkutan, atau mereka memberikan pendapat mengenai sebuah topik yang bukan keahlian mereka?

Simpulkan

Apa kesimpulan kita berdasarkan kelima langkah sebelumnya? Haruskah sumber ini dipakai sebagai sumber yang sah dan handal? Berhati-hatilah dengan subjektivitas sebelum membuat kesimpulan, pertimbangkan semua fakta.

Matthies membuat banyak point penting di atas. Ini semua adalah prinsip dasar berpikir kritis, kebanyakan terlupakan oleh sebagian orang. Kata pengingat (mnemonik) dari KRITIS (Klaim, Reputasi, Informasi, Tes, Independen, Simpulkan) dapat digunakan untuk mengingat langkah-langkah berpikir kritis tersebut.

Idealnya, perangkat mengingat demikian tidak perlu karena kita sudah mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah mengenai bagaimana berpikir kritis. Walau begitu, hal ini dapat memberikan kita cara yang baik untuk mengorganisasi secara terstruktur bagaimana kita menilai sebuah klaim. Bahkan bila orang tersebut sudah bagus dalam berpikir kritis, kadang KRITIK dapat memastikan kalau proses skeptisme dapat berjalan.

Bacaan lanjut

1.       Richard Paul dan Linda Elder. A Miniature Guide for Students and Faculty to Scientific Thinking. The Foundation for Critical Thinking, 2003

2.       Greg R Haskins. A Practical Guide to Critical Thinking.

3.       M Neil Browne dan Stuart M Keeley. Asking the Right Questions: A Guide to Critical Thinking. Prentice Hall, 2005

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.