Diposting Minggu, 19 September 2010 jam 5:25 am oleh Gun HS

Gen yang Membatasi Pembelajaran dan Memori pada Tikus

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 19 September 2010 -


Menghilangkan suatu gen tertentu pada tikus dapat membuat mereka lebih cerdas dengan membuka daerah misterius otak yang dianggap tidak fleksibel, demikian menurut penemuan para ilmuwan di Emory University School of Medicine. Tikus dengan gen RGS14 yang tak berfungsi mampu mengingat objek yang dieksplorasi dan mempelajari navigasi melewati labirin dengan lebih baik daripada tikus biasa, menunjukkan bahwa kehadiran RGS14 membatasi beberapa bentuk pembelajaran dan memori.

Hasil ini dipublikasikan secara online pekan ini dalam Edisi Awal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Karena RGS14 muncul untuk menahan tikus kembali secara mental, John Hepler, PhD, profesor farmakologi di Emory University School of Medicine, mengatakan ia dan rekan-rekannya sempat membuat kelakar dengan menyebutnya sebagai “gen Homer Simpson.”

RGS14 terutama diaktifkan pada satu bagian tertentu – disebut Ca2 – dari hippocampus, suatu wilayah otak yang dikenal selama puluhan tahun terlibat dalam mengkonsolidasikan pembelajaran baru dan membentuk kenangan baru. Bagaimanapun juga, wilayah Ca2 secara ilmiah menghambat jalur terobosan dan tidak jelas apa fungsinya, kata Hepler.

RGS14, yang juga ditemukan pada manusia, telah diidentifikasi lebih dari satu dekade lalu. Hepler dan koleganya sebelumnya telah menunjukkan bahwa protein RGS14 dapat mengatur beberapa molekul yang terlibat dalam pengolahan berbagai jenis sinyal dalam otak yang diketahui penting untuk pembelajaran dan memori. Mereka yakin, RGS14 adalah protein kontrol kunci untuk sinyal-sinyal tersebut.

Struktur protein RGS14

Untuk menyelidiki fungsi RGS14, Sarah Emerson Lee, seorang mahasiswa pascasarjana yang bekerja sama dengan Hepler, menandai tikus yang gen RGS14-nya sudah dilumpuhkan dengan menggunakan teknologi penargetan. Bekerja sama dengan Serena Dudek, PhD, dari Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan, mereka meneliti bagaimana wilayah Ca2 menanggapi rangsangan listrik pada tikus tersebut.

Banyak peneliti telah menyelidiki bagaimana bagian-bagian lain dari hippocampus terlibat dalam potensiasi jangka panjang, penguatan hubungan antara neuron yang dapat terlihat setelah pembentukan memori baru atau rangsangan buatan dalam wadah budaya. Wilayah Ca2 berbeda dari wilayah lainnya karena tahan terhadap potensiasi jangka panjang, dan neuron dalam Ca2 mampu bertahan dari cedera akibat kejang atau stroke, lebih tahan dari neuron di bagian-bagian lain hippocampus.

Hippocampus pada otak manusia, wilayah otak yang terlibat dalam mengkonsolidasikan pembelajaran baru dan membentuk kenangan baru.

Para peneliti terkejut menemukan bahwa, pada tikus dengan gen RGS14 yang cacat, wilayah Ca2 lantas mampu “menguatkan” potensiasi jangka panjang, yang berarti bahwa dalam menanggapi rangsangan listrik, neuron di dalamnya memiliki koneksi yang lebih kuat. Selain itu, kemampuan tikus ini untuk mengenali objek yang sebelumnya ditempatkan di dalam sangkar justru meningkat dibandingkan dengan tikus normal lainnya. Ia juga mampu belajar lebih cepat dalam navigasi melalui labirin air menuju platform tersembunyi untuk melarikan diri dengan mengingat petunjuk visual.

“Sebuah pertanyaan besar yang timbul berdasarkan penelitian ini adalah mengapa kita, atau tikus, memiliki gen yang membuat kita kurang pintar -  yaitu gen Homer Simpson?” kata Hepler. “Saya percaya bahwa kita tidak benar-benar melihat gambaran lengkap. RGS14 mungkin merupakan gen tombol kontrol di bagian otak yang, ketika hilang atau cacat, mengetuk sinyal otak yang penting bagi pembelajaran dan memori keluar dari keseimbangan.”

Kurangnya RGS14 tampaknya tidak menyakiti tikus, tapi masih mungkin bahwa hal ini mengubah fungsi otak mereka dengan cara di mana peneliti belum dapat memahaminya. Selain tahan terhadap cedera akibat kejang, beberapa jenis neuron Ca2 juga hilang dalam skizofrenia, dan hilangnya gen lain yang secara prima menyala di wilayah Ca2 mengarah ke perubahan perilaku sosial, catat Hepler.

“Ini menunjukkan, mungkin saja tikus ini tidak mudah lupa banyak hal semudah tikus lainnya, atau mungkin mereka memiliki perilaku sosial yang berubah atau sensitivitas terhadap kejang,” katanya. “Tapi tidak selalu.”

Saat ini, Lee tengah menyelidiki beberapa kemungkinannya.

“Impian muluknya adalah bahwa mungkin Anda dapat menemukan suatu senyawa yang bisa menghambat RGS14 atau mematikannya,” tambahnya. “Kemudian, mungkin, Anda bisa meningkatkan kognisi.”

Sumber:
esciencenews.com
en.wikipedia.org

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.