Kimia organik di abad ke-20
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Sabtu, 18 September 2010 - Perubahan terbesar dalam kimia terjadi pada bidang kimia organik. Salah satu contohnya adalah kasus kimiawan Amerika, Robert B Woodward.
Woodward adalah kimiawan organik klasik terbesar, namun ia juga terdepan dalam mengeksploitasi instrumen baru, khususnya spektrometri inframerah, ultraviolet dan NMR. Keahliannya adalah melakukan sintesis total, penciptaan zat organik (biasanya alami) sepenuhnya di laboratorium, dimulai dari bahan yang sesederhana mungkin. Senyawa-senyawa yang berhasil ia sintesis bersama rekan-rekannya adalah alkaloid, seperti quinine dan srychnine, antibiotik seperti tetrasilin, dan molekul yang sangat rumit, klorofil. Pencapaian terbesar Woodward dicapai enam tahun setelah ia menerima hadiah nobel kimia tahun 1965; sintesis vitamin B12, sebuah rekor kerumitan baru. Universitas Harvard berhasis mensintesis produk alami yang lebih rumit lagi kemudian, yaitu palytoksin, yang memiliki lebih dari 60 stereosenter.
Sintesis total ini memiliki manfaat praktis maupun ilmiah. Sebelum revolusi instrumental, sintesis sering dilakukan untuk membuktikan struktur molekul. Sekarang mereka adalah syarat untuk penemuan jenis obat baru. Mereka juga dapat dipakai untuk membuktikan teori. Bersama dengan teoritikus kimia Amerika kelahiran Polandia, Roald Hoffmann, Woodward mengikuti petunjuk dari sintesis B12 yang menghasilkan perumusan aturan simetri orbital. Aturan ini tampak berlaku pada semua reaksi organik termal atau fotokimia yang terjadi dalam satu langkah. Kesederhanaan dan ketelitian prediksinya dibuat oleh beberapa aturan baru, termasuk detail stereokimia yang sangat spesifik dari hasil reaksi, dan menjadi alat yang berharga untuk kimiawan organik sintetik.
Stereokimia, lahir pada akhir abad ke-19. Ia menerima perhatian yang tetap sepanjang abad ke-20. Detail struktur molekul tiga dimensi terbukti tidak hanya memiliki fungsi kritis, kimia dan biokimia saja namun juga sangat sulit untuk di analisa dan disintesis. Beberapa hadiah nobel kimia di paruh abad ke dua diberikan sebagian atau seluruhnya pada kemajuan di bidang stereokimia. Contohnya antara lain Derek Barton dari Inggris, John Cornforth dari Australia, Vladimir Prelog dari Uni Soviet dan lainnya. Peraih nobel kimia tahun 1990 dari Amerika, Elias J Corey, berhasil mengembangkan apa yang ia sebut analisis retrosintetis. Penemuan ini sangat dibantu oleh perangkat lunak komputer interaktif khusus. Pendekatan ini mengubah kimia organik sintetis. Inovasi penting lainnya adalah kimia kombinatorial, dimana sejumlah senyawa dibuat sekaligus – semua permutasi yang mungkin – dan kemudian di pindai untuk dicari apa yang diinginkan.
Referensi
1. Peter Atkins, Atkins’ Molecules, 2nd ed. (2003)
2. William H. Brock, The Fontana History of Chemistry (1992)
3. John C. Kotz, Paul M. Treichel, and Gabriela C. Weaver, Chemistry & Chemical Reactivity, 6th ed. (2006).
4. John B. Fenn, Engines, Energy, and Entropy: A Thermodynamics Primer (1982, reissued 2003).
5. chemistry. (2010). In Encyclopædia Britannica. Retrieved June 20, 2010, from Encyclopædia Britannica Online: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108987/chemistry
- Tujuan Hidup yang Lebih Besar Melindungi Perubahan Berbahaya di Otak yang Berasosiasi dengan Penyakit Alzheimer
- Resiko Cacat Lahir Lebih Tinggi pada Reproduksi yang Dibantu
- Pandangan Berbeda Mengenai Tuhan Mempengaruhi Perilaku Mencontek
- Manfaat Pengasuhan Anak Bermutu Tinggi Tetap Terasa Ketika Individu telah Berusia 30 Tahun
- Korupsi Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Negara Berpenghasilan Rendah
- Asal Usul Suku-Suku Di Indonesia
- Kelelawar, Paus, dan Bio-Sonar: Temuan Baru Tentang Perilaku Mencari Makan Paus Mengungkapkan Konvergensi Evolusi Mengejutkan
- Tuhan dan Sains Modern (Part 11): Penutup
- Untuk Mendorong Kepuasan Konsumen, Pemilik Harus Memperhatikan Kepuasan Kerja Karyawan
- Kepulauan Pasifik di Khatulistiwa Dapat Menjadi Tempat Pengungsian Terumbu Karang dalam Iklim yang Menghangat Karena Perubahan Arus Samudera


