Diposting Sabtu, 18 September 2010 jam 3:44 am oleh The X

Ingatan Episodik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 18 September 2010 -


Artikel ini adalah sambungan dari Keputusan dan Evolusi Ingatan: Multi Sistem, Multi Fungsi

Ingatan episodik merekam peristiwa yang telah dialami oleh diri dalam matriks ruang-waktu subjektif; saat diingat, peristiwa tersebut dialami kembali secara kuasi-perseptual, dengan kesadaran bahwa “ini terjadi pada saya” (misalnya Tulving, 1972, 1983, 1985, 1989, 1993b). Rekoleksi episodik karenanya memiliki kualitas referensi diri, yang dipikirkan lenyap dari tipe lain pengalaman ingatan (misalnya semantik, perseptual, prosedurall; misalnya Tulving, 1984, 1987). Dalam beberapa tahun terakhir, walau begitu, bukti dari neuropsikologi klinis telah mengangkat kemungkinan kalau tipe pengalaman ingatan lainnya mungkin referensi diri pula. Sebagai contoh, Klein, Loftus, dan Kihlstrom (1996) melaporkan kasus W.J., yang menderita letupan konsusif di kepala sesaat setelah menyelesaikan setengah semester kuliah. Sebagai hasil cederanya, W.J menunjukkan amnesia besar pada peristiwa dan pengalaman pribadi yang terjadi 6 bulan hingga saat ia mengalami kecelakaan. Walau begitu, walau amnesia retrograde nya parah, ingatan W.J untuk fakta umum mengenai hidupnya selama periode tersebut tampaknya masih ada. Sebagai contoh, ia tahu kelas mana ia telah hadiri, walau ia tidak ingat kejadian spesifik kapan ia menghadiri kelas tersebut atau sebuah peristiwa yang terjadi di kelas tersebut; ia tahu nama-nama dosen dan teman di kampus, namun tidak ingat pengalaman apa saja yang mereka lakukan bersama.

Disosiasi yang sama antara pengetahuan tentang peristiwa dan faktual tampak dalam kasus pasien K.C (misalnya Tulving, 1989; Tulving, Schacter, McLachlan, & Moscovitch, 1988). K.C., akibat cedera kepala parah, tidak lagi mampu secara sadar mengingat pengalaman pribadi tunggal dalam hidupnya. Walaupun ia kehilangan seluruh ingatan episodik, K.C masih tahu beragam fakta mengenai dirinya sendiri. Ia tahu, misalnya, kalau keluarganya memiliki sebuah rumah peristirahatan dan dimana lokasinya, namun ia tidak dapat mengingat satupun kejadian saat ia di rumah itu, tidak pula ia dapat mengingat peristiwa apapun yang terjadi di sana (untuk penemuan terkait, lihat Cermak & O’Connor, 1983; Evans, Breen, Antoun, & Hodges, 1996; Evans, Wilson, Wraight, & Hodges, 1993; Klein, Chan, & Loftus, 1999; Klein, Cosmides, Costablie, & Mei, in press; Klein, Rozendal, & Cosmides, in press).

Untuk menjelaskan disosiasi antara pengetahuan diri peristiwa dan faktual, Tulving menawarkan konsep ingatan referensi diri yang diperluas memuat komponen semantik selain juga episodik (misalnya Tulving, 1989, 1993a; Tulving et al., 1988; lihat juga Brewer, 1986; Cermak & O’Connor, 1983; Conway, 1992; Craik et al., 1999; Kihlstrom et al., 1988; Kihlstrom & Klein, 1994, 1997; Klein, 1999; Klein, Sherman, & Loftus, 1996; Kopelman, Wilson, & Baddeley, 1989). Ingatan pribadi semantik memungkinkan orang mengingat fakta umum mengenai masa lalu pribadinya. Ini adalah pengetahuan diri dalam bentuk rangkuman. Walau representasi ingatan mengenai diri dan telah di abstraksi dari ingatan mengenai diri dalam himpunan peristiwa, mereka tidak melestarikan rekaman peristiwa dimana mereka diambil. Fakta kalau pasien yang dilaporkan oleh Klein, Loftus, dan Kihlstrom (1996) dan Tulving (1989, 1993a) memiliki akses pada pengetahuan pribadi semantik namun tidak pada episode-episode tertentu dimana pengetahuan ini berasal dapat ditafsirkan sebagai bukti yang mendukung pemisahan antara dua tipe ingatan referensi diri ini.

Bukti Kemandirian

Bukan hanya seseorang dapat memiliki pengetahuan semantik mengenai peristiwa dalam hidupnya, namun ia juga dapat memiliki pengetahuan semantik mengenai sifat kepribadiannya sendiri (untuk tinjauna, lihat Kihlstrom &Klein, 1994; Klein, 2001; Klein & Kihlstrom, 1998; Klein & Loftus, 1993b; Klein, Loftus, & Kihlstrom, 1996). Klein dan Loftus dan kolega mereka baru saja mengajukan dan menguji sebuah model hubungan antara ingatan pengalaman pribadi dan konsepsi sifat diri (misalnya Klein et al., 1989, 1997, 1999; Klein & Loftus, 1990, 1993a, 1993b, 1993c; Klein, Loftus, & Plog, 1992; Klein, Loftus, & Sherman, 1993; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992; Klein, Sherman, & Loftus, 1996; Kihlstrom & Klein, 1994, 1997; Schell et al., 1996). Model ini menyertakan tiga ciri berikut. Pertama, pengetahuan jangka panjang sifat seseorang diabstraksi dari beragam pengalaman dengan perilaku yang relevan sifat dan disajikan dalam ingatan semantik dalam bentuk rangkuman. Kedua, penilaian sifat mengenai diri dibuat dengan mengakses representasi rangkuman ini tanpa referensi ke episode perilaku dimana ia diturunkan. Dan ketiga, rangkuman representasi sifat adalah mandiri secara fungsional dari ingatan episode perilaku yang relevan sifat.

Terdapat bukti kalau orang membentuk representasi rangkuman dari sifat kepribadiannya sendiri dan mengingatnya saat diminta untuk memutuskan apa sifat tertentu yang mewakili mereka (misalnya Craik et al., 1999; Hirshman & Lanning, 1999; Kircher et al., 2000; Klein et al., 1989, 1993, 1997, 1999; Klein & Loftus, 1990, 1993a, 1993b; Klein, Loftus, & Kihlstrom, 1996; Klein, Loftus, &

Plog, 1992; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992; Lord, 1993; Schell et al., 1996). Banyak bukti yang sama pentingnya menunjukkan kalau orang mempertahankan penyimpanan detil dari episode perilaku yang mereka alami (misalnya Barclay, 1996; Conway & Bekerian,1987; Klein et al., 1989, 1997; Klein & Loftus, 1993b; Klein,Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992; Nelson, 1993b, 1996; Rubin, 1986; Singer & Salovey, 1993; Strauman, 1990).

Klein dan Loftus telah memberikan bukti kalau pengetahuan diri sifat semantik dan episodik disajikan dan digunakan secara independen. Sebagai contoh, menggunakan paradigma pengutamaan, mereka memeriksa apakah ingatan perilaku diaktifkan saat seseorang memutuskan apakah sebuah sifat menunjukkan diri sendiri (tugas menjelaskan). Bila mereka teraktifkan, maka seseorang mestinya mampu mengingat ingatan tersebut lebih cepat setelah melakukan sebuah tugas menjelaskan daripada setelah melakukan tugas mengendalikan. Ini tidak terjadi: Saat subjek diminta mengingat insiden perilaku tertentu dimana ia termanifestasi dalam sifat tertentu (tugas mengingat), mereka yang membuat penilaian deskripsi diri tidak lebih cepat dari mereka yang tidak (misalnya Klein et al., 1989; Klein & Loftus, 1990, 1993b; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992). Namun prosedur yang digunakan diketahui cukup sensitif untuk mendeteksi pengutamaan episodik saat ia terjadi (misalnya Babey et al., 1998; Klein & Loftus, 1993b; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992; Sherman, 1996; Sherman & Klein, 1994; Sherman, Klein, Laskey, & Wyer, 1998). Klein dan Loftus menyimpulkan dari ini kalau pengetahuan pribadi semantik diperlukan untuk sebuah penilaian deskripsi diri yang diakses tanpa mengaktifkan ingatan episode dimana perilaku orang tersebut menunjukkan sifatnya.

Eksperimen lanjutan yang mengeliminasi interpretasi alternatif dari hasil ini memberikan bukti yang lebih jelas bahwa penilaian deskripsi diri sifat dapat dibuat tanpa referensi pada bukti perilaku (misalnya Klein et al., 1997; Klein & Loftus, 1993b; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992). Telah disarankan, misalnya, kalau beberapa sifat lebih sentral pada konsep diri seseorang dari pada yang lain dan kalau sifat non sentral kurang mungkin direpresentasikan dalam bentuk rangkuman. Bila demikian, mungkin perlu mengaktifkan dan mengevaluasi ingatan perilaku spesifik untuk memutuskan apakah sebuah sifat nonsentral itu deskripsi diri, bahkan walau “bukti” demikian tidak perlu saat sifat yang dipertanyakan adalah sentral (misalnya, Bower & Gilligan, 1979; Kihlstrom & Cantor, 1984; Kihlstrom et al., 1988). Dalam skenario ini, ingatan perilaku akan diutamakan saat orang menilai deskripsi diri dari sifat nonsentral, namun bukan yang sentral. Bila perbedaan demikian ada, ia tidak akan tampak dalam data yang dilaporkan di atas karena studi-studi tersebut menggabungkan semua sifat tanpa melihat tingkat deskripsi dirinya.

Untuk menjawab masalah ini, Klein, Loftus, Trafton, dan Fuhrman (1992) mengulangi prosedur pengutamaan Klein dan Loftus dan setelah itu meminta subjek membuat ranking masing-masing sifat deskripsi diri. Rating ini dipakai untuk memilah latensi respon subjek menjadi tiga tingkat deskripsi diri sifat (tinggi, sedang, dan rendah). Tanpa melihat deskripsi diri dari sifat yang dinilai, tidak ada pengutamaan yang diamati antara tugas mendeskripsikan dan mengingat (lihat juga Kihlstrom & Klein, 1994; Klein et al., 1997; Klein & Loftus, 1990, 1993b). Klein dan Loftus menafsirkan hasil ini sebagai indikasi kalau ada sedikit, bila ada, dimensi sifat dimana orang belum memiliki pengalaman yang cukup untuk membentuk rangkuman pengetahuan diri sifat : Saat tiba pada kepribadian kitasendiri, kita semua “ahlinya”.

Hasil dari studi menggunakan metode lain juga mendukung independensi pengetahuan sifat semantik dan episodik mengenai diri. Klein, Loftus, dan Plog (1992), misalnya, menggunakan fenomena pemprosesan pantas-transfer (misalnya Roediger & Blaxton, 1987; Roediger, Weldon, & Challis, 1989) dalam sebuah studi ingatan pengenalan sifat untuk menunjukkan kalau berbagai proses terlibat dalam mengakses kedua tipe pengetahuan. Klein et al. (1989, Experiment 4) menerapkan prinsip penyandian variabilitas (misalnya Bower, 1972; Martin, 1971) dalam sebuah studi mengingat sifat dan menemukan kalau tipe informasi yang dibuat tersedia saat membuat penilaian sifat berbedadari yang dibuat tersedia saat mengingat perilaku relevan-sifat.

Pendukung tambahan untuk independensi pengetahuan diri sifat episodik dan semantik baru saja disajikan oleh Craik et al. (1999). Menggunakan tomografi emisi positron, para penyelidik ini menemukan kalau partisipan yang diperlukan untuk menilai kata sifat untuk deskripsi diri menghasilkan aktivasi di daerah kortikal yang berasosiasi dengan pengingatan ingatan semantik (daerah frontal kiri) namun bukan yang berasosiasi dengan pengingatan ingatan episodik (daerah frontal kanan). Penemuan yang sama menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional telah baru saja dilaporkan oleh Kircher et al. (2000).

Mungkin bukti yang paling dramatis mengenai penyimpanan dan pengingatan independen dari pengetahuan diri sifat semantik dan episodik datang dari studi pasien dengan gangguan ingatan (misalnya Klein, 2001; Klein et al., 1999; Klein & Kihlstrom, 1998; Klein, Loftus, & Kihlstrom, 1996; Klein, Rozendal, & Cosmides, in press; Reinvang & Gjerstad, 1998; Schacter, Wang, Tulving, & Freedman, 1982; Tulving, 1993a). Sebagai contoh, Tulving (1993a), menguji spekulasi Klein dan Loftus (1993b), menemukan kalau pasien K.C., yang kehilangan seluruh ingatan episodiknya secara permanen setelah sebuah kecelakaan sepeda motor (dan mengalami perubahan kepribadian yang nyata), mampu menjelaskan kepribadian pasca kecelakaannya secara akurat (rating ibunya bertindak sebagai kriteria). Jadi, K.C., mampu memperoleh pengetahuan semantik dari kepribadian barunya tanpa mampu mengingat informasi mengenai episode perilaku apapun dimana pengetahuan tersebut diperoleh.

Lebih baru, Klein, Loftus, dan Kihlstrom (1996) menyajikan kasus pasien W.J., yang, sebagai akibat cedera kepala parah, menderita kehilangan ingatan episodik sementara. W.J diminta membuat penilaian atas diri sendiri saat ia amnesia maupun setelah resolusinya. Karena responsnya saat ia dapat mengakses episode perilaku konsisten dengan respon saat ia tidak dapat melakukannya, Klein, Loftus, dan Kihlstrom menyimpulkan kalau kehilangan ingatan episodik yang relevan sifat tidak mempengaruhi dengan besar ketersediaan pengetahuan diri sifat semantiknya. Hasil seperti ini menawarkan dukungan yang kuat mengenai pernyataan umum kalau pengetahuan rangkuman dari sifat seseorang disajikan dan diakses secara terpisah dari ingatan perilaku seseorang yang relevan sifat (untuk penemuan terkait, lihat Klein, Cosmides, et al., in press; Klein et al., 1999).

Kenapa Memiliki Ingatan Inseptif dan Turunan?

Untuk memutuskan apakah sebuah sifat mendeskripsikan mereka, subjek non amnesik Klein dan Loftus mengambil rangkuman sifat. Adalah penting untuk dicatat, walau begitu, kalau subjek dapat memutuskan pertanyaan ini dengan mengakses pertanyaan ini dengan melihat perpustakan episode perilaku yang relevan; lagi pula, mereka mampu mengingat episode spesifik yang memanifestasikan sifat yang dibahas. Kedua tipe representasi – semantik dan episodik – ada. Hanya saja mengingat sifat semantik tidak menyebabkan subjek mengingat episode lebih cepat daripada sebaliknya

Namun mengapa membentuk rangkuman sifat jika seseorang dapat menuju ke perpustakaan episode? Begitu juga, kenapa mempertahankan episode setelah memiliki representasi rangkuman dalam bentuk abstrak darinya? Apakah ada alasan fungsional untuk memiliki informasi sifat yang disajikan dalam dua database berbeda yang dapat diambil? Lebih umumnya, apakah ada alasan fungsional untuk memiliki database ingatan inseptif maupun turunan?

Pertukaran : Ingatan Versus Komputasi, Kecepatan Versus Ketelitian

Manfaat penjadwalan komputasi yang lambat. Interaksi sosial sering memerlukan keputusan cepat, sebagian paling baik di ambil dalam jaringan luas informasi. Walau begitu, perlu waktu untuk mencari, mengambil, memformat ulang, dan mengintegrasi informasi tersebar (dan kadang tidak dapat dipahami) yang diperlukan untuk membuat keputusan tertentu. Sebagai contoh, episode perilaku adalah interaksi konkrit, masing-masing melibatkan berbagai aktor dan kemungkinan. Ia tidak datang dengan tanda yang memberi label aktor individu sebagai orang yang “baik”, “jujur” atau “jahat”; Untuk membuat penilaian demikian, seseorang perlu membuat kesimpulan mengenai motivasi dan kesempatan aktor dalam tiap episode harus alami atau dengarkan, dan kemudian entah bagaimana mengkombinasikan penemuan ini menjadi penilaian rangkuman. Semuanya sama, keputusan yang lebih baik akan dibuat jika analisis ini lengkap sebelum sebuah keputusan yang memerlukannya basi. Melakukan sebagian (atau semua) perhitungan yang perlu ke depannya dapat, dengan demikian, bermanfaat.

Ingatan inseptif versus turunan. Adalah berguna untuk membedakan ingatan inseptif dengan ingatan turunan. Ingatan inseptif adalah representasi dari dunia yang disimpan kurang lebih sama dengan jalan ia disandikan dalam insepsinya (waktu saat ia pertama kali dialami). Banyak ingatan episodik tampaknya inseptif: Mereka seringkali memuat informasi proprioseptif, detil perseptual, qualia emosi, rasa diri ada dalam situasi yang tersandikan, dan rasa kalau ingatan sama dengan pengalaman asli. Namun tidak semua ingatan inseptif bersifat episodik. Secara logis mungkin memiliki ingatan inseptif mengenai peristiwa spesifik yang melibatkan diri tanpa berkarakter episodik – ia bukan episodik jika tidak memiliki sifat subjektif diri dalam ruang dan waktu yang merupakan diagnostik ingatan episodik.

Ingatan turunan disebut demikian karena mereka diturunkan dari penyimpanan ingatan inseptif namun secara komputasi diubah untuk memasok informasi dalam bentuk yang meminimalkan pemprosesan lebih jauh oleh aturan keputusan yang menggunakannya. Sebuah sistem ingatan turunan – bersama dengan permesinan inferensialnya – menyediakan jawaban atau informasi pra proses kedalam bentuk yang berguna dan siap, untuk memfasilitasi keputusan dan penilaian dari tipe tertentu yang akan merugikan bila harus dihitung dari data mentah yang diminta.

Operasi komputasi yang membangkitkan ingatan turunan tidak terbatas pada ekstraksi informasi semata dari ingatan inseptif. Ia dapat pula menyatu. Sebuah ingatan turunan dapat memuat informasi yang tidak ada dalam ingatan inseptif yang mendasarinya, dibangkitkan oleh prosedur yang membuat kesimpulan dari data inseptif. Ingatan turunan dapat, dalam beberapa kasus, menjadi keluaran proses keputusan yang sama yang menggunakannya di waktu kemudian : Bila seseorang perlu memutuskan pada Waktu 1, berdasarkan episode perilaku, apakah Orang Y itu jujur, kesimpulan dapat disimpan sebagai ingatan turunan untuk digunakan pada Waktu 2. Sebuah rangkuman sifat adalah sebuah bentuk ingatan turunan, sebuah episode yang disimpan adalah ingatan inseptif.

Karena manfaatnya, ingatan manusia dapat penuh dengan penyimpan ingatan turunan independen yang terhubung ke berbagai penyimpanan ingatan inseptif (lihat juga Nadel, 1994). Penyimpan ingatan yang berhubungan dari sifat kepribadian yang dirangkum dan episode perilaku yang mencontohkan sifat itu dapat terbutki sebagai sistem model menarik yang dapat menyinari sifat yang umum di banyak penyimpan ingatan.

Ingatan versus komputasi. Fungsi adaptif penyimpan informasi secara intrinsik adalah prospektif: Ia dipakai untuk mendukung keputusan dan penilaian masa depan, yang tidak dapat diketahui dengan kepastian. Pada keluasan sehingga karakter keputusan dan penilaian selanjutnya dapat diramalkan, sistem ingatan dapat dirancang untuk menandai informasi yang relevan dan variabel prahitung yang diperlukan untuk membuatnya – yaitu, ia dapat mengembangkan penyimpan ingatan turunan.

Seberapapun bergunanya untuk memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang dapat ditanyakan prahitung dan segera pada sebuah ingatan turunan, himpunan ini jelas berukuran besar dan karenanya dibatasi oleh batasan sumber daya komputasi dan ingatan.

Dalam istilah fungsional, faktor-faktor yang harus mengatur jumlah dan tipe penyimpan ingatan turunan antara lain (a) prediktabilitas: keberadaan faktor, baik ontogenetik atau filogenetik, yang memungkinkan antisipasi yang berhasil dari keragaman penilaian dan tipe keputusan di masa depan; (b) kepentingan biaya: nilai penilaian atau keputusan harus sesuai dengan biayanya; (c) kepentingan waktu: persyarakat kalau penilaian tersebut di buat cepat; dan (d) ekonomi: jumlah penilaian atau keputusan yang didukung oleh penyimpan ingatan turunan harus besar pula melihat pada ukurannya. Penggunaan rangkuman sifat dalam membuat keputusan mengenai interaksi sosial memenuhi semua kriteria di atas.

Menyimpan informasi semantik memiliki manfaat maupun kerugian. Pengambilan langsung representasi prahitung (ingatan turunan) menghemat komputasi pada jalur dan cepat. Namun semakin besar ingatan diperlukan untuk seemakin besarnya himpunan representasi yang mesti prahitung dan diperiksa, dan dapat memberikan informasi yang tidak lagi terkini. Sebaliknya, prosedur yang terpicu di jalur yang memakai ingatan inseptif sebagai masukan menghemat ingatan (turunan) dan menyediakan informasi terkini. Namun mereka mahal secara komputasi dan sangat lambat, semakin banyak langkah perhitungan yang terlibat. Sebuah arsitektur yang dirancang secara fungsional harus dibentuk untuk pertukaran ini, menggunakan beragam campuran ingatan versus komputasi untuk beragam tipe masalah adaptif berbeda (misalnya Pinker, 1997, 1999). Keputusan mengenai sifat kepribadian memberikan sebuah kasus yang dibahas.

Berlanjut ke Kapan Rangkuman Sifat Terbentuk

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.