Diposting Minggu, 12 September 2010 jam 7:05 am oleh The X

1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 12 September 2010 -


Ada 137 negara yang di survey dan dengan antusias saya berharap ada negara kita di sana. Dan itu dia negara kita, perhatikan gambar 1. Yang dilingkari adalah negara kita. Dan satu yang mengesankan IQ rata-rata orang dewasa di negara kita, bukanlah 100, tapi 87!

Perbandingan pada gambar 1 disusun berdasarkan abjad, sekarang kita bandingkan antara negara-negara di Asia Tenggara. Perhatikan tabel 1 tentang perbandingan ateis di negara-negara asia tenggara.

Gambar 1. Posisi negara kita

Tabel 1. Jumlah Ateis di Negara Asia Tenggara

NegaraIQPersen ateis
Thailand910.5
Laos895
Vietnam9481
Kamboja917
Malaysia920.5
Singapura10813
Brunei910.5
Indonesia871.5
Philipina860.5

Sumber : Lynn et al, 2009

Let’s see, IQ rata-rata penduduk di negara kita kedua terendah di Asia Tenggara, tapi untungnya jumlah ateis kita hanya kelima terendah. Walau data di atas tidak memuat Myanmark dan Timor Leste, gambaran ini sudah cukup memberi kita pola persebaran ateis di Asia Tenggara.

Ada yang menonjol di sana, Vietnam. Jumlah ateisnya luar biasa besar, jauh melebihi negara lain di Asia Tenggara. Padahal bila anda lihat dari IQ, Vietnam masih kalah jauh dengan Singapura. Jadi semata kecerdasan tidak dapat menjelaskan jumlah populasi ateis di sana. I know what you thinking, jawabannya komunisme.

Komunisme

Ya, baik Indonesia maupun Vietnam punya sejarah besar dengan komunisme. Di Indonesia komunisme di tolak, tapi di Vietnam negara sempat terbelah dua karenanya. Ingat bagaimana dahsyatnya perang Vietnam antara Amerika dan Komunis Vietnam. So Komunisme bertanggung jawab atas besarnya populasi ateis di sana. Sekarang, negara apa lagi yang punya sejarah dengan komunisme? Negara bekas Uni Soviet dan China Kuba serta Korea Utara. Mari kita lihat statistiknya

Tabel 2. Jumlah ateis di negara bekas komunis

NegaraIQPersentase ateis
Armenia9414
Azerbaijan870.5
Belorusia9717
China10512
Estonia9949
Georgia944
Kazakhstan9412
Kirgiztan907
Kuba8540
Latvia9820
Lithuania9113
Moldova966
Rusia 9727
Tadzikistan872
Turkmenistan872
Ukraina9720
Uzbekistan874

Sumber : Lynn et al, 2009

Kembali kita lihat pola yang kurang lebih sama berulang. Ada negara bekas komunis yang sangat sedikit ateisnya, dan ada yang sangat banyak. Sayang tidak ada data tentang Korea Utara, tapi saya yakin kalau ada, maka ateisnya akan sangat banyak, seperti di Vietnam.

Apa artinya ini? Jelas komunisme tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya sebab. Lihat saja China, walaupun ia komunis tapi persentase ateisnya tidak semencolok Vietnam.

Jadi bila bukan karena komunisme, jadi karena apa? Mari kita lihat langsung negara-negara dengan persentase ateis terbesar di dunia dihitung dari persentase di atas 40 persen

Tabel 3. Sepuluh Negara dengan persentase ateis tertinggi di dunia

NegaraIQPersentase ateis
Belgia9943
Ceko9861
Denmark9848
Estonia9949
Inggris10041.5
Jepang10565
Jerman9942
Perancis9844
Swedia9964
Vietnam9481

Sumber : Lynn et al, 2009

Ceko memiliki populasi ateis yang besar mungkin karena komunisme, begitu juga Vietnam dan Estonia. Tapi bagaimana anda menjelaskan tujuh negara terbesar sisanya? Belgia, Denmark, Inggris, Jepang, Jerman, Perancis dan Swedia? Mari kita dengarkan penjelasan dari Lynn et al sendiri.

Survey PEW yang terbaru

Kecerdasan

Ada sejumlah besar hasil penelitian yang menemukan korelasi negatif antara kecerdasan dan keimanan. Bell tahun 2002 sudah mengumpulkan 43 laporan hasil penelitian dan dari semua ini, hanya 4 yang tidak menemukan hubungan negatif. Tidak menemukan hubungan negatif bukan harus positif tapi bisa juga tidak berhubungan sama sekali. Jadi ada 39 hasil penelitian menunjukkan semakin bodoh seorang, semakin besar kemungkinan kalau ia, well, orang yang beriman.

Masih ada penelitian lain. Verhage (1964) misalnya melakukan survey nasional di Belanda yang memuat 1538 sampel yang dipilih dengan hati-hati. Ia menemukan kalau agnostik dan ateis rata-rata memiliki IQ 4 point lebih tinggi dari orang beriman. Kanazawa (2009) menganalisa data dari Studi Kesehatan Remaja Longitudinal Nasional Amerika yang mengukur kecerdasan remaja lewat Tes Kosakata Gambar Peabody (PPVT). Tes ini dilakukan pada 14.277 remaja di penjuru Amerika Serikat. Untuk mengukur keimanan dilakukan wawancara, dengan pertanyaan : Apakah anda orang yang beriman? Jawabannya adalah sangat beriman, beriman, tidak beriman dan sangat tidak beriman. Remaja yang menjawab sangat tidak beriman memiliki IQ tertinggi yaitu 103,09. Yang mengatakan tidak beriman 99,34; yang mengatakan beriman 98,28 dan yang mengatakan sangat beriman 97,14. Dari gambaran ini jelas kalau hubungan yang ditemukan bersifat sangat signifikan dengan p<0,00001.

Hal yang sama dilakukan terhadap para ilmuan. Leuba pada tahun 1921 melakukan survey pada keyakinan para ilmuan dan sarjana Amerika dan hasilnya hanya 39% yang mengatakan mereka percaya adanya Tuhan. Bila kelompok dipecah berdasarkan disiplin ilmu, semua disiplin ilmu berada dibawah 50%. Yang paling banyak ilmuan beragama adalah Sejarah (48%) dan paling rendah adalah Psikologi (24%). Itu studi tahun 1921, sangat klasik. Ada yang lebih modern? Tentu saja, tahun 1965 dilakukan oleh Roe. Sampelnya adalah 64 ilmuan terkemuka dan dari ini semua, 61 orang menyatakan tidak beragama. Hell, berarti hanya 4,8% ilmuan terkemuka yang beriman. Dan ini jauh mencolok dibandingkan persentase orang beriman di kalangan masyarakat awam Amerika Serikat yang mencapai 95,5% di tahun 1958 sebagaimana dilaporkan Argyle. Lebih modern lagi, kita punya laporan penelitian Larsen dan Witham tahun 1998. Persentase tidak berubah banyak. Dari semua anggota Lembaga Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat (American National Academy of Sciences) hanya 7% yang mengaku teis (percaya adanya Tuhan). Jauh mencolok dibandingkan penduduk awam yang mencapai 90%. Hal yang sama dilaporkan Dawkins tahun 2006 di Inggris. Hanya 3,3 anggota Royal Society yang percaya Tuhan ada, 78,8% tidak percaya tuhan ada (ateis) dan sisanya tidak memutuskan. Ini juga mencolok dibandingkan masyarakat awam di Inggris yang 68,5% percaya adanya Tuhan saat itu.

Gambar 2. Hasil Survey (Kanazawa, 2009)

Digabungkan dengan hasil penelitian Lynn et al ini, hasilnya memunculkan pertanyaa, kenapa mesti ada korelasi negatif antara IQ dan keyakinan adanya Tuhan. Banyak orang rasional tidak diragukan lagi mengakui pendapat Frazer (1922) bahwa saat peradaban berkembang, pikiran yang cemerlang mulai menolak penjelasan religius atas fenomena alam karena dianggap telah tidak sesuai lagi, dan penjelasan agama perlahan digantikan dengan sains. Yang lain berpendapat kalau semakin seseorang cerdas, semakin cenderung ia mempertanyakan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak didukung bukti dari dogma agama. Sebagai contoh, 60 tahun lalu, Kuhlen dan Arnold (1944) mengatakan bahwa semakin dewasa intelektual seseorang, semakin ia skeptis terhadap masalah agama. Inglehart dan Welzel tahun 2005 mengatakan bahwa di dunia pra industri, manusia memiliki sedikit kekuasaan terhadap alam. Akibatnya mereka mencari penenang atas ketidak mampuan mereka dengan memberikan kuasa tersebut pada sesuatu yang metafisik yang terlihat mengendalikan dunia. Penyembahan dilihat sebagai cara mempengaruhi takdir, dan lebih mudah menerima ketidak berdayaan bila kita tahu hasilnya berada di tangan sesosok mahluk maha kuasa yang masih bisa ditarik hatinya lewat aturan-aturan agama. Salah satu alasan penurunan keyakinan beragama adalah meningkatnya kemampuan mengendalikan alam lewat teknologi sehingga menghilangkan kebutuhan untuk bertopang pada kekuatan supernatural.

Lihat saja tabel mengenai 10 negara ber IQ paling rendah di dunia ini, mereka cenderung merupakan negara dengan penduduk paling beriman. Untuk membandingkannya lihat juga negara dengan penduduk ber IQ rata-rata tertinggi. Tabel 6 menunjukkan pemeriksaan korelasi IQ dan persentase ateis, yang ternyata sangat signifikan.

Tabel 4. Sepuluh negara dengan penduduk ber IQ paling rendah di dunia

NegaraIQPersentase ateis
Kamerun640.5
Afrika Tengah641.5
Republik Kongo642.7
Ethiopia640.5
Mozambique645
Sierra Leone640.5
Gambia660.5
Senegal660.5
Zimbabwe664
Guinea670.5

Sumber : Lynn et al, 2009

Tabel 5. Sepuluh negara dengan penduduk ber IQ tertinggi di dunia

NegaraIQPersentase ateis
Singapura 10813
Korea selatan10630
China10512
Jepang 10565
Taiwan10524
Italia 1026
Islandia10116
Mongolia10120
Swiss 10117
Austria10018

Sumber: Lynn et al, 2009

Tabel 6. Hasil analisa Regresi Linier korelasi IQ dan Persentase Ateis

SUMMARY OUTPUT
Regression Statistics
Multiple R0.59735
R Square0.356827
Adjusted R Square0.352063
Standard Error9.578737
Observations137
ANOVA
dfSSMSFSignificance F
Regression16871.9496871.94974.896831.30717E-14
Residual13512386.5591.7522
Total13619258.5
CoefficientsStandard Errort StatP-valueLower 95%
Intercept80.860370.97123183.255586.6E-11878.93957366
% Not believing in God0.4488160.0518618.6542951.31E-140.346252132

Plot data Lynn et al

Penjelasan yang lebih sederhana

Nigel Barber, Ph.D. mencoba menjelaskan alasan mengapa ateis memiliki IQ lebih tinggi. Seperti banyak tipe korelasi semacam ini, apa yang ada sebenarnya tidak terlalu mengesankan.

Ateis mungkin lebih cerdas dari orang beriman karena mereka mendapatkan banyak manfaat dari kondisi sosial yang kebetulan berkorelasi dengan hilangnya keyakinan agama. Bila anda lihat dari tabel utama yang dilaporkan Lynn et al (2009), terdapat beberapa pola yang ditemukan. Negara yang penduduknya sangat religius ternyata:

1.      Negara miskin

2.      Sedikit kota besar

3.      Pendidikan rendah

4.      Kurang terpaparkan pada media elektronik yang dapat meningkatkan kecerdasan (Barber, 2006)

5.      Mengalami banyak penyakit menular yang merusak fungsi otak

6.      Lebih banyak mengalami berat lahir yang rendah

7.      Lebih banyak menderita gizi buruk

8.      Tidak mampu mengendalikan polusi lingkungan seperti timbal yang dapat mengurangi kecerdasan.

Inilah faktor-faktor yang menurut Barber menyebabkan rendahnya IQ di negara tersebut.

Barber meragukan kalau agama menyebabkan kebodohan hanya karena ada beberapa orang cerdas dalam sejarah saja yang sangat religius, seperti Newton misalnya. Masalahnya lebih rumit. Tentu saja, dapat diakui kalau orang yang sangat cerdas bermasalah dalam menerima beberapa keyakinan yang diajarkan agama. Lebih lanjut, sains modern menawarkan penjelasan atas fenomena yang sebelumnya hanya dijelaskan oleh agama. Orang yang cerdas akan memilih penjelasan sains daripada agama. Sebagai contoh, orang yang cerdas akan memilih percaya kalau gempa disebabkan oleh pergerakan lempeng benua ketimbang menurunnya akhlak dan menyebarnya DVD porno.

Salah satu suku di Himachal Pradesh, India

Kesimpulan

Tidak diragukan lagi kalau kebanyakan ateis lebih cerdas dari rata-rata orang religius. Karena orang yang ber IQ rata-rata jauh lebih banyak dari orang yang cerdas, adalah wajar kalau kita sedikit menemukan ateis di Indonesia. Tapi IQ dapat diubah, dan bukan hanya IQ yang menyebabkan orang menjadi ateis, ada banyak sekali faktor. Trauma, trend dan sebagainya. Sebagai pemerhati sains, apa yang mesti kita permasalahkan bukanlah keyakinan, tapi manifestasi dari keyakinan tersebut. Seberapa banyak korban yang harus mati karena pertikaian agama. Mungkinkah ateisme salah satu solusinya?

addendum

Beberapa pembaca menanyakan metode surveynya. Dari artikelnya yang ada di bawah (Referensi kedua) anda dapat melihat metodenya. Metodenya adalah studi literatur. Literatur untuk mengetahui persentase di Amerika Serikat adalah hasil wawancara dan tes IQ tahun 1997 pada remaja berusia 12-17 tahun. Sementara itu untuk negara lainnya menggunakan dua literatur yaitu dari Lynn dan Vanhanen sendiri tahun 2006 dan dari Zuckerman 2007. Pada gilirannya, Lynn dan Vanhanen mengumpulkan data hasil tes IQ di 81 negara lalu mencari tahu apakah mereka percaya/tidak percaya Tuhan ada dengan berbagai cara berdasarkan identitas yang tertulis di hasil tes IQ. Metode ini dikritik keras oleh McDaniel (2008) terutama karena sampel yang tidak mewakili populasi (responden menumpuk di universitas) dan penggunaan regresi untuk meramalkan nilai di beberapa negara, bukannya dengan survey langsung pula.  Karenanya Lynn et al juga menyertakan referensi Zuckerman (2007) yang menggunakan survey langsung. Sayangnya Zuckerman hanya memuat data persentase ateisme saja tanpa IQ. Akibatnya tes IQ kembali harus di regresikan secara statistik.

Referensi Utama

1.      Barber, N. 2010. The Real Reason Atheist Have Higher IQs. Psychology Today, May 2010

2.      Lynn, R., Harvey, J., & Nyborg, H. (2009). Intelligence predicts atheism across 137 nations. Intelligence, 37, 11-15.

Referensi Silang

1.      Argyle, M. (1958). Religious Behaviour. London: Routledge and Kegan Paul

2.      Barber, N. (2006). Is the effect of national wealth on academic achievement mediated by mass media and computers? Cross-Cultural Research, 40, 130-151.

3.      Bell, P. (2002). Would you believe it?: Mensa Magazine Feb., 12-13.

4.      Dawkins, R. (2006). The God Delusion. London: Bantam Press.

5.      Frazer, J. G. (1922). The Golden Bough. London: Macmillan

6.      Inglehart, R.,& Welzel, C. (2005).Modernization, Cultural Change, and Democracy: The Human Development Sequence. Cambridge: Cambridge University Press 2005

7.      Kanazawa, S. (2009). Why liberals and atheists are more intelligent.

8.      Kuhlen, R. G., & Arnold, M. (1944). Age differences in religious beliefs and problems during adolescence. Journal of Genetic Psychology, 65, 291?300.

9.      Larsen, E. L., Witham, L. (1998). Leading scientists still reject God. Nature, 394, 313.

10.  Leuba, J. A. (1921).The Belief in God and Immortality. Chicago: Open Court Publishers

11. Lynn, R.,& Vanhanen, T. (2006). IQ and Global Inequality. Athens: GA: Washington Summit Publishers.

12. McDaniel, M.A. 2008. Review of “IQ and global inequality.

13.  Roe, A. (1965). The Psychology of Occupations. New York: Wiley.

14.  Verhage, F. (1964). Intelligence and religious persuasion. Nederlands Tijdschrift voor de Psychologie en haar Grensgebieden, 19, 247?254.

15. Zuckerman, P. (2007). Atheism: contemporary numbers and patterns. In M. Martin (Ed.), The Cambridge Companion to Atheism. Cambridge: Cambridge University Press.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.