Diposting Sabtu, 11 September 2010 jam 6:56 am oleh The X

Tuhan buat Ateis : Alien

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 11 September 2010 -


Buku tersebut adalah karangan George Basalla. Menurutnya usaha pencarian kecerdasan luar bumi pada dasarnya adalah gejala psikologis manusia lumrah, hanya saja para manusia disini adalah ateis.

Hal ini berangkat dari dua fakta:

1.       Hampir semua, bila tidak semua, para perintis usaha pencarian kecerdasan luar bumi (S ETI) adalah ateis dan agnostik yang dulunya beragama (Shermer, 2001) contohnya Frank Drake dan Carl Sagan

2.       Hampir semua, bila tidak semua, ahli kosmologi besar dunia adalah ateis atau agnostik (Carrol, 2003)

Citra seniman pada sebuah planet luar tata surya

Kenapa justru para petualang alam semesta bukanlah orang yang religius? Ini yang berusaha dijawab oleh Basalla. Menurut beliau jawabannya adalah pemuasan kebutuhan psikologis evolusioner manusia. Hal ini ditunjukkan oleh tiga asumsi yang melekat pada proyek SETI yang ternyata juga merupakan asumsi yang sudah ada sejak zaman batu. Ketiga asumsi itu adalah:

1.       Alam semesta ini sangat besar atau mungkin tak terhingga

2.       Ada dunia lain

3.       Ada mahluk hidup lain yang jauh lebih superior dari kita

Asumsi pertama terbukti benar. Kita hidup di sebuah alam semesta yang mengembang semakin cepat sejak 13.7 miliar tahun. Di dalamnya terkandung beberapa ratus miliar galaksi yang menjadi kampung dari beberapa ratus miliar bintang.

Asumsi kedua sedang dalam proses pembuktian atau penyangkalan, tergantung definisi dunia itu sendiri. Bila ia semata planet seperti bumi, jelas dunia lain itu ada. Sudah ada 488 planet di luar tata surya kita dan terus bertambah jumlahnya. Ada banyak dunia mengitari ratusan miliar bintang di galaksi kita saja, belum lagi galaksi lainnya. Apakah ia dihuni atau tidak, itulah yang masih coba diteliti.

Asumsi ketiga, bila kita memang berhasil melakukan kontak dengan alien cerdas (ETI), mereka mestinya jauh lebih hebat dari kita (karena kita baru saja menemukan radio dan pesawat antariksa).  Dalam rentang waktu evolusi, sebuah spesies ETI yang hanya sedikit lebih maju dari kita secara biologis bisa jauh lebih maju dari kita secara teknologi. Hukum Terakhir Shermer mengatakan, setiap kecerdasan luar bumi yang cukup maju tidak dapat dibedakan dengan Tuhan.

Asumsi ketiga inilah yang ditunjuk oleh kedua ilmuan kita. Gagasan adanya mahluk superior di langit bukanlah hal baru dan juga bukan hal yang ilmiah. Ia keyakinan kuno yang menyebar luas dalam agama. Aristoteles membagi alam semesta menjadi dua bagian, langit yang superior dan bumi yang inferior. Begitu juga berbagai peradaban kuno lainnya.

Keyakinan Aristoteles ini tersalurkan kedalam ajaran Kristen dan Islam. Kedua agama besar ini meletakkan figur-figur superior di langit: Tuhan, malaikat, nabi, dan roh. Yesus naik ke langit dan Muhammad singgah di langit. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Bahkan walaupun revolusi Kopernikus meruntuhkan kosmologi Aristoteles, keyakinan bahwa mahluk hidup superior yang ada di planet lain menjadi evolusi dari keyakinan religius ini. Ada penafsiran agama yang meletakkan alien di dalamnya. Bahkan ada agama yang didirikan khusus untuk itu (misalnya Raelian).

Teleskop radio Arecibo

Frank Drake merupakan contoh hal ini, beliau percaya kalau ETI yang cukup maju pastinya hidup abadi. Sama dengan tuhan atau malaikat yang hidup abadi. Carl Sagan bahkan mengenali kesamaan ini sejak awal dan sangat berhati-hati dalam membahasnya.

Jadi mengapa baik ateis maupun teis, baik ulama maupun ilmuan, percaya adanya mahluk langit yang lebih superior, entah itu Tuhan yang duduk di singgasana ataupun malaikat ataupun alien? Terlepas dari segala hiasan istilah teknis dan ilmiah atau ayat-ayat kitab suci agamawan, Jawabannya ada dua menurut Basalla:

1.      Seperti yang dikatakan psikolog Robert Plank, manusia memiliki kebutuhan emosional untuk percaya adanya mahluk fantasi. Lihat saja anak kecil, ia bergelimang imajinasi dan seperti yang ditunjukkan Jean Piaget, secara naluriah adalah animisme. Dan Walt Disney benar-benar mengeksploitasinya dengan segala jenis hewan dan benda yang dapat bicara.

2.      Seperti dikatakan sejarawan sains, Steven Dick, alam semesta Newton meruntuhkan alam semesta religius. Walau begitu, alam semesta Newton jauh lebih luas dan penuh kekosongan. Keluasan dan kekosongan ini diisi oleh sains modern dengan alien dan ETI. Disini mereka memenuhi kebutuhan  kita tentang kepastian keberlangsungan hidup evolusioner (naluriah). Dalam alam semesta agama, saat menghadapi masalah, orang bisa mengharapkan berkah dari Tuhan atau malapetaka datang bagi musuh. Dalam semesta Newton, seperti dijelaskan Carl Sagan , para ETI dapat memecahkan masalah besar kita di dunia modern. Teknologi mereka akan membantu kita mengatasi ancaman perang nuklir sesama kita atau masalah polusi lingkungan.

Sebagai pemikir kritis, Basalla memang sangat tajam dalam membedah sains. Ia mengkritik aspek antropomorfisme dalam sains SETI. Antropomorfisme adalah anggapan kalau alien memiliki sifat seperti kita juga, manusia. Antropomorfisme dalam agama juga terlihat jelas dengan kesamaan sifat antara manusia dan Tuhan, tentu saja dengan memberi kata Maha di depan sifat tersebut agar terlihat “tidak sama”.

Sagan sejak lama sudah mendeteksi adanya antropomorfisme ini. Ia mengenali kalau para ilmuan SETI memakai oksigen, karbon, suhu dan sebagainya untuk indikator keberadaan alien, padahal parameter-parameter ini bisa jadi antropomorfisme. Apa masalahnya alien yang bernapas dengan, katakanlah metana, seperti di Titan? Star Trek, Avatar dan Star Wars juga menunjukkan betapa kuatnya antropomorfisme itu. Alien berujud sedikit berbeda dari manusia, sedikit saja perbedaannya. Basalla membedah lebih dalam lagi. Menurutnya antropomorfisme itu tercermin pula dalam  keyakinan kalau ETI akan berkomunikasi dengan kita lewat sinyal radio, kalau ETI akan berbentuk sedikit banyak seperti kita, dan kalau mereka adalah mahluk sosial yang hidup dalam peradaban. Antropomorfisme demikian tidak punya basis dalam realitas. Dan sekarang para ilmuan bahkan telah menemukan kalau hukum alam berbeda di beberapa tempat di alam semesta ini.

George Basalla bahkan mengatakan, kita bahkan tidak dapat berkomunikasi dengan kecerdasan lain di bumi seperti kera dan lumba-lumba, kenapa berharap kalau kita bisa memecahkan pesan sandi yang dikirim oleh ETI yang jauh lebih superior dari kita?

Tentu saja, seperti kata Shermer , semua spekulasi ini akan terjawab oleh sains hanya bila kita memang berhasil melakukan kontak dengan kecerdasan luar bumi. Jadi demi semangat inkuiri ilmiah, pencarian harus terus dilanjutkan.

Referensi
  1. Basalla, G. 2005. Civilized Life in the Universe. Scientists on Intelligent Extraterrestrials. Oxford University Press
  2. Carroll, S. M. 2003. Why (Almost All) Cosmologists are Atheists. Faith and Philosophy 22(5), pp. 622-640
  3. Dawkins, R. 2008. The God Delusion. Mariner Books
  4. Dick, S.J. 1996. The Biological Universe: The Twentieth Century Extraterrestrial Life Debate and the Limits of Science. Cambridge University Press
  5. Drake, F., Sobel, D. 1992. Is Anyone Out There? New York: Delacorte
  6. Gilhus, S. 2006. Animals, Gods And Humans. Routledge
  7. Plank, Robert. 1968. The Emotional Significance of Imaginary Beings. Springfield: Charles C. Thomas.
  8. Shermer, M. 2001. The Borderlands of Science. New York: Oxford University Press.
  9. Shermer, M. 2006.  Deities for Atheists Science 3 March 2006; 311 (5765): 1244
  10. Swift, D. 1990. SETI Pioneers: Scientists Talk About Their Search for Extraterrestrial Intelligence. Tucson: University of Arizona Press
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.