Radikal organik dan teori struktur kimia
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Sabtu, 11 September 2010 - Masalah struktur kimia dan elektrokimia akhirnya terpecahkan lewat perkembangan kimia organik.
Ahli kimia organik pertama di masa dulu adalah kimiawan jerman, Justus van Liebig dan kimiawan Perancis, Jean Baptiste Andre Dumas. Tahun 1830, Liebig menemukan sebuah alat yang membuat analisa organik menjadi cepat, memuaskan dan teliti, dan lembaga laboratoriumnya di Universitas Giessen di Hesse yang kecil menjadi sekolah kimia paling terkenal di dunia. Liebig mengajar sejumlah besar ahli kimia, dan mahasiswanya membantu dalam program penelitiannya. Ia merupakan tokoh terdepan dalam kemunculan universitas penelitian dan gagasan kelompok penelitian. Sebagai profesor di Giessen, dan kemudian di Universitas Munich, ia menekankan penerapan praktis ilmu kimia, khususnya untuk fisiologi, pertanian dan produk konsumsi. Dumas memiliki pengaruh yang sama di Perancis, mengajar mahasiswa dan melakukan penelitian di laboratorium pribadi di Paris.
Baik Liebig maupun Dumas pada awalnya menerima skema Berzelian dan mencoba memahami molekul organik sebagai kumpulan radikal yang tidak dikenal dan disatukan secara elektrokimia. Kimiawan Perancis yang lebih muda, Auguste Laurent dan Charles Gerhardt mempelajari reaksi substitusi Klor dan meragukan model mereka. Setelah tahun 1840 Liebig dan Dumas berkiblat pada positivisme. Di tahun 1852, mantan asisten pasca doktoralnya dari Inggris, Edward Frankland, menemukan keberaturan dalam kapasitas penyatuan atom logam dan semi logam tertentu. Di saat yang sama, dua bekas mahasiswa Liebig dan Dumas, Alexander Williamson di London dan Charles Adolphe Wurtz di Paris, secara independen mendekati gagasan yang sama dari arah berbeda. Menggunakan sistem berat atom dan rumus yang dikembangkan oleh Gerhardt dan Laurent – versi modifikasi dari sistem Berzelius yang menggunakan gagasan Avogadro lebih konsisten – mereka mengajukan kalau atom oksigen dapat dikombinasikan dengan dua atom lain yang lebih sederhana, seperti hidrogen, atau dengan dua radikal organik dan kalau atom nitrogen dapat mengikat dengan ketiganya. Inilah awal dari konsep valensi.
Tahun 1858, teoritikus Jerman yang masih muda, August Kekule memperluas konsep ini pada karbon, bukan hanya mengajukan kalau atom karbon adalah tetravalen, namun juga menambahkan gagasan kalau mereka dapat berikatan satu sama lain membentuk rantai, menjadi kerangka molekul dimana atom lain dapat menempel. Teori struktur kimia Kekule memperjelas komposisi ratusan senyawa organik dan menjadi panduan bagi sintesis ribuan senyawa organik lainnya. Atom karbon berantai dikembangkan juga oleh kimiawan Skotlandia secara independen, Archibald Scott Couper. Teori ini mengalami perluasan dramatis saat Kekule berhasil menerapkannya pada senyawa aromatik (setelah 1865) dan setelah Jacobus Henricus van’t Hoff dari Belanda dan Joseph Le Bel dari Perancis secara independen mulai mempelajari struktur molekul dalam tiga dimensi – yang kemudian disebut stereokimia.
Referensi
1. Eissen, A., Laderman, G. 2006. Science, Religion, And Society: An Encyclopedia of History, Culture, And Controversy. M.E. Sharpe
2. Leidler, K. 1998. To Light Such a Candle: Chapters in the History of Science and Technology. Oxford University Press
3. Moser, D. 2004. The Age of Synthesis: 1800-1895. Facts on File
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah



